Mencicipi YIA

JT-257, Padang-Jakarta (CGK) 10.30-12.15

Pesawat perlahan meninggalkan bergerak menuju landas pacu. Usai demo pemakaian alat-alat keselamatan, terdengar aba-aba dari kokpit meminta pramugari bersiap untuk lepas landas.

Bismillah, semoga penerbangan ini diberi keselamatan. Selamat tinggal kota Padang, selama tinggal ranah Minang, selamat tinggal pulau Andalas. 

Dari balik jendela, pesawat terbang di atas pantai Katapiang, ujung barat pulau Andalas yang bertemu dengan perairan samudera Hindia. Airnya menghijau, indah permai.

Awan putih tebal segera menutupi pandangan. Mencoba mengaburkan keinginan untuk tinggal lebih lama di Andalas. Saya menarik nafas perlahan. Tuhan, izinkan aku perlahan-lahan melepas rasa kepergian ini.

Asa bersua dengan gunung-gunung tinggi penunggu ranah Minang sirna. Awan tebal bulan November tak mengizinkan saya berjumpa mereka. Saya pun tak bisa berjumpa dengan puncak Kerinci, yang saya lihat balik kursi A pada penerbangan Padang ke Jakarta beberapa tahun silam.

“Kerinci” suara lantang dari penumpang di kursi F kepada teman di sampingnya. Saya menoleh ke samping.

Saya terima keadaan ini. Bisa jadi ini cara Tuhan untuk mengajak saya kembali lagi menikmati Sumatera pada kesempatan lain. Amien.

Pesawat bergerak ke selatan. Awan masih banyak, meski tak setebal tadi. Dari atas tampak sebuah kota dengan dua buah sungai, tertutup awan, lalu tampak jalan aspal panjang dengan bangunan putih dikepung hutan. Ah, itu kota yang saya tinggali dua tahun ini seakan melambaikan perpisahan dari bawah sana, Muara Bungo dan bangunan dengan aspal panjang itu bandara Muara Bungo.

Beberapa saat sesudahnya, tampak dataran cokelat kemerahan dengan alur-alur melingkar menyerupai labirin. Potret kerusakan hutan di Jambi yang tak terbendung lagi.

Sekitar satu setengah jam perjalanan, pesawat bersiap untuk mendarat di Soekarno-Hatta. Cuaca sangat cerah tanpa awan. Indah sekali pulau Seribu tampak dari atas. Pemukiman penduduk yang padat menjadi pemandangan biasa di Jawa, khususnya Jakarta.

***

JT-554 Jakarta-Yogyakarta (YIA) 14.30-15.40

Kami naik pesawat sesuai jadwal keberangkatan semula. Awan tebal kembali menyelimuti pulau Jawa. Tak ada yang bisa saya lihat. Pun dengan gunung-gunung yang menjadi poin menarik dalam penerbangan menuju Jawa Tengah atau Yogyakarta.

Hingga jelang mendarat, awan tebal masih menghiasi langit. Biasanya pemandangan kota Yogyakarta dan Sleman menjadi momen yang ditunggu ketika pesawat mendarat di Yogyakarta (JOG), kini berganti dengan birunya laut selatan Jawa dengan ombaknya yang besar. Bandara baru Yogyakarta (Yogyakarta International Airport) berlokasi di sisi utara pantai Glagah, kab. Kulon Progo. Satu jam perjalanan dari kota Yogyakarta.

Kesan saya mendarat pertama kalinya di YIA adalah bandara ini sangat megah, besar dan modern, sepertinya lebih besar dari bandara Semarang. Saya jadi kangen dengan fasad bandara Adi Sucipto yang bernuansa keraton Yogyakarta.

Masuk ke dalam, pengunjung disambut dengan lantai bermotif batik Kawung dan instalasi kepala pahlawan nasional Pangeran Diponegoro karya seniman Dunrat Angelo dan Lulus Setio Wantono sebagai penghormatan untuk desa Palihan yang wilayahnya kini menjadi bagian dari bandara YIA. Desa Palihan dulunya merupakan salah satu desa basis prajurit perang Pangeran Diponegoro.

Setelah menyerahkan barcode e-Hac, pengunjung disambut dengan relief kehidupan masyarakat pesisir Yogyakarta yang juga menarik perhatian banyak orang untuk berfoto.

Stefanus, kawan sekantor saya telah menunggu di dekat relief. Pesawat saya tiba lebih dulu beberapa menit sebelum pesawat Citilink mendarat.

Di area pengambilan bagasi, terdapat pilar-pilar raksasa berbentuk jamur yang sekilas mengingatkan pada pilar karya Thomas Karsten di Pasar Johar dan Pasar Cinde Palembang. 

Di area kedatangan terdapat instalasi gapura batik Kawung dan gapura Tamansari, lengkap dengan kolam. Gapura berbentuk lengkungan ini disebut plengkung, terinspirasi dari Plengkung Wijilan dan Plengkung Gading di kompleks Keraton Kasultanan Yogyakarta, melambangkan bandara YIA sebagai pintu gerbang provinsi DIY.

Pilar raksasa yang menopang atap masih berbentuk kawung dengan tampilan futuristik.

Rencananya saya akan dijemput adik pakai mobil di bandara, tapi saya mendapat info jika mobilnya mogok di Boyolali. Saya nebeng mobil Stefanus pulang ke rumahnya di Ngento-ento, Sleman. Rumah Stefanus ini katanya dengan studio Gamplong, lokasi syuting film Bumi Manusia. Saya diajak ke Gamplong sebelum ke rumah Stefanus, tetapi saya mau langsung ke rumah Stefanus saja. Adik saya akan menjemput saya di rumah Stefanus. 

Saat ini, transportasi umum dari YIA ke Yogyakarta tersedia bus Damri (Rp 100.000,-), taksi online dan taksi pangkalan. Kereta api dari bandara ke stasiun Wojo belum beroperasi.

Dalam perjalanan dari bandara ke Ngento-ento, saya melewati kota Wates yang merupakan ibukota Kab. Kulon Progo. Patung Nyi Ageng Serang menjadi ikon kota ini.

Sempat lewat depan gedung baru KPP Pratama Wates, kantor baru Stefanus nantinya. Sementara, Stefanus akan berkantor di gedung lama yang masih satu kompleks dengan kanwil DIY.

Di rumah Stefanus, saya disambut seperti keluarga sendiri. Rumah Stefanus kecil, tetapi sangat semarak. Seluruh kakak, saudara dan tetangga Stefanus menyambut gembira kedatangan kami. Satu jam lebih beristirahat di rumah Stefanus, bapak ibu saya datang. Kami berfoto bersama sebelum pamit pulang.

Terimakasih Stefanus dan keluarga besar, sampai jumpa lagi.


16 respons untuk ‘Mencicipi YIA

  1. Penasaran. Saya belum pernah mendarat di bandara Yogyakarta, baik bandara lama maupun yang baru. Semoga dalam waktu dekat bisa merasakan suasana bandara baru (YIA).

    Ada kesedihan ada kegembiran dalam posting ini. Tetap optimis.

  2. Bandara baru YIA memang bagus dan besar banget. Cuma memang PR-nya akses transportasi ke Kota Jogja perlu segera dipercepat kereta bandaranya, menambahi opsi yang sudah ada seperti damri/travel/shuttle. Cuma tetep kerasa jauh ya dari kota Jogja hahaha

  3. Wooh ternyata saya telat sambut selamat datang nggih, per Nov sudah bertugas di kaki Merapi. Mendengar cerita kemegahan YIA kini lengkap oleh foto2 dari Mas Isna.

  4. Wah, saya sudah lama sekali tidak berkunjung ke blog mas Isna. Jadi sekarang sudah tidak bertugas di Sumatera lagi ya. Pindah kemana?
    Pindah kemana pun, saya mendoakan kesuksesan untuk karirnya. Semoga selalu sukses dimana pun penugasannya.

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s