Ragam Kuliner Lokal di Pasar Bedug

Masyarakat Jambi punya tradisi yang hanya dijalankan setahun sekali pada bulan puasa yaitu menggelar pasar bedug. Berupa pasar kaget yang buka mulai bakda Ashar hingga jelang berbuka puasa. Dinamakan pasar bedug karena kegiatan jual beli akan berakhir sat berkumandang bunyi pukulan bedug tanda azan Maghrib sebagai tanda akhir puasa. Meski sekarang tanda berakhirnya puasa tidak…

Di Atas Riak Sungai Tembesi

Perjalanan dari Bangko ke Jangkat adalah perjalanan menghiliri sungai Batang Merangin dan Batang Tembesi. Mereka berdua adalah anak-anak sungai Batang Hari, induk semua sungai di Jambi. Dari Bangko, sungai Batang Merangin tampak saat kita melintasi jembatan Pulau Rengas, kecamatan Bangko Barat. Sedangkan Batang Tembesi tampak di sebelah kiri jalan mulai dari Tiang Pumpung hingga Muara…

Muara Madras, Pagi Itu…

Jambi selama ini hanya mengenal dua kutub pariwisata. Candi Muaro Jambi di sebelah timur kota Jambi sebagai tempat wisata sejarah peninggalan kerajaan Malayu. Kutub kedua yaitu Kerinci, daerah paling barat di Jambi dengan ikon wisata alamnya yaitu Danau Kerinci dan Gunung Kerinci. Kiblat wisata alam di Jambi seakan bergeser dari Kerinci ke Merangin, sejak situs…

Ayo Menari ….

Seni terutama tari bukanlah hal baru buat saya. Waktu kecil saya sering mengamati pakde saya menabuh gamelan. Beliau sering memainkan alat musik tersebut untuk mengiringi tarian kuda lumping. Budhe saya seorang pemain wayang orang. Kedua orang tua saya tak pernah menyuruh atau melarang saya berkesenian. Sehingga, saya bingung jika ditanyai hobi menari menurun dari siapa….

Perkara Makan dan Dapur di Jangkat

Tak lengkap menceritakan Jangkat tanpa membahas kulinernya. Selain udara sejuk khas pegunungan, alam yang masih asri, Jangkat ini sepi dan jauh dari mana-mana. Kuliner otentik Jangkat tak ada di rumah makan Padang yang jumlanya hanya 2 biji di Jangkat. Melainkan pengalaman kuliner langsung dari dapur orang Jangkat. 0 Apa yang menarik dari dapur di Jangkat?…

Berbasah-basah di Air Terjun Dukun Batuah

Udara dingin pegunungan menyusup tatkala saya membuka selimut. Saya buka kaos kaki, lantas beranjak ke lantai bawah untuk mengambil air wudhu. Langit masih gelap. Teman-teman saya masih terlelap. Lantai rumah panggung dari kayu menimbulkan bunyi tiap saya berjalan. Nyesss, air sedingin es membasahi badan. Tak kuasa melawan dingin, usai melaksanakan kewajiban saya kembali ke balik…