Trip Report: Jambi-Muara Bungo Jalur Darat

Jambi: Di Antara Hutan dan Sungai

Sebuah joke dilontarkan seorang kawan begitu tahu saya akan ditugaskan  di Jambi beberapa tahun silam. “Di Jambi semua orang wajib pakai BH!” Hah, masa iya cowo pakai bh? Saat itu saya tak punya gambaran Jambi seperti apa. Satu yang saya tahu dari acara tv Etnic Runaway,  di Jambi ada suku Anak Dalam.

Di kemudian hari ternyata BH itu adalah kode plat mobil di Jambi. Orang Jambi suka berkelakar BH singkatan dari Banyak Hutan atau Batang Hari. Hutan di Jambi memang masih banyak, tapi sebagian sudah dibabat jadi kebun sawit, karet dan kopi. Menurut saya Jambi lebih cocok disebut ‘banyak sungai’. 

Hampir semua kota di Jambi dibangun di tepi sungai. Semua sungai tersebut bermuara di Batang Hari. Dari namanya bisa ditebak kota-kota itu berhubungan dengan sungai. Seperti Kuala Tungkal, Muara Sabak, Muara Bulian, Muara Tembesi, Muara Tebo, dan Muara Bungo. Satu-satunya anomali mungkin Sungai Penuh yang justru terletak di pegunungan. 

Bangko ke Muara Bungo

Di Jambi saya pernah tinggal beberapa tahun di Bangko, dusun kota kecil yang berada di pertemuan sungai Batang Merangin dan Batang Mesumai. Saya lantas pindah ke Muara Bungo yang juga terletak di pertemuan dua sungai:  Batang Bungo dengan Batang Tebo.

Dari Jambi, baik menuju Bangko maupun Muara Bungo sama-sama ditempuh selama 6 jam. Dari arah Jambi, kota Muara Tembesi merupakan persimpangan. Jika belok kiri menuju ke Bangko. Sedangkan jika belok kanan menuju ke Muara Bungo.

Jambi ke Muara Bungo lewat Darat 

Awal ditugaskan di Jambi, untuk menuju Bangko saya heran hanya ada angkutan umum berupa mobil plat hitam yang disebut travel. Tak ada bus. Tambah heran melihat lebih banyak semak dan kebun ketimbang rumah penduduk. Inilah rupanya wajah Sumatera, pulau yang jauh lebih sepi dari Jawa.

Di Sumatera saya menemukan ‘hijau’ adalah hutan dan perkebunan rakyat. ‘Hijau’ kalau di Jawa bermakna sawah dan ladang. Kadang saya merindukan keramaian kota, lampu merah, rumah-rumah. Lama-lama saya terbiasa hanya melihat tanaman hijau dari balik jendela. Malahan, karena jalan sangat sepi dan lampu merah hanya ada di kota kabupaten, hampir tak ada macet, kecuali perbaikan jalan atau keramaian.


– hanya ada aku, sawit dan karet

Saya pernah menulis pengalaman naik pesawat dari Muara Bungo ke Jambi. Kali ini saya akan menceritakan tentang perjalanan darat naik travel dari Jambi ke Muara Bungo. Sorry for the long intro… 🙂 .

Jambi – Muara Tembesi

Dari Jambi ke Muara Bungo normal ditempuh selama 6 jam.  Ada beberapa PO yang melayani rute ini. Saya memilih travel Family Raya. Saya dijemput dari hotel jam 9 lebih sedikit. Semua penumpang turun sebentar di loket di kawasan Simpang Mayang untuk membayar tiket lantas naik lagi ke mobil. Saya duduk di kursi no.1 di deretan paling depan di samping sopir.

Lalu lintas masih cukup padat hingga memasuki batas kota Jambi – Muaro Jambi.


batas kota Jambi-Muaro Jambi sebelum dibongkar

Kepadatan sedikit terurai memasuki simpang arah ke Riau hingga kampus Universitas Jambi. Awal merantau ke Jambi, saya ingin sekali berfoto di gerbang masuk Unja yang terdapat patung angsa, ikon kampus sekaligus satwa identitas kota Jambi. Eh, rupanya di Muara Bungo patung angsanya jauh lebih besar dan bagus.

Selepas kampus Unja, ada persimpangan. Jika lurus langsung ke Muara Bulian. Belok kiri menuju Muara Bulian tetapi lewat jalur alternatif yang disebut jalan NESS. Dulu travel sering lewat jalan NESS karena lebih sepi dan steril dari truk sawit dan batubara. Sekarang travel terkadang lewat jalur utama tergantung kepadatan lalu lintas. Mulai dari sini rumah-rumah mulai jarang. Kebun sawit dan karet mulai menghiasi kiri dan kanan jalan. Supir menambah kecepatan mobil. Saya seperti sedang naik bus bersama “supir Medan”.


gerbang kabupaten Batanghari

Muara Bulian adalah ibukota kabupaten Batanghari. Dulu salah satu kabupaten terluas di Jambi  meliputi wilayah Batanghari, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Barat dan Timur. Lampu merah di Muara Bulian di dekat tugu Tapa Malenggang dan tugu pejuang taman PKK. Tapa Malenggang ini adalah ikan khas Muara Bulian sehingga dijadikan nama Festival Budaya tahunan.

Dari tugu Tapah Malenggang ini jika belok kiri akan tiba di kota kecil bernama Bajubang, terus hingga Palembang. Bajubang adalah kota kecil dimana untuk pertama kalinya dilakukan pengeboran minyak di bumi Jambi tahun 1920. Bajubang adalah etalase sejarah perminyakan di Jambi tiga zaman: Belanda, Jepang dan kemerdekaan. Sayangnya kota ini telah ditinggalkan seiring menurunnya produksi minyak bumi. Saat ini banyak bangunan bersejarah di Bajubang yang terbengkalai. Ah, saya punya ‘utang’ untuk menjelajahi Bajubang suatu saat nanti sebelum semua bangunan itu tinggal cerita.

Melintasi jembatan di Muara Bulian ini, di sis kiri terdapat jembatan lengkung yang mirip dengan jembatan Beatrix di Sarolangun, Pamenang dan VII Koto.


Jembatan Lama Muara Bulian (kiri)

Kota selanjutnya setelah Muara Bulian adalah Muara Tembesi. Kota ini menjadi pertemuan dua jalur utama di Jambi. Jalur kiri menuju Sarolangun, Bangko dan Lubuk Linggau. Jalur kanan adalah jalan menuju Muara Tebo, Muara Bungo dan Padang.

Secara geografis, sesuai namanya kota ini merupakan muara sungai Batang Tembesi yang bertemu dengan sungai Batang Hari. Kota ini tak kalah bersejarah dengan Bajubang. Belanda membangun tangsi di pusat kota Muara Tembesi untuk mengawasi gerak-gerik sultan Thaha yang memindahkan pusat pemerintahan secara darurat ke Muara Tebo. Ah, selain Bajubang, saya juga punya ‘utang’ untuk menjelajahi kota tua Muara Tembesi suatu saat nanti.


taman Remaja Muara Tembesi

Muara Tembesi-Muara Tebo

Sedikit menjauh dari pusat kota Muara Tembesi, saya melintasi jembatan besi nan panjang dimana di bawah adalah Batanghari, sungai terpanjang di pulau Sumatera.

Cekrek, cekrek, cekrek. Supir di samping saya melirik saya yang sibuk memotret.

Mulai dari jembatan Muara Tembesi hingga Muara Tebo pemandangan berubah. Sebelah kiri saya adalah sungai Batanghari. Dari udara, Batanghari ibarat naga besar yang tubuhnya meliuk-liuk secara zig-zag. Tak heran jalanan arah ke Muara Tebo ini dibuat berkelok-kelok mengikuti alur sungai.

Mobil berhenti untuk makan siang di Simpang Sungai Rengas, masuk wilayah kecamatan Maro Sebo Ulu. Supir dan seluruh penumpang turun. Ada yang langsung makan, ada yang ke toilet. Sebagian memilih duduk-duduk memesan kopi sambil merokok.  

 

Saya tak berselera untuk makan berat meski sudah masuk jam makan siang. Usai ibadah sholat Dhuhur, saya memilih membeli pop mie hangat, gorengan dan sebotol teh manis.

Melihat supir kembali ke mobil, tanpa dikomando seluruh penumpang masuk mobil. Perjalanan dilanjutkan setelah istirahat sekitar 30 menit.

Saya sempat melihat satu keluarga suku Anak Dalam mengendarai sepeda motor bersama seekor monyet. Mungkin peliharaan mereka. Suku Anak Dalam atau suku Rimba mudah dikenali dari penampilan dan fisik. Di Bangko, saya beberapa kali melihat mereka di pasar bahkan sempat melihat salah seorang pria suku Rimba berteduh di pepohonan depan kantor.

Bangunan gapura batas antara kabupaten Batanghari dan Tebo tak terlalu jelas. Agak jauh dari tepi jalan dan sedikit tertutup rimbunnya pohon sawit. Saya tak sempat memotret. Penanda saya masuk kabupaten Tebo adalah ucapan selamat datang di wilayah hukum Polres Tebo.

Masuk ke Tebo saya melihat papan nama obyek wisata Kebun Raya Bukit Sari. Anehnya, tak tampak keramaian seperti pengunjung, parkir atau pedagang di dekat pintu masuk. Padahal saat itu hari Minggu. Entah sepi karena sudah tidak diminati atau entah kenapa sebabnya.

Kota pertama di Tebo yang saya lewati adalah Sungai Bengkal yang merupakan pusat keramaian kecamatan Tebo Ilir. Di kota ini terdapat mata air panas alami yang sudah dikembangkan menjadi obyek wisata. Selepas Sungai Bengkal, jalanan kembali sepi. Hanya kebun sawit di kiri kanan jalan.

Muara Tebo – Muara Bungo

Tugu taman PKK, jembatan Batang Tebo yang panjang dan dibawahnya mengalir sungai Batanghari menjadi penanda masuk kota Muara Tebo, ibukota kabupaten Tebo. Artinya, sejam lagi saya akan tiba di Muara Bungo.

Muara Tebo juga merupakan kota tua di Jambi selain Bajubang dan Muara Tembesi. Sultan Thaha, pahlawan nasional Jambi yang gugur tahun 1904 dimakamkan di kota ini. Sayang saya belum sempat berziarah ke makam sang pahlawan, karena makamnya berada di kawasan kota tua Muara Tebo sedangkan mobil travel tak melewati kawasan itu.

Di sebuah persimpangan saya melihat patung Sultan Thaha. Lucunya, badan sang sultan tampak kecil dibandingkan dengan kaki monumen yang besar.

Pusat kota Muara Tebo tak terlalu ramai. Masih kalah dengan Rimbo Bujang yang merupakan daerah eks transmigrasi era Orde Baru. Saat pemekaran kabupaten Bungo Tebo tahun 1999, Muara Tebo dipilih sebagai ibukota kabupaten karena menjadi ibukota kawedanan Tebo sejak zaman kolonial.  

Selain tugu Sultan Thaha, saya melihat masjid agung Al Ittihad Muara Tebo, RSUD Sultan Thaha dan kompleks kantor bupati yang berada agak jauh dari pusat kota Muara Tebo. Di Muara Tebo masih banyak lahan kosong.

Sebuah tugu sederhana berwarna putih dan sebuah jembatan menjadi penanda batas wilayah Bungo dan Tebo. Saya pernah melihat di yutub, di atas gerbang ini dulu terdapat atap rumah khas Jambi. Sekarang kondisinya menyedihkan seperti ini.

Sebelum masuk kota Muara Bungo, saya melihat pabrik Aguen, perusahaan air mineral lokal Bungo. Saya pikir travel akan belok ke arah Tanjung Menanti baru ke rumah saya di kawasan Cadika. Rupanya, sesuai aturan travel akan melewati jalan lama yaitu memutar lewat terminal, jalan lintas, singgah di loket baru ke Cadika. Dengan demikian saya menjadi penumpang terakhir yang turun dari travel.

Supir travel mengantar saya tepat di depan rumah. Alhamdullilah, setelah 6 jam ….

Iklan

10 Comments Add yours

  1. Bara Anggara berkata:

    wah,, beberapa kali lewat jalur ini,, 2 minggu lagi insha Allah lewat jalur ini lagi.. kuy ketemu di Jambi, atau udah mudik?

    -Traveler Paruh Waktu

    1. Avant Garde berkata:

      insyaaalloh masih Bara, monggo silakan mampir 😀

  2. bersapedahan berkata:

    saya sih suka jalan darat seperti ini .., serasa bener2 berpetualang.
    punya impian melakukan trans sumatera naik mobil sendiri tapi belum kesampain .. 🙂

    1. Avant Garde berkata:

      hayuk pak 🙂 mungkin bisa dicicil ke provinsi yg dekat dulu

  3. Firsty Chrysant berkata:

    kereen amat catper-nyaa…Lengkaaap… 🙂

    1. Avant Garde berkata:

      terimakasih uni 🙂

  4. Dan aku serasa napak tilas perjalanan ke Bangko, hahaha. Di Bajubang sendiri aku sering nginap pak, karena ada teman kantor yg rumahnya di komplek pertamina sana 🙂

    1. Avant Garde berkata:

      dulu ke bangko lewat bajubang/tempino ya mba.. sekarang travel biasanya lewat linggau terus sekayu mba, katanya jalur tempino rusak..
      kenalin dong sama temannya mba wkwkw

  5. Justin Larissa berkata:

    Waw ini seperti baca Wikipedia. Lengkap banget lapiran perjalanan daratnya. Nyatet kah Mas pas jalan? Bisa ingat semua gini. Terus tadi aku nyariin mana monyet yg di suku anak dalam, ternyata pegangan kepalanya hahahaha kocak paraaah!

    1. Avant Garde berkata:

      halo kak, beberapa ada yang dari ingatan, beberapa saya cari di gugel hehehe… salam kenal yak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s