Makan Siang di Lubuk Linggau

“Mas, cuma ada salad sama kentang rebus. Kalau masih lapar ada Indomie”.  Saya duduk di kursi makan melihat pak Tomi menyiapkan makan malam di ruang makan rumah dinas KP2KP Sarolangun.
“Kejunya dari Belanda. Dari adikku yang kuliah di sana.” tambah pak Tomi sambil memarut keju edam ke atas lasagna dan salad. Bau khas keju yang tak pernah saya cium sebelumnya menguar ke dalam hidung. 

Saya cuma bisa membayangkan bagaimana citarasa keju asli londo itu di lidah. Hanya dalam beberapa menit, santapan makan malam yang terdiri dari kentang rebus, salad sayur dan lasagna sudah berpindah ke perut.

Perjalanan tiga jam lebih motoran sendirian dari Muara Bungo ke Sarolangun membuat saya cukup lelah.

Tak ada acara agenda khusus saya ke Sarolangun kali ini. Hanya sekedar melepas penat setelah beberapa bulan #DiRumahAja.

Usai berbincang sebentar, pak Tomi tidur. Saya tinggalkan rumah dinas menuju Doctor’s Coffee, kafe paling gress di Sarolangun. Lokasinya di tepi jalan lintas arah Lubuk Linggau sebelum SPBU Tanjung Rambai. Tiap minggu ada live music disini.

Dengan hadirnya Doctor’s Coffee, kini ada 3 kedai kopi di Sarolangun setelah Legend’s Coffee dan Callories.

Saya pesan Pina Colada dan tempe mendoan. Agak surprised di kota kecil ini ada Pina Colada yang aslinya cocktail nanas dicampur krim santan ala Puerto Rico. Beberapa menit kemudian, rupanya Pina Colada pesanan saya sedang kosong. Gantinya saya memesan jus sayur sawi campur nanas madu lemon serta mendoan. Mendoan yang saya terima terlalu garing. Sebelumnya saya sudah mewanti-wanti agar tidak digoreng kering.

Sabtu pagi, pak Tomi masak nasi goreng. Beliau mengajak saya pergi ke Lubuk Linggau sekedar menikmati “udara luar”. Hampir sama dengan saya, beliau sudah berbulan-bulan tidak kemana-mana sejak pandemi melanda. Sejauh ini, ini akan menjadi makan siang terjauh saya. Di aplikasi peta daring, jarak dari Sarolangun ke Lubuk Linggau adalah 134 km dan ditempuh setidaknya selama tiga jam.

Rencananya, kami akan ke Bukit Sulap dan Air Terjun Temam, dua tempat wisata alam di Lubuk Linggau. Saya usulkan untuk makan siang di KFC. Sudah lama tidak makan ayam KFC hahaha.

Tiba-tiba pak Tomi ingat ada janji untuk bekam. Kebetulan juga banyu langit turun dari pagi hingga siang. Jadilah kami hanya akan makan siang di Lubuk Linggau. Kami berangkat meninggalkan Sarolangun jam 11 siang. Agak sungkan juga sebenarnya saya disopiri seorang kepala kantor hahaha.

Melewati Singkut, kecamatan tetangga Sarolangun kini makin berkembang. Ada 2 waterboom dan 1 taman bunga selfie di daerah ini. 

Masuk wilayah Musi Rawas Utara, yang masuk wilayah Sumatera Selatan, sekilas tak ada yang berubah di daerah ini. Masih sepi. Kiri dan kanan jalan didominasi kebun kelapa sawit sebagaimana jamak ditemui di Sumatera. Jika di Jambi rumah identik dengan atap seng, masuk Sumsel atap genteng mendominasi. Atap-atap kantor pemerintah menyerupai joglo yang disebut limas, rumah adat Sumatera Selatan.

Bedanya, kini jalanan sudah bagus. Kata pak Tomi, sejak dimekarkan dari Musi Rawas, jalan-jalan kampung semakin bagus. Tak ada lagi preman yang berkeliaran di tepi jalan minta ‘uang keamanan’ dari sopir truk.

Hanya saja, begal motor masih suka terdengar. Katanya lagi, jika melintas di daerah ini jangan memakai helm dan jaket. Lucunya, beberapa kilometer habis gapura provinsi Sumatera Selatan ini baru terdapat gapura provinsi Jambi. Anehnya lagi, beberapa penduduk habis gapura Sumsel ini tinggal di wilayah Sumsel tetapi memegang KTP Sarolangun (Jambi).


gapura batas Sarolangun (Jambi) dan Musi Rawas Utara (Sumsel)

Soal jalan, yang unik di Musi Rawas Utara, banyak sekali saya jumpai rambu petunjuk ke desa, rambu batas minimum dan batas maksimal kecepatan kendaraan (seperti di jalan tol) dan rambu hewan ternak.

Muara Rupit, ibukota kabupaten baru ini tidak terlalu besar. Lebih kecil dari Sarolangun. Hanya sekitar lima menit melintas kami sudah lewat dari Rupit.

Hampir sama dengan Sarolangun, Rupit punya jembatan mirip Beatrix di Sarolangun. Nama di internet adalah jembatan lama Rupit atau jerambah lamo atau jembatan pelangi. Bedanya, jembatan Beatrix di Sarolangun memiliki 4 busur dan jembatan Rupit memiliki 5 busur dari awalnya 6 busur. Tak banyak informasi yang bisa saya gali dari dunia maya tentang jembatan peninggalan kolonial ini.

Pada awalnya, jembatan ini memiliki 6 lengkungan. Namun sekitar tahun 1943, tentara PETA membombardir jembatan tersebut agar tentara Jepang tidak bisa menyerang sehingga lengkungan di jembatan ini tersisa 5 buah.

 
Jembatan Muara Rupit, ikon Musi Rawas Utara

Habis Musi Rawas Utara, kamis masuk wilayah kabupaten induknya: Musi Rawas.

Tiba di Lubuk Linggau, kami disambut gelap. Sebentar lagi hujan akan kembali turun. 

Lubuk Linggau juga pemekaran dari Musi Rawas. Merupakan kota terbesar kedua di Sumatera Selatan. Kota ini punya stasiun kereta api dan bandara domestik dengan rute ke Palembang dan Jakarta. Lubuk Linggau juga punya 1 mall: Lippo dan KFC. Saya ingat pertamakali kerja di Bangko, rela jauh-jauh ke Lubuk Linggau demi sepotong ayam KFC dan nasi panas hehe. Dari Bangko lebih dekat ke Lubuk Linggau (4 jam) ketimbang ke Jambi (6 jam).


atap rumah limas gapura selamat datang Kota Lubuk Linggau

Kami singgah di rumah makan “Nasi Bakar 88”. Rumah makan ini salah satu favorit pak Tomi sekaligus salah satu restoran vegetarian di Lubuk Linggau. Saya memesan nasi bakar ikan teri dan es kacang merah. Pak Tomi memesan jamur goreng, pempek dan sate kambing. Jika biasanya masakan vegetarian dibuat dari jamur, sate tiruan ini dibuat dari biji kedelai. Rasanya mirip dengan daging betulan.

Sesuai protokol covid, 1 meja hanya diisi 2 pengunjung. Meja lesehan di bawah dekat sungai tidak dibuka. Pramusaji dan kasir mengenakan masker atau face shield. Sayangnya, tidak ada teguran bagi pengunjung yang tidak bermasker. 

Kenyang makan nasi bakar, kami batal bungkus ayam di KFC karena pulangnya tidak lewat KFC melainkan lewat jalan lingkar yang tembus ke terminal Petanang.

Lubuk Linggau punya  3 terminal bus. Terminal Petanang ke arah Jambi, terminal Watas ke arah Bengkulu dan terminal Simpang Periuk ke arah Palembang. Dari simpang Periuk ke terminal Petanang ini jalannya lebih sepi, banyak sawah. Rumah makan mang Engking berlokasi di kawasan ini.

Kembali ke arah Sarolangun, terdapat sebuah daerah di Musi Rawas yang bernama hampir mirip: Surulangun. Pada masa kolonial, Surulangun merupakan ibukota onder-afdeling Musi Rawas sebelum dipindahkan ke Lubuk Linggau.  

  

Minggu pagi, sebelum pulang ke Muara Bungo tak ada salahnya menziarahi Beatrix, jembatan peninggalan kolonial kota Sarolangun. Tak ada bosan mengunjungi jembatan cantik berulang kali. 

Lihat juga: sejarah Jembatan Beatrix

Terdapat dua sisi di tepi sungai Batang Tembesi tempat menyaksikan jembatan Beatrix. Ancol di sekitar Pasar Bawah Sarolangun dan Taman Tepian Cik Minah di kampung Sri Pelayang.

Dari dua tempat ini panorama sungai Batang Tembesi, jembatan Beatrix dan jembatan Sarolangun bisa diamati dengan jelas.


Jembatan Beatrix


Jembatan Sarolangun

Sebelum pulang saya mampir ke penjual lemang dan roti kelapa, oleh-oleh khas Sarolangun. Rupanya kedua tempat ini belum buka sebelum jam 11 siang.

Sarapan siomay di depan SPBU sebelum meninggalkan Sarolangun. Di desa Sungai Abang, berhenti dulu di rambu daerah rawan bencana kebakaran lahan.

Berhenti lagi di gapura batas kabupaten Merangin dan Sarolangun. Baru ngeh di samping gapura Kabupaten Sarolangun terdapat sebuah makam.

 


Si Merah di perbatasan Merangin-Sarolangun

Sebelum masuk wilayah Bangko, isi minyak dulu di Pamenang. Hari Jumat dalam perjalanan ke Sarolangun, saya juga mengisi BBM di Pamenang.

Saya berencana singgah ke rumah kawan sekaligus makan siang di Bangko.

Tugu Pedang, ikon baru kota Bangko sudah selesai dibangun. Bangunan ini berada tepat di titik 0 kilometer kota Bangko, dekat simpang ke arah rumah dinas bupati. Yang agak cukup membuat geli, pedangnya terlihat mungil jika dibandingkan dengan kaki dan badan tugu. Lebih mirip jarum ketimbang sebilah pedang.

Singgah di rumah Dito, owner Bociko (Baso Aci Bangko) sekaligus bertemu dengan Mahdi, kawan lama di Bangko. Basonya belum siap dikemas sehingga saya dan Mahdi beranjak buat nongkrong di Zara, salah satu kedai kopi yang lumayan ngetop di Bangko di sebelah Polres. Dito menyusul jika sudah siap mengemas baso.


El, putra semata wayang Dito yang comel

Tak hanya Zara, beberapa kedai kopi yang kami datangi belum buka semua. Beda dengan di Muara Bungo atau Rimbo Bujang dimana kedai kopi buka mulai siang hari.

Batal ngopi, kami beralih ke Aroma, salah satu rumah makan favorit saya jaman bekerja di Bangko. Disini, pengunjung yang datang bisa memilih makan apa sesuai daftar menu yang ditempel di dinding: ayam, ikan, lele, belut dan lain-lain. Setelah menentukan menu, ibu-ibu pemilik rumah makan baru akan memasak sesuai pesanan.

Hasilnya, masakan dihidangkan masih panas dan fresh. Favorit saya di sini adalah belut goreng balado, telur ikan goreng balado dan tumis kangkung ala Padang.


belut balado


tumis kangkung ala Padang


daftar menu

Usai makan, Dito datang membawa baso aci pesanan saya. Terimakasih Mahdi dan Dito buat meet up-nya. Saatnya kembali ke Muara Bungo. Perjalanan masih cukup panjang. Masih sekitar 78 kilometer lagi.



Masjid yang sedang dibangun di sekitar Rantau Panjang


Sekolah Laskar Pelangi, tidak ada kaitan dengan film Laskar Pelangi


Gapura batas Kabupaten Merangin dan Bungo

28 Comments Add yours

  1. Flowers are important elements of every day life.

  2. bersapedahan berkata:

    tiap daerah punya keunikan dan cerita masing2 ya … menambah “kaya”
    rambu kebakaran … baru kali ini saya lihat

    1. Avant Garde berkata:

      kemaren ada rambu daerah rawan banjir dekat jembatan mas, tp gak sempat saya foto, udah kelewat jauh 🙂

  3. baca tulisan mas berasa mengikuti perjalanan mas dan ingat rumah ku dulu di sumatera. gapura nya dan suasananya. trus kata comel, ya ampun aku jadi mengenang masa lalu dech hiksss… rindu masa-masa itu.

    1. Avant Garde berkata:

      Berarti kamu comel juga ya Del hehe…
      Sumatera ini khas yah… kiri kanan sawit/karet, sepi, terus rumahnya jarang-jarang

      1. waktu kecil sich comel gede mah amit2 wkwkwk…

  4. Ikhwan berkata:

    Begitu baca, jadi punya pertanyaan yang sama denga mas Aryanto di komen atas. Berarti kalau pake jaket dan helm dianggap warga luar ya. Padahal kan helm sama jaket dipake buat keselamatan, tapi ternyata sama begal bisa jadi kode juga buat menentukan “sasaran” hehehe..

    1. Avant Garde berkata:

      Betul uda, tidak ada opsi lain selain kendaraan roda 4 (pribadi/travel) bagi pengendara luar daerah kalau lewat wilayah musi rawas utara, udah terkenal banget rawan begal disana, siang bolong pun

      1. Ikhwan berkata:

        Ngeri-ngeri sedap juga ya..

  5. aristara19 berkata:

    Wah, mantap. Salfok dengan rambu penunjuk jalan di atas foto tugu pedang. Itu desainnya aneh banget hahaha…

    1. Avant Garde berkata:

      Iyo mas, suruh balek ke sarolangun mas hehe…

      1. aristara19 berkata:

        Itu desain dari mana ya? Itu rambu-rambu baru yang dipasang serempak di beberapa tempat lain di Bangko, dan lainnya normal-normal saja desainnya.

        1. Avant Garde berkata:

          Bukan buatan dishub merangin mas? Kalo provinsi biasanya udah standar… Rambu di depan kpp apa masih ada “SLTPN 3 Bangko” mas?

          1. aristara19 berkata:

            Sepertinya iya mas, buatan dishub Merangin. Tapi masa sih mereka tidak paham bahwa pembuatan rambu-rambu itu ada aturannya?

            1. Avant Garde berkata:

              Nggak tau deh mas wkwkw… tp emang unik sih

              1. aristara19 berkata:

                Saya sampai bela-belain lihat langsung lho hahaha, kan saya jarang lewat situ. Rambu-rambu penunjuk lain desain sudah benar meski font yang dipakai belum standar.

                1. Avant Garde berkata:

                  Wkwkwkw… masih ada kan mas? Di samping yg “sarolangun” aneh, pun ukuran dan warnanya di bawah standar 😀

  6. ainunisnaeni berkata:

    jauh juga ya dari bangko ke lubuk linggau 4 jam, itu setara kayak jember ke surabaya .
    aneh juga kalau lewat daerah musi rawas nggak boleh pake helm atau jaket ya, mungkin biar terlihat itu penduduk asli atau bukan kali ya

    1. Avant Garde berkata:

      betul mba, demi faktor keamanan biar terhindar dari begal jadi harus buka helm dan jaket

  7. Ira berkata:

    menarik banget perjalanannyaa!! Apalagi bisa menemukan restoran vegetarian, aku sampe bengong pas baca.

    1. Avant Garde berkata:

      Awas ngiler Ra wkwkwk

  8. aryantowijaya berkata:

    Kok unik mas, karena rawan begal jadi jangan pake jaket dan helm. Biar disangka orang lokal kah mas?

    1. Avant Garde berkata:

      Betul Ar, masih rawan begal termasuk siang hari pun 😦 Kalo lewat sana gak boleh pake helm sm jaket, dan kalo bisa sih plat motorny BG (sumsel)

      1. aryantowijaya berkata:

        hwadehhh :”) serem mas
        Dlu 2014 aku pernah motoran dari Branti ke Pringsewu jam 22:30, dan sampe sana malah kena omel karena nekat, rawan begal padahal.

        1. Avant Garde berkata:

          Itu nekad sih menurut aku Ar wkwkw… Syukurlah kamu gak kenapa2 yak… Menurut aku beberapa daerah di Sumatera salah satunya lampung emang masih rawan, temanku dulu pernah kena begal di lampung utara, motor, hp sama duitnya diambil 🙂

Pembaca yang budiman akan meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s