Sang Raja Mataram dari Lubuk Landai

sambungan dari postingan sebelumnya.

Dinamakan Lubuk Landai karena cekungan sungai (lubuk) tidak langsung curam melainkan miring (landai). Versi lain mengatakan bahwa desa ini dulunya bernama Lebak Landai. Lebak berarti tempat yang digenangi air. Landai berarti sarung keris. Menurut versi kedua ini, desa ini dinamai setelah peristiwa jatuhnya sarung keris raja ke sungai Batang Tebo.

Tidak jauh dari gapura Kawasan Tradisional desa Lubuk Landai, terhampar sebuah lahan berumput hijau dengan tebaran bebatuan bulat seukuran kepala manusia. Rupanya kumpulan nisan tua. Kami masuk lewat sebuah gerbang dengan tulisan Kawasan Makam Bersejarah. Di dekatnya sebuah pohon beringin yang rimbun. Menyusuri jalan setapak dari semen, di ujung makam terdapat sebuah pagar berbentuk empat persegi panjang dengan tiga buah pusara di dalamnya dari batu kerikil dan nisan batu bulat. Disinilah raja dan leluhur Tanah Sepenggal yang bernama Sri Pangeran Mangkubuwono beristirahat. 

Sekilas namanya menyerupai gabungan Mangkunegara dan Hamengkubuwana ya? Sumber lain mengatakan yang dimakamkan disini adalah Pakubuwana III. Hm, sepertinya cerita yang mengada-ada karena semua raja Mataram dimakamkan di Imogiri, Yogyakarta. 

Legenda mengatakan raja Mangkubuwono berbadan tinggi besar. Tingginya enam meter. Saat dimakamkan lututnya ditekuk ke depan dengan posisi rebah ke arah kiblat. Meski agak di luar logika manusia. Cerita tersebut masih dipercaya warga. Keturunan dari sang raja ini telah mencapai 10 generasi.

Agak turun dari pemakaman, tepat di tepi sungai Batang Tebo terdapat sebuah rumah renta berarsitektur kolonial. Kata bang Am, rumah ini dibangun pada zaman Belanda. Sebagian dinding bangunan masih kokoh menopang atap dan pintu yang mulai bolong, meski tanaman merambat dan talas sudah menggerogoti lantai dan dinding dalam bangunan. Tak jelas bangunan ini dulu dipakai untuk apa. Alat berat bekerja di sebelah rumah untuk mengaspal jalan. Semoga rumah unik ini masih bisa dilihat beberapa tahun ke depan.

Jendela dengan tepian roda gerigi makin meneguhkan nuansa kolonial bangunan ini.

Dari depan rumah, tampak jelas jembatan sungai Batang Tebo yang menghubungkan dua kecamatan. Tanah Sepenggal dan Tanah Sepenggal Lintas.

Tak banyak rumah kuno yang bisa dilihat di desa Lubuk Landai. Rumah tradisionalnya tak sebanyak di Tanah Periuk. Hanya ada satu dua rumah panggung dari kayu, beratap genteng dan ornamen atap rumah yang menarik.

Hanya beberapa kali jepretan kamera, kami pindah ke desa berikutnya yaitu Pasar Lubuk Landai. Desa ini berada di seberang desa Lubuk Landai. Kami memutar balik lewat tepi rumah Belanda melintasi jembatan sungai Batang Tebo. Tak terlalu banyak yang kami bisa eksplore. Pasar Lubuk Landai merupakan persinggahan menuju Tanah Tumbuh dan Pelayang. Yang saya ingat, di desa ini terdapat pasar dengan ruko tua dari kayu khas Melayu. Pasar ini hanya ramai pada hari Sabtu. Keterbatasan waktu membuat saya tak bisa mengeksplore lebih lama desa ini. Mungkin suatu saat nanti kami akan kembali lagi kesini.

Perjalanan kami lanjutkan ke desa Empelu. Sebelum masuk ke Empelu, saya menjumpai sebuah sekolah yang sepertinya dulunya sebuah rumah Belanda.

Di desa Empelu terdapat sebuah masjid bersejarah yaitu masjid tertua di Kab. Bungo, masjid Al Falah. Masjid ini pernah tercatat sebagai benda cagar budaya tak bergerak di wilayah Kab.  Bungo.

Sejarah singkat masjid bergaya Melayu ini yaitu dibangun oleh Pangeran Anom sebagai wakil sultan Jambi di Tanah Sepenggal pada tahun 1812. Tahun 1850 dibangun dua buah menara setinggi 19,5 meter. Sayangnya…. bentuk masjid seperti di foto di atas adalah bentuk masjid yang sudah direnovasi sehingga menghilangkan keaslian bentuk masjid sebagaimana dibangun tahun 1812. Bagian asli yang tersisa adalah menara kayu (1850), mimbar masjid dan panel hiasan di bawah kubah. 

Tak jauh dari masjid Al Falah berdiri anggun sebuah rumah bercat putih bergaya Melayu dengan tulisan berbahasa Belanda Anno -8-1931.

Rumah ini berada di atas gundukan menyerupai bukit kecil. Di depan rumah terdapat sebuah bilik padi (lumbung padi) berukuran besar yang difungsikan sebagai garasi mobil. Lumbung ini dibawa dari desa Pelayang.

Pemilik rumah ini adalah H. Taher, ayah dari dua orang bersaudara yang suatu saat nanti akan dikenal menjadi dua orang besar di Bungo. H. Hanafie dan H. Hasan. Mereka berdua dilahirkan di rumah ini. H. Hanafie dikenal karena pernah menjadi ketua DPRD Provinsi Jambi pertama. H. Hanafie sebenarnya hampir dilantik menjadi gubernur Jambi pertama. Namun, informasi di internet menyebutkan bahwa H. Hanafie justru dipenjara karena dianggap membela PRRI sehingga ia gagal meraih tampuk pimpinan provinsi. Sebagai gantinya, M. Yusuf Singedekane dilantik menjadi gubernur Jambi pertama. Hingga saat ini tak pernah dibuktikan keterlibatan H. Hanafie dan PRRI.

Informasi dari bapak RT yang rumahnya tepat di depan rumah H. Taher, rumah ini sekarang dimiliki oleh H. Hasan, adik H. Hanafie sekaligus Bupati Bungo-Tebo periode tahun 1975-1986. Namun, H. Hasan lebih sering menghabiskan waktu di Jambi. Pengelolaan rumah ini diserahkan kepada orang lain.

Perjalanan kami lanjutkan ke desa Sungai Mancur. Desa ini dibelah sungai Batang Tebo. Saya agak ngeri melintasi jembatan gantung dengan motor sambil membonceng bang Rian. Bang Rian turun dari motor dan berjalan kaki. Motor saya kemudikan pelan-pelan. Agak was-was melintasi jembatan selalu bergoyang diterpa angin. Namun, perasan lega rasanya saat sudah tiba di ujung jembatan. Berbeda dengan kami, warga setempat antai saja melenggang di atas jembatan dengan memboncengkan orang di belakangnya. Bahkan ada yang membawa banyak muatan.

Desa ini disebut Sungai Mancur karena ada aliran sungai kecil yang airnya mengalir tegak lurus sehingga langsung jatuh ke sungai Batang Tebo. Tepat di ujung jembatan terdapat sebuah mushola. Saya lihat sebuah makam kuno di halaman masjid. Penasaran untuk melihat sebentar. Terawang Lidah, nama yang tersemat pada nama nisan. Nama dimaksud adalah penyebar Islam di desa ini dan dianggap memiliki kesaktian.

Berakhir sudah penelusuran kami di Tanah Sepenggal tepatnya di desa Tanah Periuk, Lubuk Landai, Pasar Lubuk Landai, Empelu dan Sungai Mancur. 🙂

20 Comments Add yours

  1. rynari berkata:

    Kereeen Mas Isna, trim diajak motoran telisik bangunan bersejarah. Serasa suasana Metaraman di Jambi yaak.

    1. Avant Garde berkata:

      betul bu Prih 🙂 salam…

  2. baraajianggara berkata:

    masbro ini memang suka bgt napak tilas ke tempat2 bersejarah ya.. rumah kunonya mirip2 di koto gadang deket rumah h. agus salim..

    -Traveler Paruh Waktu

    1. Avant Garde berkata:

      Eh, aku belum pernah ke koto gadang euy.. yg dekat bukittinggi ya Bar

      1. baraajianggara berkata:

        iya, seberangnya taman panorama.. bisa masuk lewat janjang koto gadang. lu pasti suka, banyak bangunan tua..

        -Traveler Paruh Waktu

        1. Avant Garde berkata:

          I see…. kapan2 deh ke koto gadang, makasih infonya Bar 🙂

          1. baraajianggara berkata:

            you are welcome my bro..

  3. bersapedahan berkata:

    tidak setiap daerah punya legenda …. kalau punya cerita legenda … daerah itu unik, apalagi jika di bumbui dengan mitos mitos … tulisan yang sangat menarik.

    1. Avant Garde berkata:

      terimakasih mas 🙂

  4. mysukmana berkata:

    mas bro itu bener bener penjelajah museum banget pokoknya

    1. Avant Garde berkata:

      begitulah mas hehe, ada sesuatu yg menarik dari bangunan tua atau barang2 kuno hehe

      1. mysukmana berkata:

        kalau kesolo udah jelajah museum mana saja mas

        1. Avant Garde berkata:

          belum semua mas wkwkwkw… paling ya lewat aja … 😀 kalo mudik cuma muter2 sekitaran rumah aja, padahal ya solo,jogja deket

  5. Firsty Chrysant berkata:

    Kadang ya antara legenda dan kenyataan memang susah dikombinasikan ya,hehe…

    Seruu ya kalau jalan2 naik motor…:P

    1. Avant Garde berkata:

      Seru, bisa berhenti di setiap spot, kalo pk mobil malah susah karena jalannya kecil

      1. Firsty Chrysant berkata:

        Hahaha, emang.kaya saya yg kemudian bisa brnti cuma buat moto rumah gadang, hehe

        1. Avant Garde berkata:

          betul, bisa berenti kalo mau motret di spot2 tertentu

  6. Jadi penasaran seperti apa wujud asli Masjid Al-Falah. Wew, aku sih nggak akan berani naik motor menyeberang jembatan itu, takut jatoh karena nggak bisa berenang 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s