Menanti Senja di Tanjung Menanti

Waktu saya tinggal di Bangko, saya dan istri beberapa kali motoran ke Muara Bungo. Jarak 76 km biasanya kami tempuh selama 1,5 jam hingga 2 jam. Bosan cuma ke hypermart kalau ke Bungo, berbekal tanya warga setempat, kami niat sekali ke jembatan Tanjung Menanti. Waktu itu, di Jambi bagian barat jembatan model lengkung seperti busur…

Monumen Jujuhan

Sekitar tujuh kilometer sebelum gapura perbatasan provinsi Jambi dan Sumatera Barat, yaitu gapura berbentuk rangkiang (lumbung padi khas Minang), terdapat sebuah monumen berbentuk alat berat berwarna kuning, dengan prasasti terbuat dari marmer putih yang menempel pada sebuah tugu berwarna hitam.  Monumen ini berdiri di sebelah kiri jalan, tepat di samping pabrik karet PT Djambi Waras….

Kaleidoskop 2019

Tahun 2019 sudah hampir sebulan berlalu. Tahun 2019 adalah tahun kesekian saya merantau di pulau Sumatera, tak terasa. Sekaligus tahun kedua saya tinggal di Muara Bungo. Selain Jambi dan Sumbar (wilayah domisili saya) dan Jawa Tengah, bersyukur dapat menapakkan kaki di provinsi terakhir di Sumatera: Lampung. Kesibukan di kantor, kesibukan dengan keluarga perlahan mengikis hobi…

Menelusuri Jalan Tanah Tumbuh Lamo

Sewaktu saya jalan bareng bang Rian dan bang Am ke dusun Lubuk Landai dan Empelu beberapa minggu lalu, sebenarnya saya masih penasaran dengan interior masjid Empelu dan toko-toko tua di Pasar Lubuk Landai. Namun, karena takut kehujanan di jalan, kami buru-buru pulang.  Kali ini, saya kembali ke Lubuk Landai. Tidak melewati jalan Lintas Sumatera melainkan…

Air Mancur Menari Muara Bungo

Tinggal di Muara Bungo, patung bunga bangkai (Amorphophallus titanum) sebagai ikon kota bisa dijumpai di beberapa tempat di pusat kota. Bunga bangkai merupakan flora yang dijadikan flora khas Bungo. Terlepas dari fakta bahwa jenis bunga yang menjadi asal usul nama kabupaten Bungo merupakan akar dani (Combretum indicum). Patung bunga bangkai paling besar berada di taman…

Sang Raja Mataram dari Lubuk Landai

sambungan dari postingan sebelumnya. Dinamakan Lubuk Landai karena cekungan sungai (lubuk) tidak langsung curam melainkan miring (landai). Versi lain mengatakan bahwa desa ini dulunya bernama Lebak Landai. Lebak berarti tempat yang digenangi air. Landai berarti sarung keris. Menurut versi kedua ini, desa ini dinamai setelah peristiwa jatuhnya sarung keris raja ke sungai Batang Tebo. Tidak…