Manang Kabau, Sate Padang ala Cafe

Saya dan Aul duduk di kursi belakang. Tak peduli dengan jalan yang berkelok-kelok, kecapekan jalan-jalan di Pariaman membuat kami dibuai ke dalam alam mimpi. Bangun tidur, tahu-tahu saya sudah sampai di simpang BIM. Beberapa saat kemudian Aul juga terbangun.

“Makan dimana Aul?” tanya saya.
“Hm…terserah mas aja.”
“Makan sate yuk?”.
Jujur agak kecewa gagal mencicipi sate Pariaman di tempat asalnya. Yasudah, mungkin lain waktu saya akan kembali makan sate Pariaman di sana.. di Pariaman. Bukan di Padang. 😀

Kami bertanya pada sopir travel dimana gerangan mobil ini berhenti di Padang. Syukurlah mobil ini akan berhenti di Pasar Raya dan artinya lewat Khatib Sulaiman, tempat dimana Sate Manang Kabau berada.

Manang Kabau, sebuah nama yang terkait dengan sejarah asal mula nama Minangkabau. Minang kabarnya berasal dari kata manang (menang) dan kabau (kerbau). Berasal dari kemenangan orang Minang waktu berperang melawan pasukan kerajaan Majapahit.

Kami turun dari travel lalu menyeberang ke Manang Kabau.

Seekor kerbau bertampang imut bercokol di atas tulisan Manang Kabau. Lucu juga ikon tempat makan ini.
“Sate Manang Kabau,” teriak seorang petugas.
“Salamaik Datang,” lantas dijawab seluruh petugas. Sapaan selamat datang yang cukup menarik haha. Jarang bahkan hampir tidak pernah saya melihat penyambutan unik seperti ini.

Manang Kabau ini cukup luas tempatnya. Bernuansa rustic berwaran putih. Ada beberapa ruangan. Yang paling besar muat puluhan orang. Konsepnya semi terbuka, pakai kursi dan menyatu dengan kasir dan dapurnya yang semi terbuka. 

Kami memilih duduk lesehan di ruangan sebelahnya yang dindingnya terbuat dari kaca dan pakai AC. Di atas ruangan ini ada rooftop yang juga dipakai sebagai tempat makan. Setelah habis makan dan bayar di kasir, baru tahu kalau ruangan yang pakai AC ini pakai ‘tarif masuk’ wkwkw.

Di ruangan yang pakai AC ini ada dua petugas yang melayani pengunjung kalau misal mau pesan makanan. Habis kami duduk, seorang petugas mendatangi kami menyerahkan menu. Silakan klik untuk foto yang lebih besar.

Di Manang Kabau ada sate daging (ditulis daging padek) dan daging ayam (maksudnya ayam) hahaha. Kuah satenya ada tiga jenis. Kuah merah (kuah sate Pariaman, pedas), kuah coklat (sate Padang kota, sedang pedasnya), dan kuah kuning (sate Padang Panjang/Bukittinggi, tidak pedas). 

Oya, hampir semua menu ditulis menggunakan bahasa Minang. Daging ditulis dagiang, puyuah untuk puyuh dan katupek yang berarti ketupat. Satenya dihitung pertusuk yang dijual Rp 3.000,-/tusuk dan ketupat Rp 3.000,-/porsi (belum termasuk pajak). Kuahnya bebas pilih, mau 1 jenis apa 2 atau 3 jenis. Gratis.  

Selain sate, ada juga makanan berat seperti soto Padang, nasi goreng, mie rebus/goreng, bubua samba (bubur pakai gulai nangka/pakis/kikil).

Buat yang tidak ingin makan berat, ada kulek-kulek (yang artinya cemilan) seperti pisang kapik (pisang plenet), sala lauak (perkedel ikan teman makan sate), ketan susu dan lain-lain. Selain minuman yang sudah umum seperti teh, kopi, jus, bagi yang mau minuman khas Minang bisa mencoba teh talua (campuran teh, jeruk nipis, susu, dan telur ayam kampung mentah) atau kawa daun (teh dari daun kopi).

Tak perlu lama pesanan saya datang. Sate dan kuah sate/lontong diletakkan dalam piring kaleng nan jadul dialas daun pisang. Sekilas tak jauh beda dengan sate Padang gerobakan. Bedanya, potongan sate besar-besar. Worth it lah dengan harganya yang Rp 3.000,-/tusuk.

 

Lantas apa beda sate Manang Kabau dan sate Padang. Pertama tentu tempat dan menunya. Manang Kabau menang di tempatnya yang luas, instagenik dan menunya banyak. Kedua, rasanya tak beda dengan sate umumnya. Selain potongan satenya besar-besar, kuahnya mantap, terasa sekali bumbunya.

Besoknya, saking inginnya makan sate Padang, saya kembali ke tempat ini bareng Daniel, teman CS Padang sebelum pulang ke Rimbo Bujang. Next, kalau ke Padang lagi…tentu saja saya mau balik lagi ke Manang Kabau. Recomended!

pisang kapik dan pisang santan roti

Bagi yang mau bekerja sama dengan Manang Kabau, tempat ini peluang untuk berjualan lewat sistem waralaba.

Iklan

7 respons untuk ‘Manang Kabau, Sate Padang ala Cafe

  1. aku kalau liat sate padang,pasti habis dah itu kuah…
    waktu itu jajan sama teman sate padang, liat kuahnya kentalnya gak dihabisin, gemes rasane wkwkw..

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s