Pariaman: Panas Menawan

Selamat Tahun Baru 😀 #telatnyakebangetan

Sumatera Barat, sebuah tempat yang jika disebut terbayang sawah menguning, rumah beratap runcing atau kulinernya yang amat menggoda lidah. 

Entah sudah berapa kali kaki ini menapaki Sumatera Barat: Padang, Bukittinggi, Solok dan beberapa kota lainnya. Setelah saya cek nama-nama kota di Sumatera Barat, masih ada empat daerah lagi dalam bucket list saya: Mentawai, Pasaman, Pasaman Barat dan Pariaman.

Sebenarnya saya dan Kukuh pernah niat pagi-pagi ke stasiun Simpang Haru membeli tiket ke Pariaman. Saat itu, tiket kereta kesana belum dijual online. Sialnya, kami kehabisan tiket.   

Bulan lalu, saya pergi ke Padang lagi. Saya ingin ke Pariaman. Dan kali ini saya tidak ingin gagal kesana. Biasanya saya ke Padang dari Muara Bungo. Kali ini saya akan naik travel dari Rimbo Bujang. Atas info dari bang Khalik teman kosan saya, saya memesan kursi travel Vadia. Saya mendapat bangku nomor 1 (sisi kiri di belakang sopir). Kata bang Khalik ini satu-satunya travel dari Rimbo Bujang ke Padang. Saya minta dijemput di kantor biar langsung berangkat. 

Rimbo Bujang-Padang
Jumat jam 8 malam saya sudah siap-siap di kantor. Kantor sudah sunyi sedari sore tadi. Saya hanya ditemani satpam kantor. Gawai saya berdering. Saya akan dijemput jam 9 malam katanya. Oke, berarti terlambat 1 jam. Hingga jam 9 malam tak ada telepon masuk. Saya dirundung gelisah. Hingga beberapa menit kemudian, ada telepon masuk. Saya akan dijemput beberapa saat lagi.

Penunjuk waktu di gawai menunjukkan jam 21.30 saat mobil plat hitam itu tiba di depan kantor. Saya segera naik. Di bangku paling depan sebelah sopir duduk seorang mbak-mbak berkerudung. Sopirnya tampak lebih muda dari saya. Di samping dan belakang saya tak ada orang. Hanya kami bertiga di dalam mobil.

“Ado penumpang lain, Bang?” tanya saya ke sopir memecah sepi.
“Ndak ado, Bang,” jawabnya tak bersemangat.
Bisa dimaklumi, mobil telat menjemput saya karena masih menunggu penumpang. Berharap masih ada rizki malam ini. Rupanya, hanya dua penumpang yang terangkut kali ini.

“Padang turun dima, Bang?” tanya sopir.
“Pasar Baru, Bang, dekat UNAND.”
Sejak saat itu, tak ada lagi percakapan di antara kami bertiga. Sunyi ditengah deru mobil.

Beberapa menit mobil berjalan sopir berkata “Nanti dekat Pelayang matikan hp, Bang yo. Minggu patang ado travel dilempar batu!” Hah, saya terkejut. Beberapa kali bepergian ke Padang, baru kali ini saya mendengar insiden ini. Setahu saya, satu-satunya daerah rawan kriminal di Jambi di jalan antara Sarolangun dan Muara Tembesi, tepatnya di ruas Pauh-Mandiangin.

Kata sopir, minggu lalu ada peristiwa sebuah mobil travel dilempar kaca oleh orang tak dikenal. Untungnya tak ada penumpang terluka.

Langit  di luar gelap. Tak ada lampu penerangan jalan. Di kiri dan kanan kami dikepung perkebunan karet dan sawit. Sesekali mobil kami berpapasan dengan kendaraan yang menyalakan lampu jauh. Saya memejamkan mata, tapi tak bisa terlelap. Agak pulas ketika mobil berhenti di sebuah rumah makan Padang di Gunung Medan, Kab. Dharmasraya. Sebuah kabupaten baru pemekaran Sawhlunto-Sijunjung. Yang lain makan nasi Padang, saya beli pop mie. Kejadian yang sempat dicemaskan sopir tak terjadi.

Tak lama kami melanjutkan perjalanan, saya paksakan mata untuk terlelap. Entah saya benar-benar tertidur atau tidak. Saya tak tahu. Saya merasa sedang di alam mimpi, tetapi telinga samar-samar masih mendengar bunyi deru kendaraan.

Tahu-tahu kami tiba di Solok. Sebentar lagi masuk ke perbatasan Kab. Solok dan Kota Padang. Mobil berjalan mengikuti liukan jalan yang berkelok-kelok zig zag menyerupai kelok ular. Saya kembali terlelap.

Masuk kawasan Indaruang, saya terbangun. Segera saya kontak Aul, kawan saya yang kos di kawasan Pasar Baru. Berbekal peta online, saya menuju ke kosan Aul (aulhowler.com). Mobil sempat nyasar beberapa ratus meter hingga akhirnya saya tiba di depan kosan Aul. Jam 3 pagi, saya menapakkan kaki di kota Padang.

Aul rupanya sedang di toilet. Beberapa menit menunggu di depan kamar, Aul keluar toilet. Aul seorang pengajar di kampus UNAND. Rumah orang tuanya di Tabing, agar tak terlalu jauh ke kampus, ia sengaja menyewa kos. Saya nebeng istirahat sebentar di kamar Aul.

Padang-Pariaman

Bakda Subuh, kami berangkat ke stasiun Simpang Haru naik taksi daring. Kami berencana naik kereta Sibinuang yang akan berangkat jam 05.45. Rupanya, khusus hari Sabtu dan Minggu kereta pertama berangkat jam 7 pagi dan akan tiba di Pariaman jam 08.42. Itupun kami hanya kebagian tiket berdiri. Untuk membunuh waktu, kami cari sarapan di luar stasiun. Saya makan bubur kampiun, Aul memesan nasi goreng.

Balik ke stasiun, kami menunggu di ruang tunggu. Hari itu rupanya beberapa kawan Aul juga berangkat ke Pariaman naik kereta untuk menghadiri acara yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kota Pariaman. Aul juga diundang sebenarnya, tetapi dia lebih memilih menemani saya ke Pariaman hehe. Saja jadi merasa tersanjung wkwkw. Saya sempat bertemu Ubay (kidalnarsis.com) Yonie (keeyosk.blogspot.com) dan lain-lain. Mereka juga sama-sama tidak kebagian tiket duduk.

Jam 7 tepat kereta Sibinuang beranjak pergi meninggalkan kota Padang. Kami menghuni gerbong paling depan. Ubay dan kawan-kawannya rupanya heboh di kereta. Tak hanya blogger,  mereka juga komika yang kocak. Lama-lama saya tak tahan berdiri dan duduk di dekat bordes. Bosan mendengarkan mereka bercanda, saya lihat pemandangan di luar. Lama-lama jadi ngantuk dan ketiduran. Mungkin akibat saya kurang nyaman waktu tidur di travel.

Dalam perjalanan Padang ke Pariaman ini akan singgah di beberapa stasiun. Waktu naik kereta bandara ke BIM beberapa saat lalu kereta hanya singgah di stasiun Duku. Stasiun  ini merupakan persilangan antara kereta ke BIM, ke Pariaman dan ke Kayu Tanam. Dari stasiun Duku, ke arah Pariaman ada beberapa stasiun seperti Lubuk Alung, Pauh Kambar, Kurai Taji, Pariaman dan Naras (Nareh dalam bahasa Minang).

Tiba di Pariaman, Ubay dan kawan-kawan minta difoto bareng sama Aul di dalam kereta. Di saat semua penumpang meninggalkan kereta, kami  terlalu asyik ngobrol dan foto di kereta hingga tak sadar kereta beranjak meninggalkan kota Pariaman menuju Naras, titik terakhir dari perjalanan kereta ini. Rupanya, mereka tak tahu kalau kereta ini berhenti di Naras hehe. Aul memberitahu saya sebidang lahan kebun kelapa dan kampus STIB alias Sekolah Tinggi Ilmu Baruak. Bukan kampus seperti biasa, melainkan sekolah pelatihan baruak atau hewan beruk. Beruk ini nantinya dilatih agar bisa memanen kelapa. Unik!

Tiba di Naras kami berpisah. Ubay dijemput mobil pemko Pariaman. Saya dan Aul berjalan kaki ke luar stasiun. Di luar stasiun saya minta dipotret di ujung jalur rel kereta Naras. Balik ke Padang nantinya, kami akan naik travel saja. Kalau mau naik kereta baru ada jam 2 siang. Terlalu lama menunggu. 

Btw, ini adalah kunjungan pertama saya ke Pariaman. Sekaligus trip pertama saya bareng Aul. Buat Aul, ini adalah nostalgia. Sebenarnya Aul adalah putra asli Padang Pariaman, daerah induk kota Pariaman sebelum dimekarkan.

Jelajah Pariaman

Perut keroncongan minta diisi. Kami berjalan ke arah batas kota Pariaman-Padang Pariaman. Sayang sekali, warung sate Pariaman langganan Aul belum buka. Kabarnya, sate ini lumayan terkenal di Pariaman. Gonjong, tabuik, tari lilin, tari pasambahan menjadi ornamen gapura batas kota Pariaman ini. Selain sate Pariaman yang berkuah merah dan sala lauak, kota ini juga kadung dikenal dengan tabuik, festival khas Pariaman yang mirip dengan tabot di Bengkulu.

Matahari semakin naik, saya dan Aul naik angkot warna kuning ke pasar Pariaman. Rencana kami mau cari sate Pariaman disana. Semilir angin laut membelai wajah. Berbeda dengan Padang atau Painan yang memiliki laut dan pegunungan sekaligus, Pariaman sepertinya tak memiliki gunung. Di salah satu sisi lautan Hindia luas terbentang.

Kami turun di pantai Gandoriah, pantai paling terkenal di Pariaman. Lokasinya tepat di pusat kota. Selain pantai Gandoriah, ada beberapa pantai lagi di Pariaman seperti pantai Kata dan pantai Cermin. Kapal nelayan dan jembatan pantai Gandoriah cukup instagenik buat berfoto.


kereta Sibinuang kembali ke Padang

papan nama jalan di Pariaman dengan ornamen perahu

Pantai Gandoriah terletak tepat di belakang stasiun Pariaman.  Saya pikir Gandoriah ini versi lokal dari tanaman gandaria atau gondoriyo di Jawa. Rupanya, nama seorang putri dalam cerita rakyat Pariaman. Puti Gandoriah bersama Anggun Nan Tongga adalah Romeo dan Juliet versi Minang. Anggun Nan Tongga dan Puti Gandoriah, sepasang kekasih yang terpisah sekian lama hingga akhirnya mereka bertemu. Ketika bertemu dan berencana menikah, mereka gagal bersatu karena rupanya mereka masih saudara sepupu.

Di tengah teriknya matahari, kami berjalan ke salah satu sisi. Ke tempat didirikannya sebuah monumen berbentuk kapal perang untuk mengenang perjuangan TNI Angkatan Laut di Pariaman. Kota kecil ini dulunya bekas pelabuhan terbesar di Sumatera sekaligus markas TNI AL pertama di pulau Sumatera setelah Agresi Militer I Belanda di Padang. Monumen ini diresmikan tahun 2017. Sebuah tank  Marinir dan meriam berdiri gagah di samping monumen.

Kami lanjut berjalan ke sisi lain, melewati taman bermain anak gratis yang cukup nyaman. Pantai Gandoriah dikenal dengan payung-payung menyerupai pantai Bali, tetapi tanpa bikini. Tidak jauh dari pantai Gandoriah bisa dilihat dengan jelas pulau Angso Duo dan pulau Tangah. Kapan-kapan ya Aul kita kesini lagi.

Sala lauak, kepiting dan udang goreng menjadi cemilan wajib jika berkunjung ke pantai Gandoriah. Kami singgah di salah satu kedai penjual sala, udang dan kepiting goreng. Kerang lokal seperti langkitang dan pensi juga boleh dicoba. Selain makanan, penjual oleh-oleh seperti kaos bertuliskan Pariaman juga banyak dijual. Meski banyak pohon cemara di pantai Gandoriah, peluh tetap bercucuran di kepala. 

Dari sekian penjual makanan, hanya satu pedagang sate yang kami temui. Saya memutuskan untuk makan sate di pasar Pariaman. Kata Aul ada kedai sate Pariaman yang cukup enak di pasar. Pasar Pariaman terletak tidak jauh dari pantai Gandoriah dan tepat di seberang stasiun Pariaman.


stasiun Pariaman yang renta

mural bergambar sala, perempuan dan penyu

Rupanya…pasar Pariaman sedang dalam proses renovasi total sehingga banyak pedagang yang berubah posisi. Ada satu pedagang sate yang kami jumpai, tetapi tempat di sekitarnya tidak terlalu bersih dan tercium aroma ikan. Di sekitarnya memang ada banyak penjual ikan segar, udang dan cumi. Seorang bapak-bapak minta dipotret begitu tahu saya menenteng kamera. 

Di salah satu sudut pasar saya menemukan ruko tua kepunyaan Haji Muhammad Soleh, salah seorang saudagar ternama di Pariaman pada abad ke-19. Melangkah sebentar, saya melihat sebuah tugu dari marmer. Inikah 0 km kota Pariaman?

Kami berhenti di taman kota di depan SMPN 1 Pariaman. Duduk-duduk sambil ngobrol, menghabiskan gorengan yang masih tersisa, sembari berteduh dari panas matahari.

Info dari tukang ojek yang kami temui, travel balik ke Padang tak lagi lewat pasar Pariaman, melainkan lewat pinggiran kota. Kami naik ojek, melewati tugu tabuik dan turun di sebuah simpang tiga. Disitu banyak mobil dari Pasaman ke arah Padang. Dengan naik travel, kami kembali ke Padang. Hanya secuil Pariaman yang kami jelajahi dalam waktu kurang dari satu hari. Next, saya pengen menjelajahi kota tua Pariaman, benteng-benteng Jepang.

Terimakasih Aul atas waktunya… The best! Kapan-kapan kita jalan lagi yak 🙂

Makan sate Padang di Padang sepertinya enak…. (bersambung)

2 Comments Add yours

  1. Firsty Chrysant berkata:

    Wooow…. asyiknya…

    Dari rimbo bujang ke Padang 5,5 jam? Itu udah termasuk istiraht di Gunung Medan ya… Wooow….

    Kdang kalau liat mobil bus tanpa penumpang kasiaaan banget ya…

    Blogger padang sering ada acara juga kayanya ya…

    1. Avant Garde berkata:

      Iyah..lumayan banyak undangan mereka kak…
      maksudnya jam 3 masuk padang, kayaknya jam 3.30 aku sampe kosan temenku di daerah pasa baru, dekat unand…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s