Postcards from Rantau Panjang

Tak pernah bosan rasanya saya mengunjungi desa ini. Sejauh mata memandang puluhan rumah panggung -sebagian berusia ratusan tahun- membuai saya ke peradaban masa silam. Rumah panggung dengan puluhan tiang dan ukiran menarik membuat tempat ini jujugan ahli purbakala, sejarah dan seniman.

1-p1040565

Penduduknya menyambut setiap tamu yang datang dengan seulas senyum. Suku Batin salah satu suku Melayu tua di Jambi. Mereka percaya nenek moyang mereka berasal dari desa Rantau Panjang. Sekitar 30 menit dari Bangko. Nama-nama desa dan kecamatan di Jambi yang diawali kata Bathin atau Batin menandakan eksistensi etnis mereka.

Secara penampilan, perempuan suku Batin mudah dikenali dari busananya. Berbaju kurung, memakai sarung batik dan tengkuluk (tutup kepala). 

1-p1040572

Kali ini ajakan traveling datang dari pak Faizal, salah satu kepala seksi di kantor saya. Kami awalnya bertiga singgah di Green Kandis, Afdal kawan saya lantas memisahkan diri. Berbekal peta wisata Bangko, saya dan pak Fai lantas menuju Dam Betuk.

Sebelum ke Rantau Panjang, kami singgah di Margoyoso menikmati ayam goreng panas. Saya terpaksa menolak semangkuk sup iga demi alasan kesehatan kolesterol tinggi.

1-p1040530

Habis makan, kami singgah di masjid At Taqwa kelurahan Rantau Panjang. Keriuhan kami jumpai di rumah pak Iskandar, rumah tertua di kampung itu. Ibu-ibu sedang memasak di halaman rumah. Sedang bersiap-siap mau ada syuting acara tv katanya.

p1040564

Kami naik ke atas, sepasang ibu-ibu memainkan kelinong. Alat musik mirip bonang yang uniknya dimainkan oleh sepasang. Beberapa kali berkunjung kemari tak sekalipun saya berfoto dengan bu Darmis, sang keturunan ke-14 dari Depati Puyang Bungkuk, nenek moyang suku Batin. Kali ini saya sempatkan berfoto bersama beliau dan pak Iskandar.

1-p1040537

1-p1040543

Tak berapa lama, setelah berbincang-bincang kami mohon izin. Saya ajak pak Fai melihat-lihat sekitar rumah. Kuburan tua, lumbung padi dan sawah. Hanya ‘sekedar’ sawah memang. Namun, karena di Bangko tidak ada sawah. Melihat hijaunya padi itu sesuatu. Bahagia itu sederhana, bukan?

p1040553

Iklan

26 comments

    • ya mas, ukirannya emang sama dgn di minang dan kerinci, namanya kiluk paku kalo disini, artinya petuah untuk selalu menuntut ilmu tanpa akhir, seperti tanaman paku yg seolah2 tanpa ujung dan tanpa pangkal 🙂 eh kebalik, tanpa pangkal dan ujung … kira2 gitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s