Tentang Muara Bungo

Random post….

Sudah dua bulan lebih saya tinggal di Muara Bungo. Jika dibandingkan dengan Bangko, bisa dibilang Muara Bungo lebih “kota” dan lebih kosmopolit. Lebih ramai. Kecuali jaringan bioskop mewah, fasilitas penunjang hidup tersedia lengkap disini. Eh, sebenarnya ada bioskop mini, mirip dengan dengan bioskop di Bangko.

Struktur Kota

Agak mirip Bangko kotanya, berada di tepi jalan Lintas Sumatera yang menghubungkan Padang dan Jambi. Hanya saja, Bangko lempeng aja kotanya. Lurus. Kalau Muara Bungo terletak di pertemuan sungai Batang Bungo dan Batang Tebo. Jalan dan gangnya lebih banyak, lebih rumit dan mutar-mutar seperti rumah laba-laba.

Pusat perekonomian Bungo berpusat di Kec. Pasar Muara Bungo dan Kec. Bungo Dani. Pusat pemerintahan seperti kantor bupati dan kompleks perkantoran berada di Kec. Rimbo Tengah.

Etnis Tionghoa, Melayu dan Minang mempunyai andil dalam kemajuan kota Muara Bungo menjadi pusat perdagangan terbesar kedua di Jambi. Jejak peradaban etnis Tinghoa dan Melayu berupa rumah-rumah kuno perpaduan Melayu dan Oriental masih bisa disaksikan di Pasar Bawah dan Tanjung Gedang sebagai cikal bakal Muara Bungo. Nama daerah seperti Kampung Solok dan Sulik Aia bisa dijumpai di Pasar Bawah. Kapan-kapan ya akan saya tulis terpisah.

Hypermart

Ada supermarket di Muara Bungo, yaitu Permata Bungo Plaza. “Mall” tiga lantai di pusat kota. Namun, orang kadung menyebut hypermart karena penyewa terbesar adalah hypermart yang menggunakan dua dari total tiga lantai. Lantai pertama mirip Kincai Plaza di Sungai Penuh, penuh dengan toko yang 99% jualan baju, lalu ada mainan anak di lantai 1 dan 2. Lantai 2 adalah produk elektronik, peralatan rumah tangga dan fashion. Lantai 3 produk makanan, sebagian tidak bisa ditemukan di pasar seperti buah impor, keju, bumbu dapur.

Pembeli di hypermart tidak hanya berasal dari Bungo melainkan kabupaten sekitar seperti Merangin, Sarolangun, Tebo dan Sumatera Barat. Waktu masih tinggal di Bangko, saya beberapa bulan sekali menyambangi Muara Bungo hanya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di hypermart.

Sayangnya, setelah beroperasi 6 tahun, hypermart kabarnya akan tutup pada tanggal 31 Desember 2018. Bukan saya saja yang sedih, teman-teman di Bangko yang rutin belanja bulanan ke Muara Bungo turut kehilangan.

Selain hypermart, tempat belanja modern di Muara Bungo adalah di Mentari Swalayan. Mirip Melati di Bangko, hanya saja lebih luas dan barangnya lebih banyak. Ada tempat bermain anak di lantai 3.

Pasar tradisional di Muara Bungo ada 2. Pasar Bungur atau sering disebut Pasar Atas berlokasi di jalan Lintas Sumatera. Kebanyakan menjual sayur, buah, daging, ikan dan makanan. Pasar Atas ini guede banget. Saya kadang bingung begitu masuk ke dalam saking luas. Jauh berkali-kali lebih luas dari Pasar Baru di Bangko. Pasar Bawah atau Pasar Serunai khusus menjual keperluan rumah tangga, elektronik dan pakaian. 

Bandara Muara Bungo
Waktu tinggal di Bangko, saya harus menempuh 6 jam perjalanan ke bandara Jambi untuk pulang kampung. Alternatif lain ke bandara Lubuk Linggau selama 3 jam perjalanan. Enaknya tinggal di Muara Bungo, terdapat bandara domestik yang melayani penerbangan ke Jambi, Kerinci dan Jakarta. 

Sayangnya, khusus tiket dari Muara Bungo ke Jakarta langsung masih cukup mahal. Saya perlu merogoh kocek hingga 900 ribu untuk sekali perjalanan dari Muara Bungo ke Jakarta. Hampir 2x lipat tiket Jambi ke Jakarta. Sampai saat ini hanya maskapai Nam Air yang melayani rute ke Jakarta. Rute ke Jambi dan Kerinci dilayani oleh Wings Air dengan harga mulai dari 200an ribu.

Baca juga : Review Bandara Muara Bungo

Sejarah
Menurut sejarah, Kab. Bungo adalah pemekaran dari Kab. Bungo-Tebo. Bungo-Tebo sendiri pernah menjadi bagian dari Kab. Merangin. Asal usul kota Muara Bungo adalah banyaknya bunga akar dani  (Quisqualis Indica) di pertemuan sungai Batang Bungo dan Batang Tebo hingga dinamakan kota Muara Bungo. Bunga dani sendiri diabadikan menjadi nama kecamatan yaitu Bungo Dani. Penamaan bunga juga diterapkan pada taman Pusparagam yang sebelumnya bernama Lapangan Semagor. Nama-nama jalan di sekitar Pasar Bawah dinamai menurut nama bunga. Ada jalan Dahlia, jalan Kemboja, jalan Seroja, jalan Anggrek, jalan Teratai dan lain-lain.

Kota Muara Bungo sendiri diberi semboyan LINTAS yang berarti Lancar Indah Nyaman Tertib Aman dan Sejahtera. Penamaan kota Lintas ini berawal saat peresmian Jalan Lintas Sumatera oleh Presiden Soeharto pada tahun 1984.

Lihat juga: Km 0 Muara Bungo

Tempat Wisata

Tempat wisata di Kab. Bungo khususnya kota Muara Bungo tidak terlalu banyak dibandingkan di Merangin dan Kerinci. Yang menonjol adalah Semagi Waterpark, taman air terbesar di Jambi barat. Selebihnya adalah wisata buatan seperti taman kota, ikon kota seperti jembatan, masjid agung, monumen, kolam renang. Untuk wisata alam seperti air terjun, dam, hutan wisata sungai berair jernih, danau terletak jauh di luar kota.

Sebagai kota jasa dan perdagangan di jalur Lintas Sumatera, ada banyak tempat makan dan tempat penginapan di Muara Bungo. Hotel berbintang saja ada 3 buah. Hotel Amaris, Hotel Semagi dan Hotel Bungo Plaza (eks Wiltop). Di Muara Bungo terdapat universitas swasta, rumah sakit rujukan di wilayah barat Provinsi Jambi, stasiun TV lokal ada 2 buah. Bungo TV dan BVS TV.

Wisata kuliner dan pilihan tempat nongkrong tentu saja lebih banyak. Mulai dari rumah makan legendaris berumur puluhan tahun hingga kuliner kekinian dengan spot-spot instagrammable semua ada hehe. Tunggu saja di postingan selanjutnya ya 🙂

Kantor saya yang sekarang membawahi dua kabupaten, Bungo dan Tebo. Khusus di wilayah Kab. Tebo terdapat dua kantor pembantu. Satu di Muara Tebo dan satu di Rimbo Bujang.

Awalnya saya heran mengapa dalam satu kabupaten terdapat 2 kantor. Rupanya karena pusat perekonomian lebih berkembang di Rimbo Bujang. Muara Tebo dibentuk kantor karena sebagai pusat pemerintahan Kab. Tebo.

Saat ini saya bekerja di kantor yang Rimbo Bujang. Namun, kantor saya meskipun menyandang nama Rimbo Bujang masih berlokasi di Simpang Sawmill, masuk wilayah Kab. Bungo. Sekitar 30 menit dari Muara Bungo. Tahun depan baru akan pindah ke Rimbo Bujang.

Iklan

4 comments

  1. Saya pertama kali lewat Muaro Bungo sewaktu naik bus ke Jakarta tahun 1994. Tahun 2007 melewati kota ini lagi sewaktu dalam perjalanan dari kota Jambi ke Padang.
    Rimbo Bujang sangat maju karena hasil sawit yang melimpah. Juga karena pemerintahan zaman Pak Harto ada transmigrasi kesana. Kalau tak ada transmigrasi dan konglomerat bikin kebun sawit mungkin daerah itu masih hutan belantara.

    Selamat bertugas di tempat baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s