Semalam di Swarnadwipa

Kantor saya punya agenda wajib tahunan. Namanya internalisasi corporate value (ICV) atau terjemahan bebasnya penanaman nilai-nilai perusahaan/lembaga kepada seluruh karyawan. ICV ini serangkaian acara yang dilakukan sepanjang tahun tujuannya agar setiap karyawan memahami nilai-nilai luhur lembaga yang jumlahnya ada lima. Bentuk acaranya mulai dari sosialisasi internal, apel, aksi sosial, penempelan pamflet, dll.

Gong dari ICV yaitu team building dan outbound. Biasanya kami akan pergi keluar kota ramai-ramai sekantor. Konsep acaranya gabungan antara permainan kekompakan tim, family gathering dan acara hiburan.

Tahun 2019 adalah ICV pertama saya di Muara Bungo. Awalnya acara akan diadakan di Kerinci. Perkembangan berikutnya, lokasi acara dipindahkan ke Padang, tepatnya di Swarnadwipa Resort, Padang. Mengikuti aturan dari pusat, kami tidak boleh menggelar acara di hari kerja. Jadinya, acara akan diadakan pada akhir pekan. Jumat malam berangkat dari Muara Bungo, Minggu pagi balik.

Muara Bungo-Padang

Jumat malam siap salat Maghrib saya berangkat ke kantor. Habis makan malam dan doa bersama, kami naik bus. Beberapa lama berjalan, saya memutuskan tidur di lorong bus dengan menggelar koran dan menutupi diri dengan selimut. Rencana awalnya mau tidur di ‘kandang macan’ alias kompartemen belakang tempat tidur sopir cadangan. Sayang tempat ini sudah ditempati kru bus.

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Bus berhenti di SPBU Sialang, Dharmasraya untuk mengisi solar. Hampir semua penumpang turun. Sebagian duduk-duduk memesan pop mie hangat.

Perjalanan dilanjutkan kembali, tahu-tahu sudah sampai Sawahlunto. Saya kembali tidur. Sejenak membuka mata dan bus tiba di tikungan Sitinjau Lauik, jalan antara Solok-Padang yang terkenal berkelok-kelok dan menuruni lereng. 

Bus yang saya tumpangi sudah lama berhenti. Saya yang tertidur dibangunkan oleh Bram. Beberapa orang tampak bergerak mendekati masjid. Saya amati masjid itu, namanua Nurul Hidayah. Berada rada di wilayah kelurahan Bungus Barat, di tepi jalan raya antara Kota Padang dan Painan. Langit berwarna kebiruan saat azan Subuh berkumandang.

Usai salat Subuh, bus bergerak ke arah Painan. Kami berhenti di sebuah ruko di depan SDN 6 Cindakir, Teluk Kabung Utara. Usai sarapan nasi goreng, kami bersiap-siap untuk menyeberang ke Swarnadwipa.

Pelabuhan Bungus-Swarnadwipa

Tepat di belakang ruko rupanya dipakai sebagai dermaga khusus untuk menuju Swarnadwipa. Tidak ada pelantar (dermaga kayu). Semua perahu/kapal berangkat dari bibir pantai. Kami yang berjumlah 90-an orang akan dibagi ke dalam beberapa perahu.

Usai pengarahan singkat, kami memakai rompi pelampung dan masuk ke kapal satu persatu langsung dari bibir pantai. Kapalnya terbuat dari kayu dan memiliki mesin. Mengingatkan saya pada perahu pompong jurusan Tanjung Pinang ke Pulau Penyengat.


seperti ini kapalnya

Saya duduk di barisan depan. Perahu perlahan meninggalkan pantai, lama-lama semakin laju. Ombak di kala pagi cukup tenang. Semakin ke tengah ombak semakin kuat. Kapal naik turun seirama gelombang. Hempasan ombak menimbulkan percikan air ke dalam kapal. Saat ada yang terkena percikan gelombang, semua bersorak gembira. Jika menurut rencana, perjalanan laut ke Swarnadwipa memakan waktu 30 menit. Meski berpelampung, saya yang tak bisa berenang tetap saja was-was.

Kapal melewati PLTU Teluk Sirih, pantai-pantai tak berpenghuni dan selebihnya pepohonan di tepi pantai yang tak berpasir. Tampak juga perahu nelayan yang menggunakan cadik yang berfungsi sebagai penyeimbang kapal.

Menuju Swarnadwipa, kami melewati beberapa pulau dan hampir semua berpasir putih. Selama ini wisata alam Sumatera Barat identik dengan pegunungan dan kuliner. Sejak beberapa tahun terakhir wisata bahari cukup menggeliat: pulau Mandeh, Cubadak, Pamutusan, Pagang hanya sebagian kecil pulau cantik di pesisir Sumbar.


pulau Sikuai

Beberapa saat sebelum tiba di lokasi, ada sebuah resort pantai, hanya saja lebih kecil. Awalnya saya pikir Swarnadwipa merupakan pulau terpisah dari Sumatera. Rupanya…tempat ini masih di pulau Sumatera. Hanya saja akses darat kesana terputus karena berada di balik bukit dan di pinggir pantai. Hingga saat ini, jalur laut menjadi satu-satunya akses ke Swarnadwipa. Swarnadwipa ini berada di seberang pulau Sironjong dan Sikuai.


pelantar dan tulisan Swarnadwipa, difoto pada hari Sabtu

Di Swarnadwipa

Perahu bersandar di dermaga. Berjalan melewati pelantar dari kayu, kami tiba di rumah besar beratap runcing khas Minangkabau yang berfungsi sebagai resepsionis merangkap restoran dan dormitory. Sekeliling resort ini hutan dan pepohonan hijau. Tidak ada perkampungan. Benar-benar in the middle of nowhere.


kamar model dormitory, lengkap dengan kelambu

Usai menitipkan barang, acara ICV dimulai di lapangan berpasir yang disebut medan nan bapaneh.

Acara dimulai dari perkenalan semua fasilitator. Dari sekian fasilitator, ada seorang yang (maaf) agak kemayu haha. Mas-mas ini menjadi ‘bintang’ hari itu dan sering digoda oleh para peserta.

Setelah pembentukan tim dan membuat yel-yel, kami mengikuti permainan tim. Total ada 6 permainan yang wajib diikuti peserta. Semua permainan menguji kekompakan, kerja sama  dan kecerdasan tim. Seperti memindahkan bola dengan sumpit, memindahkan bola dengan mata tertutup, memindahkan kelereng dalam labirin, memindahkan puzel lego, memindahkan istana kayu, memindahkan air dengan ember. Hm, kenapa permainannya memindahkan barang semua ya hahaha. 

Usai permainan, kami makan siang di restoran. Makanan ditata di atas sebuah bekas perahu asli yang berfungsi sebagai meja makan. Habis makan, kami kembali ke lapangan untuk menuntaskan permainan besar yaitu membuka spanduk dengan cara mengisi air. Jika air terisi penuh, spanduk akan terbuka.


tarif permainan air 

Sorenya acara bebas, boleh snorkeling, main kayak, berenang atau naik banana boat atau sekedar santuy di pantai pakai kursi malas dan hammock. Karena kantor sudah membayar paket permainan, saya tak perlu merogoh isi dompet untuk bermain. Saya memilih naik banana boat karena belum pernah mencoba sebelumnya. Mau snorkeling saya tidak bisa berenang. Mau naik donat boat dan jetski alatnya tidak tersedia.

Sebelum naik si perahu pisang, saya harus memakai pelampung, lalu berjalan di atas jalur semen ke tengah laut. Jalannya sangat licin karena berlumut. Meski ada pegangan tali, saya beberapa kali hampir tergelincir terpeleset.

Naik banana boat sebenarnya biasa saja, keseruannya ketika kapal penarik akan tiba-tiba berbelok tajam. Alhasil perahu terguling dan semua penumpang jatuh ke air. Sebelum perahu terguling, petugas akan memberi aba-aba untuk melepas pegangan.

Saat jatuh ke air, saya merasa tenggelam beberapa detik sebelum akhirnya pelampung membuat saya timbul. Begonya saya, saya tidaksempat  menutup mulut dan terminum air laut. Huff…

Ingin naik kano air laut masih surut. Main ayunan saat surut seperti ini rasanya aneh dan kurang instagenik wkwkw. Air laut baru pasang waktu malam hari.

Ohya, karena jauh dari mana-mana di tempat ini susah sinyal. Sinyal data tidak berfungsi. Kalau mau menelepon harus menuju ke suatu titik dimana dipasang foto booth lusuh. Disitulah kami mengantri untuk sekedar sms atau telpon dengan keluarga.

Selain sinyal, masalah lain disini adalah kamar mandi. Tidak ada pintu kamar mandi dan toilet permanen  kecuali tirai putih. Di tempat lain kamar mandi di cottage malah katanya atap kamar mandinya terbuka! Memang selain kami, waktu kami di sana di resort ini lebih banyak bule yang menginap. Turis lokalnya  bisa dihitung.

Beberapa bangunan di tempat ini terbuat dari batu karang. Sewaktu gugling mengenai Swarnadwipa, saya sempat menemukan artikel di internet kalau pengelola tempat ini diberi sanksi hukum karena membangun resort menggunakan karang hidup dari laut. Klik di sini untuk membaca beritanya.


dinding karang di toilet

Habis makan malam, kami kembali ke lapangan. Sambil duduk, panitia menyiapkan beberapa acara seperti lomba rangking satu, lomba tebak gaya, tukar kado dan joget dangdut. Biar semakin meriah, panitia menyiapkan api unggun sambil bakar jagung.

Padang-Muara Bungo

Habis sarapan, saya keliling resort. Pantainya putih dan landai, tetapi banyak batu karang. Resortnya sendiri tidak terlalu luas dan di sekelilingnya hutan lebat. Kalau mau kabur juga susah karena dikepung laut hahaha. Kalau dilihat dari dermaga, justru pantai di depan resort lebih luas dan lebih sepi.

Tidak jauh dari lapangan tempat kami buat acara tadi malam rupanya sebuah tempat kemping. Sayang nuansanya horor karena sudah lama tidak dipakai dan malah dijadikan tempat pembuangan sampah.

Usai berfoto bersama, kami kembali ke pelabuhan Bungus. Kali ini jumlah penumpang bus berkurang karena sebagian kawan saya memilih untuk extend di Padang. Mumpung di Padang, sayang kalau tidak ke mall hahaha.

Siangnya kami makan di rumah makan Salero Kampuang, Solok. Malam hari rencana rombongan akan makan di RM Saoenk Kito Muara Bungo. Saya memilih turun di Simpang Somel. Dari Simpang Somel ke Rimbo Bujang saya minta dijemput satpam kantor.

2 Comments Add yours

  1. Avant Garde berkata:

    Kalo kata temenku yg suka pantai, pantainya lumayan sih, tp emang gak terlalu luas dan panjang, masih kalah dengan pantai misal pasumpahan, sironjong, cubadak.. tp kalo suka watersport dan cari yg agak sepi, swarnadwipa tempatnya 🙂

  2. Firsty Chrysant berkata:

    Pengen ke sini blm jadi2. Kayanya ngga bagus2 amat ya tempatnya? Opps…:)

Pembaca yang budiman akan meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s