Tanah Kongsi dan Wisata Tersembunyi Padang Lainnya

“Coba ajak bang Bayu,” Ucap Ridha tatkala kami selesai sarapan sate Padang di Manang Kabau. Sungguh niat sekali kami. Pagi-pagi jam 7 rela jauh-jauh sarapan di Manang Kabau. Kata Ridha, pelanggan pertama Manang Kabau selalu diberi sate dua bungkus ketika pulang. Benar kata Ridha, karena kami pelanggan pertama, pulangnya kami dihadiahi dua bungkus sate Padang cuma-cuma.

Saya mengenal Ridha belum terlalu lama. Kami sama-sama bergabung di grup WhatsApp CouchSurfing Padang, tetapi tak terlalu mengenal atau intens bercakap-cakap. Malah, saya sempat mengira Ridha ini seorang perempuan. Hingga berawal dari kegelisahan kami berdua tentang dunia per-CouchSurfing-an (isu bule hunter, pengguna CS adalah anak-anak yang hanya ingin belajar bahasa Inggris, hingga abainya CS lokal terhadap CS lokal, tetapi bisa jadi sangat ramah kalau ada CS bule). Saya juga curhat betapa sulitnya mendapat host CS lokal ketika iseng mencari host di Padang.

Dari kesamaan pemikiran, saya sepakat menemui Ridha untuk berdiskusi banyak hal ketika berkesempatan ke Padang suatu saat nanti.

Februari 2020, Cicilia, teman dari CouchSurfing Padang berencana pulang dari Australia karena adik tercinta hendak melepas masa lajang. Saya berencana hadir ke acaranya karena kebetulan memang tak ada acara di hari tersebut. 

Pagi hari ketika langit Padang masih tersisa merahnya, saya dijemput Ridha pakai motor di loket travel yang berada di kawasan Ulak Karang. Rumah Ridha katanya tak jauh dari loket. Ketika bertatap muka, melihat mukanya yang berahang tegas saya pikir Ridha seorang Batak. Rupanya ia Minang tulen. Kuliahnya desain komunikasi visual, dan kini ia mempunyai sebuah toko pakaian olahraga yang berada tepat di depan rumah yang dikelola bersama abangnya.

Usai urusan Ridha kelar, kami beranjak ke hotel untuk titip barang dulu sebelum nanti jam 12 check in  lantas meluncur ke arah Kota Tua tepatnya di kelenteng baru di kawasan Pondok. Ridha janjian bertemu dengan Ubay di dekat kelenteng. Tak lama Ubay datang dengan topi pet dan sendal gunung yang menjadi ciri khasnya. Motor kami parkir dekat kedai om Ping. Kami lanjut jalan kaki. Ini adalah pertemuan kedua saya dengan Ubay setelah jalan bareng ke Pariaman tahun lalu bareng Aul. 

Saya berjalan di belakang mengikuti langkah Ubay dan Ridha yang berada di depan. Masuk ke lorong di depan kelenteng  yang sepertinya sebuah pasar tradisional, pasar Tanah Kongsi. 

Pasar Tanah Kongsi memang tak sebesar Pasar Raya. Namun, pasar ini adalah salah satu pasar tertua di kota Padang selain Pasar Mudik di kawasan Pasar Gadang (kini sudah tak ada lagi) dan Pasar Kampung Jawa (kini menjadi Pasar Raya).

Tak hanya pedagang etnis Minang, etnis Tionghoa ramai berjualan dan berbelanja di pasar ini. Tanah Kongsi, sesuai namanya, pasar ini dibangun oleh beberapa perkumpulan marga Tionghoa di Padang, berkongsi (bekerja sama) dengan etnis lain seperti Minangkabau, Batak dan Nias.

Ubay menunjukkan beberapa jajanan legendaris di Pasar Tanah Kongsi. Bakmie dan mie tiaw, pukis, martabak tipis, cakue hanyalah segelintir kuliner khas di Pasar Tanah Kongsi yang menjadi magnet pecinta kuliner tradisional.

Ubay membeli mie tiaw  dan kopmil sedang saya penasaran seperti apa rasa tahwa atau kembang tahu. Di Tanjung Batu, saya cuma tahu es tahu yang sebenarnya merupakan es susu kedelai. Nah, semangkuk kembang tahu mengingatkan pada tekstur puding yang lembut disiram kuah jahe yang beraroma kuat sedikit manis. Unik sekaligus aneh tetapi justru membuat ketagihan. Kapan-kapan ke Padang lagi pasti saya beli tahwa deh. Lokasinya tepat di depan kelenteng.

Pasar Tanah Kongsi juga rumah dari beberapa kedai kopi legendaris di Padang seperti Kopmil (Kopi Milo) Om Ping. Saya pernah mencoba kopmil di Alai bareng Bara, tetapi baru kali ini menyambangi  pusatnya yang berada di Pondok.

Melihat Padang dari Ketinggian

Kembali saya naik ke motor Ridha. Saya tak tahu dan tak terlalu peduli mau dibawa kemana oleh Ridha dan Ubay. Biarlah menjadi kejutan lagi. Kami menyeberangi sungai Batang Arau, ke arah lapangan Siti Nurbaya, lalu melewati jalan baru ke pantai Air Manis.

Jalan yang mulus nan berkelok-kelok membelah tebing dan suguhan panorama lautan Hindia di kejauhan. Banyak pedagang makanan dan minuman menangkap peluang dengan berjualan di tepi jalan menawarkan panorama pantai dan laut biru.

Tiba di simpang pantai Air Manis yang terkenal dengan Batu Malin Kundang, Ridha berbelok ke arah pusat kota. Menelusuri punggung bukit yang berkelok-kelok dan menanjak, hingga akhirnya tiba di sebuah warung makan. Kedai Riri Puncak Koto Kaciak. 

Motor kami parkir di warung tersebut. Kami berjalan melalui jalan tanah berbatu di depan warung. Sempat melihat banner lokasi paralayang. Saya makin penasaran, tempat apa yang hendak dituju Ubay. Jalan semakin menanjak. Tak lama, kami tiba di puncak sebuah bukit bertuliskan Bukit Gado-Gado. Wow, di bawah kami adalah pantai Air Manis dihiasi pulau Pisang Gadang, pulau Pisang Ketek dan samudera Hindia. Di sebelah kiri sepertinya adalah pelabuhan Teluk Bayur. 

Wow, teringat dengan panomara Bukit Langkisau atau bahkan Puncak Lawang, tetapi minus gunung. Keren. Saya pernah melihat Padang dari ketinggian di taman Siti Nurbaya (Gunuang Padang), tetapi tempat ini lebih spektakuler karena lebih tinggi. Ah, saya yang berkali-kali ke Padang menyesal baru ke tahu tempat sebagus ini dari Ubay. Kata Ubay lagi, tempat ini masih sepi, bersih dan aman dari jangkauan instagrammer Padang dan memang belum dikelola oleh pihak terkait.

Di belakang terdapat landasan besi agak luas sebagai arena luncur paralayang. Sepi. Selain kami bertiga, hanya ada sepasang remaja yang sepertinya juga sengaja jalan-jalan ke bukit ini. Kata Ubay, nama bukit ini adalah Bukik Aia Manih (Bukit Air Manis). Meski di papan kayu ditulis Gado-gado Hill dan di warung tempat parkir ditulis Bukit Koto Kaciak.

Ubay dan Ridha mengeluarkan gawai masing-masing. Sibuk memotret bergantian dengan berbagai pose. Saya duduk membuka lembaran buku yang dibawa Ridha dari rumah. Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini. Saya pikir buku yang diangkat menjadi film ini adalah novel, rupanya sebuah buku kumpulan syair dan quote.

Beberapa saat, saya minta Ubay dan Ridha memotret saya. Cekrek, jadilah beberapa foto yang ada sayanya. Ridha sendiri seorang pegiat levitasi. Susah juga rupanya berfoto dengan teknik tersebut.


Foto oleh Ridha

Ridha, saya dan Ubay. Foto oleh Ubay

Surya semakin membakar kulit. Kami turun ke bawah. Sebelum pulang, kami harus membayar ongkos parkir di warung tersebut. Pemandangan di depan warung sebenarnya cukup bagus, hanya saja kalah oleh semak dan tiang listrik.

Kami berpisah. Ubay hendak pulang ke rumahnya di kawasan Andalas, sedang saya dan Ridha ke arah Khatib Sulaiman. Terimakasih Ridha dan Ubay buat jalan-jalannya. Sore harinya, kami meet-up di V CoffeRimbo Kaluang bersama CS Padang.


Gathering CS Padang, foto oleh Ridha


7 respons untuk ‘Tanah Kongsi dan Wisata Tersembunyi Padang Lainnya

  1. ya begitulah, di CS banyak bule hunter.. Untungnya pas ke sulawesi-papua tahun lalu, banyak yg menerima saya .. malah di makassar banyak bgt yg nawarin tumpangan..

    pasar tanah kongsi ini dulu saya sering belanja ke sana sekalian sarapan mie ayam di depan rumah duka itu, di sebelah gang ke pasar tanah kongsi.. menurutku dan anak2 beasiswa star unand, itu mie ayam enak bgt, tapi kalau menurut tmn2 minang kayanya B aja,, cobain aja bung kalau ke padang lagi..

    wah, ada ane di foto terakhir wkwk..

    -traveler paruh waktu

    1. Huhuhu… sedih ya Bar kalo mau nebeng lalu ditolak karena kulit kita sawo matang, ndak bule …. 😦

      Hm…mie ayam.. menarik nih, PR kalo ke tanah kongsi cobain mie ayamnya hehe… Ingat namanya nggak Bar?

      Udah kangen banget nih pengen jalan-jalan, ke Padang, ke Jambi atau kemana gitu…

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s