Kerinci, Syair tentang Sekepal Surga

Manusia merencanakan, Tuhan menentukan.

Keinginan berlebaran di Bumi Sakti Alam Kerinci muncul tatkala saya batal pulang kampung pada Lebaran tahun ini. Pikir saya, tak apa tak mudik. Liburan sejenak ke Kerinci bisa jadi penawar perihnya tak bisa mudik. Apa daya… sederet aturan birokrasi membuyarkan semua rencana…

Ditunda dulu jalan-jalannya. Tunggu pandemi sirna. Ucap janji di jiwa.

Teman saya Yoni (www.elviandri.com) sedang pulang kampung ke Sungai Tutung, Kerinci. Sederhana sebenarnya keinginan saya: menyaksikan gunung Kerinci dari dekat rumahnya. Sore hari mandi air panas di pemandian dekat rumahnya. Ah, berulang kali saya mengirimkan permohonan maaf karena batal ke Kerinci.

Saya lantas teringat pernah membaca sebuah buku buah karya Yoni yang saya beli beberapa tahun silam. Kertasnya sudah menguning karena terlalu lama saya simpan sejak selesai saya baca. Safari Budaya, Kerinci: Sekepal Tanah Surga, Eksotisme Alam, Sejarah dan Budaya di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh Berbasis Kearifan Lokal

Judulnya memang sangat panjang. Sepanjang kenangan saya tentang Kerinci, kota dimana saya tinggal medio 2012 hingga 2013. Singkat, tetapi meninggalkan kenangan yang sangat dalam.

Baiklah, liburan ke Kerincinya dalam bentuk baca buku saja.

Buku ini ditulis oleh Yoni Elviandri dan Visi Digita Intari, keduanya putra putri asli Kerinci. Buku ini pengembangan dari buku Yoni terdahulu berjudul Catatan Perjalanan Jelajah Bumi Sakti Alam Kerinci.

Sekepal tanah surga
Sebuah anugerah untuk dunia
Kita sudah sama sama mengecapnya

O, tanah juita
Pusaka sepasang arwah cinta
Hembusan wangi nafas sejukmu
Menenteramkan hidup insani

Gazali  Burhan  Riodja  bin Haji Burhan Ilyas (1943-1970)

Sejatinya saya pernah bersua dengan Yoni pada suatu ketika di bandara Jambi. Saya baru saja turun dari pesawat menunggu mobil travel ke Bangko. Sementara Yoni sedang menunggu pesawat yang akan membawanya ke Jakarta. Namun, saya tak terlalu yakin pria muda berjas hitam di depan saya Yoni. Saya juga tak berusaha menyapanya. Lantas, saat saya sudah meninggalkan bandara baru teringat saya punya nomor ponselnya. Saat saya kontak, astaga, benar saja yang barusan saya lihat itu Yoni. 

Visi Digita Intari, saya tak terlalu mengenal nama ini. Hingga suatu ketika namanya ada di grup WA admin media sosial kantor se-kanwil. Saya japri, benar saja, ia penulis buku ini. Semoga ada kesempatan untuk bersua dengan mereka berdua.

Yoni, sang penulis buku dengan jujur mengatakan ia terlambat menyadari Kerinci itu surga. Ia baru sadar tatkala ia pergi merantau ke pulau Jawa. Jauh dari orang tua dan kampung halamannya di pelosok Sumatera.

Sedangkan saya, merasa de javu begitu menginjakkan kaki pertama kali di Kerinci. Kota ini, dikelilingi sawah dan gunung tinggi mengingatkan saya pada Ambarawa dan Bandungan. Sama-sama memiliki danau (rawa) dan pegunungan. Perjalanan 6 jam dari Bangko dengan travel butut yang dihantam jalan rusak penuh lobang dan lumpur seakan tertebus dengan keindahan alam Kerinci.

Bagia sebagian orang, surga itu tak ada di dunia. Buat saya, surga itu ada di dunia. Sekepingnya ada di Kerinci. Jika Kerinci ibarat surga, tentu tak mudah mencapai surga.

Kerinci: Negeri Penuh Misteri 

Kerinci, negeri di atas awan. Ia adalah daerah paling jauh di provinsi Jambi. Waktu tempuhnya 10 jam perjalanan darat dari Kota Jambi. Namanya akhrab di kalangan pendaki gunung. Namun, bagi pelancong awam, ia samar terdengar bahkan banyak yang tak tahu Kerinci dimana.  Fyi, buku ini ditulis sebelum ada rute pesawat dari Jambi ke Kerinci.

Bahkan, sampai saat ini para ahli masih memperdebatkan asal usul nama Kerinci. Ada yang bilang dari kata “kering” dan “cair”. Warga Kerinci sendiri menyebut daerah dimana mereka tinggal dengan sebutan yang berlainan. Kincai, Krinci, Kincei dan Kinci. Sementara kolonial Belanda menyebut Korintji dan perantau dari Minang menyebut Karinci atau Kurinci.

Dr. Brennet Bronson, seorang peneliti berpendapat suku Kerinci lebih tua usianya dari suku Inca di Amerika Selatan (Jauhari dan Putra, 2012). Manusia Kecik Wok Gedang Wok dianggap sebagai penghuni awal Kerinci pada masa 750.000 SM hingga 10.000 SM sebelum kedatangan suku Proto Melayu yang datang dari Semenanjung Malaya antara 4.000 SM hingga 2000 SM. Suku Proto Melayu yang awalnya menghuni dataran tinggi di tepi danau Kerinci dianggap sebagai nenek moyang orang Kerinci.

Buku ini tak terlalu membahas tentang misteri dan mitos di Kerinci. Misalnya keberadaan manusia harimau dan makhluk mitologi uhang pandak (orang pendek) yang dikisahkan menghuni kaki gunung Kerinci dan gunung Tujuh.

Kearifan Lokal Berbasis Ekologi

Suku Kerinci memiliki berbagai upacara adat yang hingga kinin terus dilestarikan. Salah satunya Kenduri Sko. Acara ini digelar sebagai rasa syukur atas hasil panen yang melimpah, acara penobatan putra daerah menjadi Depati dan pencucian benda pusaka. Kearifan lokal lain yang masih dipegang adalah pengelolaan hutan adat secara swakelola masyarakat desa.

Pesona Alam, Sejarah, Budaya

Dari beberapa bagian di buku ini. Bagian ini merupakan bagian yang paling menarik. Tak banyak yang tahu jika Kerinci memasok 48% kebutuhan kayu manis di dunia. 

Gunung Kerinci dengan Puncak Inderapura merupakan titik tertinggi di Sumatera setinggi 3805 meter. Merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia dan gunung tertinggi di Indonesia setelah Carstenz Pyramid di Papua. 

Selain gunung Kerinci, ada “adiknya” yaitu Gunung Tujuh yang memiliki danau vulkanik tertinggi di Asia Tenggara dengan ketinggian 1.950 mdpl yaitu Danau Gunung Tujuh.

Penerbangan dari Padang menuju Jakarta di pagi hari adalah penerbangan terindah dimana saya bisa melihat puncak Kerinci dan gunung Tujuh dari ketinggian. 

Tak lengkap berkunjung ke Kerinci tanpa mengunjungi danau Kerinci dan kebun teh Kayu Aro. Kebun teh terluas di Indonesia dan kebun teh tertinggi kedua di dunia setelah Darjeeling di India.

Di kota Sungai Penuh sebagai kota terbesar di Kerinci, tak lengkap rasanya tanpa mengunjungi Bukit Khayangan titik tertinggi di Kota Sungai Penuh dimana terbentang danau Kerinci, kota Sungai Penuh dan gunung Kerinci di kejauhan. Bukit Khayangan adalah salah satu tempat favorit saya di Kerinci.

Di akhi petang bujalan-jalan*
Di akhi petang bujalan-jalan
Pgi buduo pasang-pasangan
Pgi burusik Bukit Khayangan

Mailah kito duduk buduo
Mailah kito duduk buduo
Same mumandang alam Kurinci
Sawah tibentang dusun bularik

Ku Sungai Liuk bujalan-jalan
Ku Sungai Liuk bujalan-jalan
Di bukit batu kito mumandang
Mumadu cinto kasih ngan sayang

Lirik lagu Sepatah Kato (Jufri Marsan)

Kerinci tak hanya tentang alam. Sejarah dan budayanya amat menarik untuk dikulik. Sejarah Kerinci dimulai sejak masa prasejarah dengan meninggalkan puluhan peninggalan berupa dolmen, menhir dan monolit di Lempur Mudik, Lempur Tengah, Pulau Tengah, Pulau Sangkar,  Jujun, Muak, Sungai Penuh dan daerah lain.

Masa Islam meninggalkan beberapa masjid kuno nan cantik yang masih bisa dilihat hingga kini. Di antaranya adalah Masjid Raya Rawang, Masjid Keramat Pulau Tengah, Masjid Kuno Lempur Mudik, Masjid Kuno Lempur Tengah, Masjid Kuno Tanjung Pauh Hilir dan Masjid Agung Pondok Tinggi. Masjid Agung Pondok Tinggi bahkan disematkan pada lambang kota Sungai Penuh karena nilai artistik dan nilai sejarahnya yang sangat tinggi.

Kuliner Khas Kerinci

Setelah jalan-jalan keliling Kerinci, perut lapar minta diisi. Sepiring nasi beras payo, dendeng batokok, gulai ikan semah adalah kuliner yang paling banyak dicari di Kerinci.

Setelah membaca buku setebal 96 halaman ini rasanya ingin segera berangkat ke Kerinci.  Pulangnya jangan lupa beli robusta Kerinci, dodol kentang dan teh kayu aro. Satu-satunya kekurangan buku ini yakni fotonya dicetak hitam putih. Meski demikian, ini justru membuat orang penasaran seperti apa Kerinci.

Percayalah, Kerinci tak hanya tentang danau Kerinci dan gunung Kerinci. Ada cerita tentang senyum ramah warganya dan sejuta pengalaman yang hanya bisa dirasakan jika berkunjung kesana.

Referensi:
https://kerincitime.co.id/sekilas-tentang-ghazali-burhan-riodja.html
https://kerincitime.co.id/puisi-puisi-ghazali-burhan-riodja-i.html
Foto buku: http://www.elviandri.com/2017/05/kerinci-sekepal-tanah-surga.html
 

7 Comments Add yours

  1. bersapedahan berkata:

    Alam Kerinci memang indah ya …
    memang tipikal-nya orang selalu melihat rumput tetangga lebih hijau 🙂
    sampai akhirnya ada dirumah tetangga dan melihat rumput rumah sendiri jauh lebih hijau …. hahaha

    1. Avant Garde berkata:

      Ahahaha…. menarik nih, berarti harus sering2 main ke rumah tetangga ya mas?
      #eh

  2. bara anggara berkata:

    tiap terbang pagi dari padang ke jakarta, ku selalu menatap gunung kerinci dan danau-danau di sekitarnya..

    ingin rasanya berkunjung ke Kerinci.. Bagaimana kalau kita rencanakan ke Kerinci bung? tapi tentu tidak dalam waktu dekat ini..

    -traveler paruh waktu

  3. Nasirullah Sitam berkata:

    Aku tahu banyak tentang Kerinci sewaktu membaca buku Menyusuri Garis Bumi. Bagaimana rute yang menantang, adanya perkebunan Teh luas, dan yang lainnya. Semoga ada kesempatan melihat langsung Gunung Kerinci

    1. Avant Garde berkata:

      Amien mas, ini saya langsung gugling bukunya 🙂

Pembaca yang budiman akan meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s