Banka Trip (2) : Musi Rawas

Langit hampir gelap, matahari telah lama masuk ditelan ufuk. Lubuk Basung Jaya, bus yang saya naiki perlahan meninggalkan kota Bangko. Saya kerap kali tidak memiliki pilihan lain selain bus jika hendak pergi ke kota sebelah, Lubuk Linggau. Ada dua agen travel yang melayani rute ke Palembang lewat Lubuk Linggau. Ongkos kedua travel ke Lubuk Linggau sekitar Rp 180.000,-. Hampir menyamai ongkos travel ke Palembang sebesar Rp 220.000,-. Aneh, bukan?

DSC05707

Jarak Lubuk Linggau ke Bangko ‘hanya’  empat jam ditempuh naik bus. Lebih cepat lagi jika naik travel atau kendaraan pribadi. Semua bus jurusan Jakarta dan Bengkulu melewati Lubuk Linggau.

Setelah naik bus, saya mendapati dua buah kursi kosong di bagian belakang sebelah kiri. Tak lama, seorang pria berkulit menghampiri saya.
“Seratus, Bang!” kondektur mengembalikan uang saya untuk membayar ongkos bus.
“Lah, biaso enam puluh, Bang!” jawab saya keheranan.
“Lebaran ko, Bang. Sudah, sembilan puluh.” nada bicaranya sedikit melunak.
“Dak lah, Bang, biaso enam puluh dak? Kalo dak mau, aku turun.”
Hening, setelah beberapa kali menawar, saya menyerahkan uang sebesar delapan puluh ribu menuju Lubuk Linggau.

Ketika saya menempuh pendidikan tinggi di Palembang beberapa tahun lalu, kota terjauh di Sumatera Selatan yang saya datangi adalah Tanjung Enim dan Lahat. Saya ke Tanjung Enim ke tempat paman saya yang bertugas di kompleks PLN Bukit Asam. Sejak saya bekerja di Bangko, saya lebih akhrab dengan Musi Rawas dan Lubuk Linggau, daerah paling barat di Sumatera Selatan.

Setelah melewati deretan kebun sawit dan pemukiman yang tidak terlalu padat, saya tiba di kota Sarolangun, ibukota kabupaten dengan nama yang sama. Kota ini tata kotanya mirip dengan Bangko, linier alias segaris lurus. Pusat kota berada di pertemuan jalur ke Jakarta dan Jambi, tidak jauh dari sungai Batang Tembesi yang merupakan anak sungai Batanghari.

Sebelum masuk wilayah Sumatera Selatan, bus saya singgah di Singkut untuk mengambil penumpang. Sebuah keunikan, jika tidak dibilang keanehan. Dari arah Singkut (provinsi Jambi), terdapat gerbang provinsi Sumatera Selatan baru gerbang provinsi Jambi.

Kabupaten pertama yang kami masuki bernama Musi Rawas Utara, disingkat Muratara. Pemekaran dari Musi Rawas (Mura). Daerah sepi ini dulu identik dengan gelap dan kriminalitas jika malam. Dulu jika melintas daerah ini, bus harus memberikan “upeti” kepada warga yang menyenteri bus. Jika tidak, jangan berharap aman.

Ikon kabupaten ini adalah sungai Rawas dan jembatan Muara Rupit. Muara Rupit adalah ibukota kabupaten muda ini. Sekilas jembatan ini mirip dengan jembatan Beatrix di Sarolangun. Jembatan Muara Rupit terletak di sebelah kanan jalan lintas Sumatera.

Musi Rawas Utara sekilas berupa daerah sepi dengan pemukiman yang tidak terlalu padat. Di kala malam, daerah ini relatif gelap. Proses pendirian daerah otonom ini penuh dengan perjuangan dan pertumpahan darah. Beberapa kali bentrok mewarnai proses pemekaran daerah ini dari kabupaten Musi Rawas.  

Masuk kabupaten Musi Rawas, pemukiman sudah mulai padat. Sekitar satu jam lagi saya akan masuk ke kota Lubuk Linggau.

Iklan

34 comments

  1. Masih bayangin, kapan apa aslinya daerah-daerah Sumatera Selatan itu. Baru ke Sumbar aja soalnya pengalaman menginjak Tanah Sumatera nya.

  2. Masih bersambung ya ini? Aku serasa napak tilas, kebayang banget jalan2nya sepanjang Bangko-Lubuk Linggau, huhu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s