Rimbo Bujang [Prekuel]

Padang, 2012
Saat itu saya bertugas di Sungai Penuh. Pertama kali mendengar nama kota Rimbo Bujang dari kang Ali Sofyan Al Kabayani. Waktu itu kami bertemu saat rekon di Padang kalau tidak salah. Kang Ali ini kawan dekat kang Yadi, teman sekantor saya di Bangko.

Saya heran kenapa KPP Pratama Muara Bungo punya 2 KP2KP* yang semuanya berada dalam di kabupaten Tebo. Satu-satunya kabupaten di Indonesia yang punya 2 KP2KP dalam wilayahnya. Jawab kang Ali, KP2KP-nya berada di dua ‘kota’ karena masing-masing punya karakteristik sendiri meski satu kabupaten. KP2KP Muara Tebo berada di Muara Tebo yang merupakan ibukota kabupaten Tebo. Sedangkan KP2KP Rimbo Bujang berada di Rimbo Bujang yang merupakan pusat perekonomian Kab. Tebo sekaligus ‘kota’ terbesar di Kab. Tebo.

***

Dari Sungai Penuh, saya pindah ke Bangko. Sewaktu tinggal di Bangko, kalau kantor kami mengadakan acara, konsumsi atau cateringnya beberapa kali pesan sate kambing dari Rimbo Bujang. Kami sengaja memesan jauh-jauh dari Rimbo Bujang karena salah satu pegawai kantor yaitu mas Nyco asli Rimbo Bujang dan kenal sama ibu yang punya catering . Di Jambi bagian Barat, Rimbo Bujang dikenal dengan kuliner khas sate kambing. Biasanya kami memesan sate kambing, tongseng dan gulai kambing dari Sate Buk Lis. Pernah juga pesan kambing guling.

September 2017

Mumpung mas Nyco lagi mudik ke Rimbo Bujang, kami diundang untuk main-main ke rumahnya di Rimbo Bujang. Tepatnya sih rumah orang tua mas Nyco. Mas Nyco sendiri tinggal di Jambi. Kadang-kadang  saja ia pulang ke Rimbo Bujang.

Karena belum pernah ke Rimbo Bujang, tentu saja saya tertarik jalan-jalan kesana. Saya tidak sendiri, tetapi bareng keluarga dan keluarganya bang Refli, teman sekantor. Kami pakai mobil bang Refli. Makin ramai di mobil karena bang Refli bawa Athar dan saya bawa Quinna. Athar ini anaknya cerewet dan sering nanya-nanya ke Quinna, padahal Quinna sendiri anaknya agak cuek. Hahaha..


Athar, jagoan bang Refli

Dari Bangko kami berangkat agak pagi. Rimbo Bujang ini cukup jauh dari Muara Bungo. Bangko ke Rimbo Bujang ini sekitar 2,5 jam.


jalan ke arah Muara Bungo


Banner hotel di Muara Bungo

Tiba di Muara Bungo, entah kenapa saya tertarik melihat banner salah satu hotel. Beberapa kali saya dan istri staycation di Muara Bungo dan belum pernah menginap di hotel S. Marsya. Pernah waktu browsing hotel di Muara Bungo waktu mau cek kondisi kesehatan saya, hotel ini rupanya agak jauh dari pusat kota, jadinya kami menginap di Bungo Palm yang lebih dekat ke pusat kota.

Rencana mau makan siang di Rimbo Bujang jadi tak singgah di Muara Bungo. Patokan ke Rimbo Bujang kalau dari arah Muara Bungo, habis SPBU Simpang Sawmill, terdapat bank BRI Unit Sawmill dan KP2KP Rimbo Bujang. Iyah, namanya KP2KP Rimbo Bujang tetapi kantornya di wilayah Bungo, bukan di Rimbo Bujang. Habis KP2KP Rimbo Bujang terdapat Alfamart dan Indomaret tidak jauh dari simpang empat. Namanya Simpang Sawmill (dibaca Simpang Somel). Dari Simpang Somel, kami belok kanan.

Info dari mas Nyco, patokan menuju rumah mas Nyco adalah setelah lewat dua jembatan dan satu Indomaret. Kalau sudah sampai di Indomaret kami disuruh telpon mas Nyco.

Dari Simpang Sawmill ke arah Rimbo Bujang, kesan pertama yang saya tangkap adalah Rimbo Bujang ini sepi sekali. Sepanjang jalan yang ada hanyalah kebun karet, sawit,  dan sedikit rumah warga. Simpang Sawmill ini sepertinya perbatasan antara Kab. Bungo dan Tebo. Masuk beberapa kilometer dari simpang, habis penanjakan ada kantor PTPN VI Rimbo Satu Kab. Tebo. Sayang tidak ada gapura atau penanda masuk ke wilayah Kab. Tebo sehingga saya tidak tahu dimana batas persis kedua kabupaten ini. Jalan dari Simpang Sawmill ke arah Rimbo Bujang sempit, mengingatkan saya pada jalan Bangko-Jangkat. Jalan belasan kilometer, kami melewati SMPN 30 Tebo.

Beberapa ratus meter setelah SMPN 30 Tebo dan STIT Al Falah Tebo, kami melewati jembatan kedua dan beberapa ratus meter sesudahnya terdapat Indomaret, pas di sebelah Alfamart. Tiba di Indomaret kami telpon mas Nyco minta dijemput. Beberapa menit menunggu, mas Nyco datang. Kami tak langsung ke rumahnya melainkan ke pasar dulu mengambil pesanan sate mas Nyco.

Tidak jauh dari tempat kami menunggu, terdapat Pos Pajak Rimbo Bujang milik KP2KP Muara Tebo. 

Kesan pertama Rimbo Bujang adalah kotanya cukup ramai, meski tidak seramai Bangko. Jalan utama Rimbo Bujang terdiri dari dua jalur yang terpisah dengan jalur hijau dan lampu jalan. Di kiri dan kanan tampak ruko-ruko yang seakan tiada habisnya.

Sekilas Rimbo Bujang ini sudah seperti kota otonom atau setidaknya kota kabupaten, padahal Rimbo Bujang adalah sebuah kecamatan di bawah pemerintahan Kab. Tebo. Hanya, Rimbo Bujang lebih ramai dari Muara Tebo yang merupakan ibukota kabupaten. 


kota Rimbo Bujang


sate Slamet Pekalongan, Rimbo Bujang

Rumah mas Nyco tidak berada di tepi jalan utama, melainkan masuk dari simpang depan Alfamart. Tidak tanggung-tanggung, jarak dari jalan raya ke rumah mas Nyco berjarak sekitar 6 km. Kami tidak langsung ke rumah melainkan ke ruko sederhana kepunyaan orang tua mas Nyco. Disana ibu mas Nyco berjualan baju dan asesoris.

Dari toko ke rumah mas Nyco melintasi jalan tanah yang belum diaspal, masuk gang hingga akhirnya tiba di rumah orang tua mas Nyco. Desa tempat tinggal mas Nyco ini namanya Tirta Kencana. Namun, warga Rimbo Bujang lebih mengenal dengan nama Unit 6 yang merupakan istilah lama waktu zaman transmigrasi.

 

Rumah orang tua mas Nyco halamannya luas. Ditanami aneka bunga dan buah. Tak kurang dari buah naga, rambutan, pepaya tumbuh subur. Di samping rumah ditanam cabai. Orang tua mas Nyco sebagaimana warga keturunan Jawa di Rimbo Bujang fasih berbahasa Jawa halus (krama inggil). Saat ini, kebanyakan generasi muda Rimbo Bujang tak terlalu mengenal bahasa Jawa halus.

Dibelakang rumah terhampar kebun karet. Bersama Quinna dan Athar, kami keliling ke pinggiran kebun. Mengutip biji karet yang terjatuh. Jadi ingat salah satu episode di film Upin dan Ipin dimana mereka bermain biji karet saat menemani Opah bekerja di perkebunan karet.

Orang tua mas Nyco asli Sragen, Jawa Tengah. Tahun 1970-an datang merantau ke Rimbo Bujang bersama ratusan warga lainnya dari Jawa Tengah sebagai seorang transmigran. Dulu sekali, setiap warga transmigran diberi tanah 1 hektar untuk tempat tinggal dan 4 hektar untuk bercocok tanam. Lahan yang ada ditanami karet atau kelapa sawit.

Selesai tur singkat di kebun karet, tuan rumah mempersilakan kami untuk makan siang. Biasanya kami makan sate kambing Rimbo Bujang di Bangko, kali ini kami makan di tempat aslinya. Tak hanya sate kambing, tuan rumah juga menghidangkan sate ayam dan gulai kambing. Katanya, belum sah ke Rimbo Bujang kalau belum makan sate kambing.

  

Kelar makan, ngobrol ngalor ngidul, kami berpamitan. Tak langsung pulang ke Bangko, kami singgah dulu  ke toko pakaian punya orang tua mas Nyco. Istri saya membeli beberapa potong pakaian dan asesoris. 

Linimasa/Epilog

17 September 2018: keluar SK pemindahan saya dari Bangko ke Muara Bungo setelah hampir 6 tahun bertugas di Bangko dan Sungai Penuh.
24 September 2018: ngantor pertama kali di KP2KP Rimbo Bujang. Lucunya kantornya sendiri berada di Simpang Somel, wilayah Kab. Bungo, bukan di Rimbo Bujang yang notabene masuk wilayah Kab, Tebo.
5 Oktober 2018: sekian lama bolak-balik Bangko-Muara Bungo, baru ada perpisahan saya oleh kantor lama.
6 Oktober 2018: pindahan dari rumah lama di Bangko ke Muara Bungo. Rumah kontrakan saya berada di gang belakang hotel S Marsya!
4 Februari 2019: kantornya pindah gedung dari Simpang Somel ke Rimbo Bujang.
18 Juni 2019: saya akhirnya cari kontrakan di Rimbo Bujang, tepatnya di jalan 8.
19 Juli 2019: sebulan ngekos, saya pindah kosan. Masih di jalan 8, hanya saja beda gang.

NB: KP2KP, Kantor Pelayanan, Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan, unit kerja di bawah KPP. Bisa dibilang cabang dari KPP. Biasanya berada di kota kecil/kabupaten yang agak jauh dijangkau dari KPP. Beberapa KP2KP punya ‘cabang’ lagi yang disebut Pos Pelayanan Pajak. 

7 Comments Add yours

  1. bersapedahan berkata:

    rimbo bujang …. baru dengar ada kota namanya seperti itu …. hehe … menurut saya sih seru banget main2 ke kota2 kecil seperti ini.
    brtw …. halaman rumah Nyco luas bangetttt …. asyik banget punya rumah seperti itu 🙂

    1. Avant Garde berkata:

      betul mas, namanya di desa hehehe…

  2. rynari berkata:

    Rimbo Bujang sangat akrab di ingatan saya, Mas Isna. Meski belum pernah berkunjung hehe. Daerah transmigrasi ya, teman2 sekelas kuliah belajar survei tanah. Selamat bertugas di penempatan baru. Salam

    1. Avant Garde berkata:

      Terimakasih bu Prih 🙂

  3. mysukmana berkata:

    Orang pajak kerja keliling terus asik ya om

    1. Avant Garde berkata:

      nggak asiknya jad gak punya tempat tetap mas 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s