Museum Sri Baduga, Permata Tatar Sunda

Tuhan menciptakan Jawa Barat sambil tersenyum. Sebuah ungkapan tentang keindahan Tatar Sunda. Memiliki penduduk terbanyak di Indonesia, alam yang luar biasa indah, dan kuliner lezat merupakan kekhasan provinsi Jawa Barat. Tak hanya itu, sejarah dan budayanya juga menarik untuk disimak.

Menyebut Jawa Barat tak bisa dipisahkan dengan nama Prabu Siliwangi. Sang raja legendaris yang namanya masih bergema di Tatar Sunda hingga saat ini. Banyak versi cerita yang berkembang di masyarakat. Banyaknya situs peninggalan raja terbesar di Pajajaran ini dan kematiannya yang misterius karena dianggap moksa masih menjadi teka-teki hingga sekarang.

1-2014-10-23 08.04.14

Ilustrasi Raja Siliwangi (memakai baju kuning)

Siliwangi diabadikan menjadi nama sebuah museum provinsi di Jawa Barat; museum Sri Baduga. Diambil dari nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Sang raja Pajajaran naik tahta pada 3 Juni 1482 Masehi. Tanggal penobatannya sekarang ditetapkan sebagai hari ulang tahun kota Bogor.

Gedung museum Sri Baduga terletak di jalan BKR, tepat di seberang Monumen Bandung Lautan Api di dalam lapangan Tegallega. Menggunakan bekas kantor pembantu bupati (wedana) Tegallega. Isinya menampilkan artefak sejarah dan budaya Jawa Barat.

Hayu urang ka museum, ngarah wanoh kana budaya, geusan cinta ka lemah cai. Ayo kita ke museum, supaya kenal budaya dan cinta tanah air sepertinya menjadi slogan yang tak banyak didengar. Masyarakat lebih tertarik berolahraga atau sekedar jalan-jalan ke lapangan Tegallega ketimbang melongok isi museum.

1-2014-10-23 08.47.35Museum, (masih) hanya menarik rombongan pelajar.

Saya datang terlalu pagi. Sambil menunggu museum dibuka, saya berkeliling mengamati satu persatu bebatuan kuno yang dipasang di halaman depan museum. Sebuah replika batu dakon dan menhir tugu Gede dari kabupaten Sukabumi menerangkan bahwa Jawa Barat sudah dihuni sejak zaman prasejarah. Dari masa sejarah, dari berbagai prasasti yang ditemukan, diketahui Jawa Barat merupakan wilayah kerajaan Pajajaran, kerajaan Galuh dan kerajaan Tarumanagara.

Picture1

 

Dari kiri ke kanan searah jarum jam : prasasti Tugu, batu dakon, prasasti Batutulis, menhir tugu Gede, prasasti tapak gajah (Kebon Kopi) dan prasasti Ciaruteun.

Di sisi lain museum ditampilkan replika kereta kencana Paksi Nagaliman dari keraton Kanoman Cirebon. Kereta ini menggambarkan sosok garuda, naga, gajah. Melambangkan kebudayaan Jawa, Tionghoa dan Arab sebagai unsur budaya masyarakat Cirebon.

Masuk ke dalam ruangan di lantai satu, saya disambut dengan relief interaktif sejarah terjadinya danau Bandung purba. Danau yang dulunya seluas 75 kilometer persegi membentang di wilayah Bandung raya. Meliputi kota Bandung, Cimahi, kabupaten Bandung dan Bandung Barat. Bandung sendiri bermakna “bendung” atau bendungan. Memori kolektif akan danau Bandung purba memunculkan berbagai nama tempat berawalan Ranca atau Situ yang bermakna danau di sekeliling Bandung.

Tidak hanya di Sukabumi, situs prasejarah tersebar di wilayah Jawa Barat meliputi taman purbakala Cipari di Kuningan, situs Pawon di Bandung dan yang paling terkenal adalah situs gunung Padang di Cianjur.

1-2014-10-23 08.18.28 makam kuno di situs Cipari

Pada masa Hindu Buddha, Jawa Barat merupakan wilayah kerajaan Tarumanagara yang menguasai Jawa Barat bagian utara mulai dari Banten hingga Karawang. Selanjutnya muncul kerajaan Sunda yang terdiri dari kerajaan Pajajaran dan Galuh. Ibukota Pajajaran berada di Bogor dengan wilayah meliputi Banten, DKI Jakarta dan bagian barat Jawa Barat sekarang ini. Sedan kerajaan Galuh yang berpusat di Ciamis meliputi bagian timur provinsi Jawa Barat dan sebagian kecil wilayah Jawa Tengah.

1-2014-10-23 08.05.37

Tak seperti kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah atau kerajaan Majapahit di Jawa Timur yang membuat banyak candi, kerajaan Hindu Buddha di Jawa Barat hanya menyisakan sedikit peninggalan. Peninggalan Buddha di situs Candi Batujaya di Karawang dan candi Cangkuang yang berlaras Hindu di Garut.

Pada masa Hindia Belanda, Jawa Barat dibagi menjadi lima karesidenan : Bantam (Banten), Priangan, Buitenzorg (Bogor), Cheribon, Karawang dan Batavia.

Beranjak ke lantai dua menampilkan kehidupan masyarakat Jawa Barat. Tidak banyak yang tahu bahwa model pakaian pengantin Sunda saat ini berakar dari pakaian pengantin Sukapura dari Tasikmalaya. Pengantin Sukapura hampir menyerupai pengantin Jawa. Perbedaan terletak pada kain batik, tutup kepala pengantin pria dan wanita.

Picture2Dari kiri ke kanan searah jarum jam : pengantin Sukapura-Tasikmalaya, Karawang, Abah-abah Cirebon, Cirebon dan Sumedang.

1-2014-10-23 08.43.06Sebuah panel menampilkan aneka permainan tradisional  yang kini hampir punah : masak-masakan, mobil-mobilan, enggrang, ketapel, dakon, pianika, layang-layang, istana, telpon benang, patok lele dan lain-lain.

Pada panel yang lain, saya melihat aneka rupa peralatan pedagang asongan makanan khas Jawa Barat. Meliputi mie kocok, baso-tahu-goreng (batagor), siomay, kerupuk dan bapao.

1-2014-10-23 08.46.25peralatan pedagang mie kocok

Ruangan paling istimewa terletak di lantai 3 : ruang masterpiece. Ruangan ini dilengkapi dengan pengamanan ketat dan penerangan remang-remang untuk alasan keamanan koleksi. Sebuah mahakarya dua dimensi karya pelukis Baskara menampilkan saat-saat dramatis saat raja Siliwangi moksa di hutan. Sementara pelukis Barli melukis tarian adat Sisingaan.

1-2014-10-23 08.36.451-2014-10-23 08.37.02

 

Pada panel lain ditampilkan mahkota raja Sumedang Larang yang terbuat dari emas. Selanjutnya ada pecahan mangkok Dinasti Ming yang diangkat dari kapal kuno yang karam di Karawang. Lantas terdapat koleksi kain batik kuno motif bulu hayam kepunyaan Bupati Galuh (Ciamis).

1-2014-10-23 08.34.44

Jawa Barat memiliki total 13 pahlawan nasional termasuk Otto Iskandar Dinata, Ir H Juanda, Laksamana REE Martadinata dan Dewi Sartika. Namun, tidak satupun yang ditampilkan dalam museum ini. Mari kita berkenalan dengan Upit Sarimanah dan Titim Fatimah yang namanya diabadikan di ruang masterpiece. 

 

Upit Sarimanah merupakan maestro seni Sunda dan penyanyi istana pada masa presiden Soekarno. Beliau lahir di Purwakarta pada tahun 1928 dan wafat pada 1992. Sebagai penyanyi tradisional Sunda, lagu yang dipopulerkannya adalah Mojang Priangan dan Bajing Luncat (Kosaman Djaja). Nama Upit mulai naik daun sejak menyanyi di radio Nederlandsche Indische Radio Omroep (Nirom) pda tahun 1940-an. Jelang usia senja, Upit pensiun dari dunia tarik suara menghabiskan waktu dengan menjadi pendakwah.

1-2014-10-23 08.44.45

piagam penghargaan dan piringan hitam Upit Sarimanah

Titim Fatimah juga merupakan penyanyi lagu Sunda. Ia merupakan penerus sekaligus murid Upit Sarimanah. Lahir di Medan tahun 1938, selanjutnya ia pulang kampung ke Subang. Selain sebagai sinden, ia pernah membintang sebuah film berjudul Si Kembar pada tahun 1961. Seperti pendahulunya, Titim pun merasakan sebagai penyanyi istana. Dari segi popularitas, Titim menyalip Upit. Dari menyanyi, Titim membuka berbagai usaha seperti peternakan dan taksi. Selain itu ia turut membangun sebuah sekolah rakyat yang saat ini bernama SDN Titim Fatimah di Subang.

1-2014-10-23 08.44.53

 

suasana peresmian sekolah Titim Fatimah dan koleksi kain kebaya Upit Sarimanah

Museum Sri Baduga
Jl. BKR No. 185 Bandung, Jawa Barat
Buka :
Selasa-Jumat : 08.00 – 15.30

Sabtu-Minggu : 08.00 – 14.00
Senin, hari libur nasional tutup.
Tiket :
Dewasa : 3.000
Anak : 2.000
http://museumsribaduga.jabarprov.go.id/

 

Iklan

6 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s