Jejak Sejarah Kota Tua Muara Tebo

Dari 11 kabupaten/kota di Jambi, bisa dibilang Tebo adalah daerah paling sepi penduduknya. Melewati jalan lintas sejak masuk dari perbatasan kabupaten Batanghari, sedikit keramaian hanya saya jumpai di sejumlah ibukota kecamatan. Di luar itu hanya kebun karet dan sawit yang mendominasi.

Jembatan sungai Batanghari, patung pahlawan Sultan Thaha, jalanan yang lebar nan sepi menjadi hal yang mudah diingat dari Muara Tebo, ibukota kabupaten Tebo. Agak di luar kota baru terlihat rumah dinas bupati, masjid agung Al Ittihad dan kompleks perkantoran pemkab Tebo. Masih banyak lahan tidur di Muara Tebo.

Muara Tebo sedikit bergeliat sejak ditetapkan sebagai ibukota kabupaten tahun 1999. Dari data statistik, Muara Tebo dihuni oleh 40-an ribu jiwa. Kalah jauh dengan Rimbo Bujang yang dihuni oleh 60-an ribu jiwa. Tak heran denyut perekonomian di Rimbo Bujang lebih terasa. Hal ini membuat Muara Tebo lebih mirip kecamatan ketimbang ibukota kabupaten.

 
tugu Sultan Thaha, pusat kota Muara Tebo

Bukan tanpa alasan Muara Tebo dipilih menjadi pusat pemerintahan saat pemekaran kab. Bungo-Tebo. Tak banyak yang tahu Muara Tebo sempat dijadikan ibukota Merangin (lama), sebelum akhirnya pindah ke Bangko. Muara Tebo lantas menjadi kawedananan pada masa kabupaten  Merangin. Muara Tebo juga basis pertahanan Sultan Thaha di wilayah hulu, setelah istana Tanah Pilih di Jambi dibakar oleh Belanda.

Dari Muara Bungo ke Muara Tebo bisa ditempuh selama 45 menit. Saya tak sendirian ke Muara Tebo, tapi bareng bang Rian, senior di kantor yang rupanya gemar menelusuri jejak-jejak bersejarah. Ini akan menjadi trip pertama kami di luar urusan kantor sekaligus trip pertama ke kota tua Muara Tebo.

Kami naik motor dari Muara Bungo. Melintasi jalan yang berkelok-kelok mengikuti alur sungai Batang Tebo. Di kiri dan kanan terbentang kebun karet dan sawit. Beberapa kali kami menjumpai mobil pengangkut karet atau sawit.

Tiba di Simpang Babeko sekilas menjumpai patung pahlawan dan rambu lalu lintas banyak hewan ternak. Ah, nanti saja mampir pas pulang.

Masuk ke kota Muara Tebo, suasana sepi itu masih terulang. Kalau di Jawa, Muara Tebo ini lebih mirip kota kecamatan. Sangat lengang. Kami singgah sebentar di KP2KP Muara Tebo, tidak jauh dari simpang tugu Sultan Thaha untuk melemaskan badan.

Dari simpang tugu Sultan Thaha, kami lurus menyusuri jalan Sultan Thaha hingga menemui tugu kipas, ikon lain kota Muara Tebo. Entah apa maksud tugu ini yang jelas orang lokal lebih mengenali dengan tugu Simpang Limo.

Tujuan pertama kami yaitu makam Sultan Thaha, satu-satunya pahlawan nasional asal Jambi yang diakui negara. Pintu gerbangnya ditutup rapat tak mengijinkan kami masuk. Nanti saja waktu perjalanan pulang kami singgah lagi.

Tidak jauh dari makam Sultan Thaha terdapat makam kuno berisi nisan orang-orang Belanda yang dimakamkan di Muara Tebo. Dari belasan makam yang tersisa, hanya dua buah makam yang bisa dikenali namanya. Selebihnya sudah tertimbun semak atau bahkan hancur dimakan zaman.

Kantor Pos Muara Tebo menjadi tujuan kami selanjutnya. Bangunan bergaya rumah panggung Melayu dari kayu ini dibangun tahun 1937 dan masih kokoh berdiri hingga kini. Tak ada perubahan dari kantor ini kecuali lantai teras depan yang diganti menjadi keramik. Sayang kantornya sudah tutup sehingga kami tak bisa masuk ke dalam.

Tepat di depan kantor pos adalah sebuah lapangan atau alun-alun Muara Tebo yang ditumuhi pohon beringin: Lapangan Merdeka. Di samping kantor pos merupakan bekas pelabuhan sekaligus pertemuan sungai Batang Tebo dan Batanghari yang sekarang menjadi taman Tanggo Rajo. Dari Taman Tanggo Rajo ini asal mula penamaan Muara Tebo, yaitu kota di muara sungai Batang Tebo.

Nama Tanggo Rajo juga disematkan menjadi nama pasar modern dua lantai di sebelah taman. Pasarnya sepi. Katanya, pasar hanya ramai saat hari Selasa dan Jumat.

Panasnya matahari terasa membakar kerongkongan. Kami singgah di kedai es campur dekat pasar lama Muara Tebo. Bapak tua penjual es campur rupanya tak terlalu paham sejarah Muara Tebo. Pasar dengan material kayu berlantai dua menjadi cikal bakal kota Muara Tebo.

 

Lagi asyik memotret pasar, pandangan tertuju pada patok beton pas depan pasar. Tulisan di patok sudah tak bisa dibaca. Apakah ini marka titik 0 km Muara Tebo?

Saya singgah sebentar untuk beribadah di Mesjid Jamik As Saadah yang merupakan masjid tertua di Muara Tebo. Tak tampak lagi kesan kuno karena bangunan masjid sudah direnovasi. Masjid dua lantai ini berada tepat di depan makam Sultan Thaha.

Untuk masuk ke kompleks makam ada sebuah pintu kecil di samping makam. Halaman makam sangat luas. Di dalam kompleks makam terdapat sebuah rumah yang sepertinya rumah penjaga makam.

Makamnya cukup terawat. Di sebelah makam dibuat prasasti riwayat hidup Sultan Thaha dan puisi untuk mengenang perjuangannya. Yang menarik, nama asli sultan Thah adalah Raden Toha, bukan Thaha. Jauh sekali dengan anggapan masyarakat selama ini yang menyebutkan Sultan Ta-Ha, bukan Sultan To-ha. Fakta lain, diceritakan bahwa sultan Thaha berkawan dengan raja Sisingamangaraja. Benarkah?


bang Rian sedang membaca biografi Sultan Thaha

Usai berdoa, saya mengamati relief perjuangan sang pahlawan di belakang makam. Hanya gambar-gambar yang hanya bisa saya tebak karena tak ada penjelasan. Saya agak kaget melihat wajah sultan Thaha yang dibuat agak berbeda dengan patung beliau di Jambi.

Kami memutuskan pulang ke Muara Bungo sebelum akhirnya saya melihat sebuah puing bangunan kuno yang samar-samar pernah saya lihat di Google. Benteng Jepang Muara Tebo! Lokasinya di sebelah kompleks perumahan militer. Benteng ini berwujud rumah yang dulu dipakai sebagai markas tentara Belanda dan akhirnya dipakai Jepang. Sebagian dinding kayu masih kokoh, tetapi sisi samping bangunan yang bolong membuat rumah ini menunggu waktu untuk rubuh.

Melewati tugu kipas, pandangan tertuju pada sebuah tugu bertuliskan peringatan 2 tahun hari pahlawan pada tanggal 10 November 1947. Tugu ini dibuat oleh Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia.

Masih ada banyak tempat di Muara Tebo yang ingin saya kunjungi, tetapi saya tunda untuk kunjungan berikutnya. Parit Malaria, surau Tepi Aek, jembatan Batanghari dan rumah guru Mansyur, tokoh penyebar Islam di Muara Tebo.

Dalam perjalanan pulang ke Muara Bungo kami singgah di Simpang Babeko, sebuah dusun (desa) di kecamatan Bathin II Babeko. Patung pahlawan yang kami jumpai rupanya adalah patung pahlawan Serma Laut Baharuddin yang gugur di desa ini. Patung ini tepat di halaman kantor Rio (kepala desa) Simpang Babeko.

 


8 respons untuk ‘Jejak Sejarah Kota Tua Muara Tebo

  1. Kotanya sepi… suke suke sukee… apalagi pertokoan kayu msih eksis…

    pengen bisa nulis postingan detail kaya gini. Runut, tenang tapi sukses dibaca sampai selesai tanpa bosan…

  2. saya pengen jalan2 ke kota yang sepi seperti ini …. di daerah Jawa terutama Jakarta sudah bosen banget lihat kemacetan dan kota yang ramai dan sibuk.
    Sesekali harus ke Muara Tebo …mungkin serasa waktu berhenti …. 🙂

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s