Di Balik Lambang Kota Salatiga

Logo_kota_salatiga Mungkin tak banyak yang mengenal kota kecil ini. Padahal kota ini merupakan kota tertua kedua di Indonesia setelah kota Palembang. Menurut prasasti Plumpungan yang dikeluarkan pada masa kerajaan Mataram Hindu, kota ini didirikan pada sekitar tanggal 24 Juli 750 Masehi. Tanggal ini diperingati sebagai hari lahir kota Salatiga. 

Prasasti Plumpungan mengisahkan sebuah desa bernama Hampra yang dianugerahi status daerah perdikan (bebas pajak) oleh raja Mataram. Pada akhir prasasti, dituliskan sebuah ungkapan “Srir Astu Swasti Prajabyah” yang bermakna “Semoga bahagia dan selamat rakyat semuanya”. Ungkapan ini ditulis di bawah lambang kota Salatiga.

Pada lambang, di sisi kiri dan kanan terdapat padi dan kapas perlambang sandang dan pangan (kemakmuran). Bintang melambangkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan. Slogan kota ini adalah Hatti Beriman : Sehat, Tertib, Bersih, Indah dan Aman. Gambar gunung berwarna biru adalah gunung Merbabu yang sebenarnya tidak berada di wilayah Salatiga, tetapi gunung ini terlihat dari penjuru manapun di wilayah kota ini.

Benteng, Ganesa dan Sadak Kinang
Fokus utama pada lambang kota Salatiga tertuju pada tiga buah benda yang letaknya di tengah-tengah : tumpukan bata merah menyerupai benteng, arca dewa Ganesha dan citra mangkuk kuning dengan sebuah tongkat berwarna hijau yang disebut sadak kinang.

Tumpukan Bata Merah
Situs resmi pemerintah kota Salatiga menyebutkan tumpukan bata mengandung makna sebuah kota. Lubang hitam berjumlah 4, bata merah paling atas berjumlah lima buah melambangkan tahun 1945, tahun kemerdekaan Indonesia. Menurut saya, tumpukan bata ini sebenarnya melambangkan benteng Hock buatan Belanda tahun 1850 yang sekarang berlokasi di Polantas Polres Salatiga. Dalam makna yang lebih luas, Salatiga adalah kota yang memiliki sejarah perjuangan pada masa kolonial. Misalnya terjadinya perjanjian Salatiga pada tahun 1757 yang membagi wilayah Mataram Islam menjadi kasultanan Yogyakarta dan kasunanan Surakarta.

Arca Ganesha
Masih menurut situs yang sama, ganesha melambangkan Salatiga sebagai kota pendidikan. Menurut agama Hindu, dewa ganesha dengan empat tangan -salah satu tangan memegang cawan / menghisap otak manusia- melambangkan pendidikan. Tidak bisa dipungkiri, kota kecil ini telah menjadi tumpuan belajar ribuan siswa dan mahasiswa tidak hanya dari dalam kota Salatiga, tetapi juga dari kota lain. UKSW misalnya kampus pacar saya menampung ribuan mahasiswa dari penjuru nusantara. Dalam perspektif kesejarahan, Salatiga merupakan kota tua yang telah berkembang sejak era kerajaan Mataram Hindu.

Sadak Kinang
Benda ini melambangkan kesuburan daerah Salatiga dan sumber kekuatan. Menurut beberapa sumber, benda ini merupakan pusaka Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya dari kesultanan Demak. Joko Tingkir memang tidak berasal dari Salatiga, tetapi pernah bertapa di sebuah sendang tidak jauh dari kota Salatiga yang bernama Sendang Senjoyo.

Dirgahayu kota Salatiga ke 1266!

Referensi :
http://salatigakota.go.id/TentangLambang.php
http://salatiga-photo-archives.blogspot.co.id/2010/08/lambang-kota-salatiga.html

 

Iklan

16 comments

  1. lambang salatiga yg ada skrg ini sepertinya agak berbeda wkt jaman saya kecil tahun 90 awal. yang dlu ada pita diatas berangka tahun 1907 (tahun disah kan nya salatiga sebagai gemente atau kota). trus ultah salatiga yg tua bgt ( tahun 750) itu mnurut saya agak aneh dan ga nyambung dgn cerita legenda terjadinya salatiga dng tokoh ki pandan aran. entah apa mksdny, mungkn biar keliatan tua bgt.

  2. Wah ternyata Salatiga sudah tua sekali ya! Senang diangkat karena memang benar gak banyak yg tau ttg Salatiga. Dulu saya menghabiskan masa kecil di kota ini, banyak makanan enak dan warganya ramah2. Skrg masih sering ke sana karena ketagihan rondenya hihi

  3. yeaaaaayyy tema blognya baru. selalu suka dengan lambang-lambang suatu daerah karena selain unik juga punya banyak arti. kalau Banjarnegara ya identik atau mirip dengan lambang koperasi hehehe, namun untuk tulisan di bawah lambangnya ya “wani memetri rahayuning praja” lupa artinya, namun saat masih smp pas pelajaran bahasa jawa, pak guru pernah cerita kalau tulisan atau kalimat di bawah suatu lambang selain mencerminkan slogan juga mempunyai makna tersirat sebagai penanda tahun kelahiran suatu kota

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s