Ke Balai Cagar Budaya Jambi? Apa yang Kau Cari!

DSC02120

Kompleks Candi Muaro Candi, peninggalan kerajaan Melayu Kuno

Jambi, 13 Juni 2016

“Pak, ibu Lis-nya ada?” tanya saya kepada seorang satpam di pos jaga.
“Adek ni siapa, arkeolog?” tanya balik pria itu dengan suara agak keras. Saya agak terkejut. Jambang di wajahnya yang kotak membuat ia tampak garang.
“Saya dari umum, Pak. Kemarin saya sudah memasukkan surat permohonan kunjungan ke ibu Lis. Saya mau nanya, permohonan saya sudah disetujui apa belum.”

Satpam tersebut mengajak saya melintasi halaman kantor BPCB Jambi yang luas, melewati ruangan di sebelah kanan gedung serupa koridor rumah sakit  hingga tiba di sebuah ruangan kecil. Saya harus menunggu di ruang tersebut sementara satpam menuju sekretariat.

BPCB, nama sebuah instansi yang mungkin terdengar asing di telinga. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), dulu dikenal dengan berbagai nama seperti Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) atau Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (Suaka PSP) pada era sebelumnya. BPCB Jambi bertugas merawat dan melestarikan peninggalan purbakala di empat provinsi : Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Kepulauan Bangka-Belitung.

Balai purbakala ini merupakan “saudara” balai arkeologi. Balai purbakala menangani perkara teknis administrasi, operasional dan pelestarian cagar budaya. Sementara yang bersifat penelitian dipegang oleh balai arkeologi.

Sambil menunggu ibu Lis, saya mengisi buku tamu di ruang tersebut. Di dalam ruang sempit tersebut di dinding di depan saya dipajang prasasti peresmian BPCB Jambi yang diletakkan pada sebuah potongan batang pohon. Di tengahnya terdapat replika arca Prajnaparamitha yang tampak anggun dan cantik. Di sebelahnya adalah replika patung penjaga candi Dwarapala yang saya duga berasal dari reruntuhan candi Muaro Jambi.

“Mas, pimpinan sedang tidak di tempat!” ucap satpam.
Ibu Lis yang saya tunggu kehadirannya tidak tampak.
“Pengganti atau wakilnya nggak ada, Pak?” tanya saya.
Dan kemudian jawaban yang keluar dari petugas itu seakan menyirnakan impian saya. Tanpa izin dari kepala kantor, saya tidak bisa mengakses museum. Hapus sudah bayangan bisa berkunjung ke museum BPCB Jambi. Enam jam perjalanan saya tempuh dari Bangko ke Kota Jambi. Terasa sia-sia belaka.

Saya sempat bertemu dengan salah satu pimpinan tata usaha di kantor itu.
“Suratnya sudah di tempat saya, tetapi belum didisposisi (diparaf) pimpinan!” lagi-lagi jawaban yang mempertegas kecil kemungkinan saya mendapat izin kunjungan.
“Pak, boleh saya melihat-lihat isi museum BPCB? Buat foto-foto aja, Pak”, iba saya sambil menunjuk sebuah ruangan yang dipakai sebagai museum penyimpanan. Tak tahu kata-kata apalagi yang bisa saya ucapkan.
“Nggak boleh mas, semua harus ada izinnya!”
Oke, semua sudah jelas, jalan keluar untuk saya tertutup sudah.

Saya lihat lagi dari jauh museum sederhana itu. Pintu ruang itu terkunci dari luar. Jendela dan pintu dilengkapi dengan teralis besi nan angkuh. Di dalamnya saya bisa lihat beberapa keramik Tiongkok berwarna kelabu dipoles glasir mengkilat. Persis gambaran sebagaimana di website resminya.

Oleh satpam, saya diantar lagi ke sebuah ruangan mirip ruang tamu. Persis di belakang ruang saya menunggu ibu Lis tadi. Entah apa yang saya tunggu pun saya kurang tahu. Saya duduk di salah satu sofa. Ruangan itu cukup besar. Jauh lebih besar dari ruang tidur kontrakan saya.

Seorang pria berbaju putih lengan panjang masuk ke ruangan. Ia tersenyum. Saya sambut dengan jabat tangan.
“Ada yang bisa dibantu, Mas?”ucapnya ramah. Sekilas, saya mendapat harapan baru dari sosok mas-mas ini.
“Saya sudah mengajukan permohonan kunjungan ke museum BPCB ke ibu Lis. Tapi rupanya belum didisposisi. Sekalian saya mau meminta daftar benda cagar budaya bergerak dan tidak bergerak, khususnya di provinsi Jambi, Pak” terang saya. Saya ambil sepucuk surat yang pernah saya kirim ke kantor ini beberapa hari silam, lantas dibaca olehnya.

“Ya Mas, maaf saya nggak bisa kasih ijin atau data-data kalau nggak ada izin dari pimpinan. Tahu kantor ini darimana?”
Saya lalu menceritakan bagaimana awal mula saya tertarik dengan antropologi dan peninggalan bersejarah. Kemudian bagaimana Kerinci “mengubah” saya dan membuat saya amat mencintai kekunoaan dan benda-benda purbakala. Saya ceritakan juga tentang postingan-postingan BPCB Jambi di dunia maya.

“Itu di Youtube yang Riri Fahlen saya yang buat,” ucapnya berbinar.
Aha, saya bertemu dengan sosok yang selama ini berada di belakang layar publikasi dan dokumentasi kantor ini. Beliau rupanya seorang antropolog, tidak seperti arkeolog sebagaimana dugaan saya sebelumnya. Pernah bekerja di sebuah lembaga pemberdayaan suku Rimba. Mengajar di pedalaman rimba Taman Nasional Bukit Duabelas. Hingga akhirnya mengabdikan diri menjadi peneliti cagar budaya. Saya banyak mendengar suka dukanya menjadi antropolog. Keluar masuk berbagai situs sejarah di berbagai tempat. Ceritanya membius saya. Andai saja dulu saya diterima sebagai mahasiswa purbakala, bukan mahasiswa ekonomi. 

Kantor ini, tambahnya, awalnya berkantor di area candi Gumpung di kompleks candi Muaro Jambi. Sebagaimana kantor-kantor BPCB di kota lain seperti di Klaten dan Yogyakarta, yang notabene berkantor tidak jauh dari candi Prambanan.

Terkait dengan perusakan situs geopark, mas Riri menegaskan bahwa geopark Merangin bukan benda cagar budaya meskipun telah berusia ratusan juta tahun. Cagar budaya mengandung makna benda yang terjadi atau terpengaruh campur tangan manusia. Budaya berasal dari kata buddhayah atau budi dan daya, dalam hal ini berkaitan dengan rasa, cipta dan karsa manusia. Geopark sendiri dalam pengawasan Kementerian ESDM bukan Kemdikbud yang membawahi BPCB.

Saat ini di masyarakat bahkan di pemerintah daerah masih terpancang anggapan pelestarian dan perawatan benda cagar budaya adalah tugas badan cagar budaya. Padahal pemerintah daerah pun mempunyai tugas pelestarian benda purbakala, termasuk punya hak untuk promosi sebagai destinasi wisata. Selain itu, masyarakat pun berhak menyimpan benda cagar budaya, dengan terlebih dulu mendaftarkan benda cagar budaya yang dimiliki secara online. Meski untuk benda cagar budaya dengan nilai sangat tinggi dianjurkan untuk disimpan di museum.

Satu pertanyaan lain yang saya tanyakan kepada mas Riri. Dimanakah pusat pemerintahan kedatuan Sriwijaya? Di Jambi atau di Palembang. Beliau mempunyai jawaban yang cukup menarik untuk ditelaah. 🙂 #nospoiler. 

Sebuah catatan mengenang berdirinya “Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch-Indie” (Jawatan Purbakala Hindia-Belanda) di Batavia pada tanggal 14 Juni 1913. Tanggal ini diperingati setiap tahun oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI sebagai Hari Purbakala Nasional.

Referensi : http://arkeologijawa.com/index.php?action=publikasi.detail&publikasi_id=235

Iklan

20 comments

  1. tempatnya belum di buka untuk umum ya …
    ribet juga ya birokrasinya … seharusnya zaman digital begini bisa dilakukan secara online dan di respon dengan cepat … jadi ga usah datang jauh2 .. dan menunggu harapan 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s