“Rahmat” Gallery, Mengenal Lebih Dekat Aneka Satwa di Dunia

Beberapa hari saya di Medan saya mengajak Rudi, kawan saya ke “Rahmat” International Wildlife Museum & Gallery atau sering disebut sebagai “Rahmat” Gallery atau Museum Rahmat. Sebuah museum bertema kehidupan binatang liar. “Rahmat” Gallery memiliki koleksi lebih dari  seribu satwa yang telah diawetkan. Katanya, ini adalah museum satwa pertama di Asia.

Rudi di pintu masuk museum

Museum Rahmat dibangun secara swadana oleh DR Rahmat Shah pada tahun 1999. Karena animo masyarakat cukup tinggi, museum ini direnovasi pada tahun 2007 serta ditambah jumlah koleksinya.  Museum ini telah masuk menerima banyak sekali penghargaan internasional di bidang konservasi satwa liar dunia. Museum swasta ini menampilkan berbagai koleksi satwa liar dari berbagai spesies, mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar. Oya, Miss Universe (nggak tau tahun berapa) pernah kesini lho.

DR Rahmat Shah adalah seorang pengusaha ternama, anggota DPD RI, pecinta binatang sekaligus pemburu profesional. Sebagian besar hewan-hewan di museumnya merupakan hasil berburu di berbagai negara. Rahmat Shah berburu dengan mematuhi prinsip-prinsip konservasi, artinya hanya berburu jika jumlah hewan liar di suatu negara melebihi populasi normal.  Selain itu, sebagian isi museum ini juga  merupakan hasil pembelian berupa hewan yang mati dari berbagai kebun binatang atau sumbangan dari masyarakat. Beliau juga pemilik Taman Hewan Pematang Siantar. Salah satu anaknya yaitu Raline Rahmat Shah menjadi Putri Indonesia 2008 Favorit mewakili provinsi Sumatera Utara.

Raline :p

Setelah berfoto di luar kami segera masuk ke dalam. Udara sejuk dari pendingin ruangan segera menyambut. Tiket masuk ke museum ini Rp 25.000,- per orang. Cukup mahal untuk pecinta museum seperti saya. Selain itu untuk ijin memotret perlu biaya tambahan Rp 20.000,-  untuk satu rombongan. Disini diberlakukan larangan memotret memakai lampu kilat/blitz. Karena bujukan kakak-kakak penjaga loket, kami masing-masing menambah Rp 10.000,- lagi untuk menikmati Safari Night meski sebenarnya saya kurang paham apa dan bagaimana safari tersebut. Sehingga total kami menghabiskan biaya Rp 90.000,-

Melewati loket pembelian tiket, saya disambut oleh banyak sekali awetan burung cendrawasih. Selanjutnya terdapat aneka serangga, ikan, beruang, harimau, beruang, kambing gunung, ular dan masih banyak lagi. Hewan-hewan diletakkan dalam sebuah diorama lengkap dengan gambaran habitat aslinya. Pengelompokan hewan-hewan disini ditempatkan menurut keluarga. Misal dalam satu etalase bertema harimau maka akan terdapat harimau sumatera, macan tutul, macan dahan dan lain-lain. Penerangan dalam museum ini cukup memadai. Informasi yang disampaikan kepada pengunjung juga cukup jelas terpampang pada setiap koleksi  museum. Arsitektur dan desain ruangan juga dibuat modern.

Beberapa hewan menjadi koleksi andalan museum Rahmat karena mereka tidak bisa dijumpai di Indonesia seperti kambing gunung, antelop, beruang kutub dan lain-lain. Selain itu salah satu koleksi andalan museum Rahmat adalah African big five, sebuah galeri berisi lima hewan buas di Afrika : gajah Afrika, badak putih, banteng, cheetah dan singa. Namun, favorit saya disini adalah satwa langka komodo. Meski telah mati, kesan buas mereka sama sekali tidak hilang.

African big five

Puas melihat-lihat koleksi museum kami segera menuju area Safari Night. Sebuah pintu masuk menyerupai goa buatan terbentang di depan. Kami memasuki lorong gelap, dan tiba-tiba secara bersamaan lampu menerangi seekor harimau sekaligus terdengar auman bunyi harimau. Spontan kami langsung kaget. Berikutnya kami melihat beberapa hewan lagi seperti singa. Saya sadar arena ini meniru konsep rumah hantu dimana pengunjung yang masuk akan dikagetkan dengan wujud hantu beraneka rupa dan suara-suara yang muncul tiba-tiba. Namun, konsep yang ditampilkan disini adalah berjalan-jalan di hutan rimba pada waktu malam.

Night Safari

Perasaan lega dan kagum saya rasakan begitu keluar dari goa. Disamping memamerkan aneka hewan, disini juga terdapat perpustakaan bagi yang serius ingin mempelajari kehidupan satwa liar di alam bebas. Tersedia juga cafe dan toko souvenir. Satu lagi yang khas dari museum Rahmat adalah Legend Room, sebuah ruangan yang menampilkan memorabilia tokoh-tokoh terkenal di dunia seperti , sepatu pemain bola David Beckham dan Pele,  sarung tinju yang pernah dipakai Muhammad Ali dan Mike Tyson, jersey Zinedine Zidane dan masih banyak lainnya. Sayangnya ketika saya ingin menuju ke ruangan tersebut pintunya terkunci. Sebelum menuju pintu keluar terdapat sebuah galeri yang memajang piala-piala dan beragam penghargaan yang pernah diterima DR Rahmat Shah dan museumnya. Lagi-lagi saya dibuat kagum.

Bejibun

Dengan mengunjungi museum ini kita  bisa lebih mengenal keanekaragaman satwa liar yang ada di dunia. Harga tiket yang cukup mahal sebanding dengan ilmu dan pengetahuan  yang akan membuat wawasan kita bertambah.

“Rahmat” International Wildlife Museum & Gallery

Jl Letjen S Parman 309, Medan, 20112
Sumatera Utara, Indonesia
Telp : (061) 4569964

Buka : Selasa s.d. Minggu; Pukul 09.00 — 17.00 WIB; Senin Tutup (Hari libur tetap buka)

Tiket masuk  : Dewasa : Rp.25.000;  Anak : Rp 20.000,-  night safari Rp.10.000
Izin memotret: Rp.20.000.

Situs web : http://www.rahmatgallery.com/

Iklan

4 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s