Istana Asserayah Hasyimiah – Siak Sri Indrapura

Siang itu mobil travel saya berjalan perlahan dari kota Pekanbaru menuju Siak Sri Indrapura, ibukota kabupaten Siak. Setelah dua jam perjalanan yang membosankan sampai juga saya di Siak. Hujan menyambut saya di kota berjuluk Negeri Istana ini. Buru-buru saya memanggil seorang tukang ojek untuk mengantarkan saya ke istana. Tidak kurang dari lima menit saya sampai di depan pintu gerbang istana.

Sampai di istana hujan telah reda. Saya melangkah perlahan melewati halaman menuju pintu masuk istana. Cukup dengan membayar tiga ribu rupiah dan mengisi buku tamu saya bisa melihat istana ini dengan leluasa.

Istana Siak Sri Inderapura atau resminya bernama Istana Asserayah Hasyimiah (Matahari dari Timur) dulunya merupakan kediaman resmi Sultan Siak. Istana ini mulai dibangun pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim (Sultan Syarif Kasim) tahun 1889 dan selesai tahun 1893. Istana ini dibangun mengikuti arsitektur Melayu, Arab, dan Eropa.

Pintu gerbang menuju ruang utama (balairung)

Bangunan istana terdiri dari dua lantai. Lantai bawah dibagi menjadi enam ruangan sidang, ruang tunggu tamu, ruang tamu kehormatan, ruang tamu laki-laki, ruang tamu perempuan dan sebuah ruangan yang dipakai untuk ruang sidang sekaligus pesta.

Lantai atas terbagi menjadi sembilan ruangan berfungsi untuk ruang tidur sultan dan tamunya. Di puncak istana terdapat patung burung elang sebagai lambang kerajaan. Pada halaman istana terdapat beberapa meriam menyebar ke berbagai sisi-sisi halaman istana, kemudian disebelah kiri belakang istana terdapat bangunan kecil yang dahulunya digunakan sebagai penjara sementara.

Istana Siak masih menyimpan koleksi-koleksi tidak ternilai yang dulu pernah dipakai oleh sultan dan keluarganya. Diantara koleksi benda antik istana adalah keramik dari Cina dan Eropa, kursi kristal, patung perunggu ratu Wilhelmina hadiah dari kerajaan Belanda, patung pualam Sultan Syarim Kasim, replika mahkota  sultan Siak terbuat dari emas (mahkota asli disimpan di Museum Nasional RI di Jakarta) dan alat-alat rumah tangga.

Komet

Di antara banyaknya koleksi istana, yang menjadi andalan adalah sebuah alat musik bernama komet. Alat sejenis gramafon ini hanya dibuat dua buah di dunia. Satu di Siak dan yang lainnya di Jerman. Piringan baja komet tersebut dibawa Sultan Syarief Kasim sepulang dari lawatannya di Jerman pada tahun 1896. Dulunya komet biasa memutar lagu-lagu klasik karya Beethoven, Mozart dan Sebastian Bach. Komet diputar secara manual.  Hingga kini Komet masih berfungsi dengan baik meski tidak bisa dipakai sesering dulu. Ada lagi cermin awet muda, cermin yang dulu dipakai bersolek permaisuri ini konon berkhasiat membuat seseorang awet muda.

Puas melihat-lihat koleksi istana saya beranjak keluar. Di sebelah kanan istana diletakkan sebuah kapal besi. Inilah kapal kato,  sebuah kapal besi dengan bahan bakar batu bara kepunyaan sultan yang dulu selalu digunakan pada saat berkunjung ke daerah-daerah kekuasaannya. Kapal ini berukuran panjang 12 m dengan berat 15 ton.

Hari beranjak sore dan saya bergegas menuju Masjid Raya Syahabuddin di tepi sungai Siak. Sungai Siak konon merupakan sungai terdalam di Indonesia. Masjid Syahabuddin merupakan masjid yang dipakai oleh sultan Siak beribadah. Dibangun pada tahun 1926 di masa pemerintahan Sultan Kasim I. Terletak dibelakang masjid Syahabuddin, dimakamkanlah Sultan Syarif Kasim II. Beliau merupakan seorang pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tidak lama setelah proklamasi beliau menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian wilayah Indonesia dan menyumbangkan harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk pemerintah republik.

Tidak jauh dari situ terdapat Balai Kerapatan Tinggi Siak yang dibangun pada tahun 1889. Bangunan istana menghadap kearah sungai. Dulu tempat ini berfungsi sebagai tempat pertemuan sidang sultan dengan para panglimanya.

Sekitar lima ratus meter dari Masjid Syahabuddin terdapat jembatan Sultanah Latifah atau yang populer disebut jembatan Siak. Jembatan sepanjang ini telah menjadi ikon baru kota Siak Sri Indrapura selain istana Siak.

Hari telah berganti gelap dan saya ingin menginap saja di masjid ini …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s