Uniknya Pernikahan Melayu Dumai

Saya pernah berkunjung ke Dumai untuk menghadiri pernikahan kawan kuliah saya Adi. Adi yang orang Sunda mempersunting gadis Dumai berdarah Melayu bernama Reni.

Dumai adalah sebuah kota kecil di pesisir timur Riau. Kota ini adalah kota terluas di Indonesia seluas 1.727 km persegi (dua kali luas kota Jakarta). Dulu Dumai pernah menjadi kota administratif di bawah kabupaten Bengkalis. Menurut legenda, asal nama kota Dumai berasal dari nama Putri Tujuh. Putri Tujuh merupakan sebutan ketujuh putri Ratu Sima penguasa kerajaan Seri Bunga Tanjung. Suatu saat ketika ketujuh putri mandi sedang mandi di Lubuk Umai, tanpa mereka sadari seorang pangeran melihat kecantikan mereka. Dari kata Lubuk Umai kemudian menjadi “di Umai” nama kota Dumai berasal. Makam Putri Tujuh sekarang terletak di daerah kawasan kilang operasional Pertamina UP II.

Kota minyak merupakan julukan kota ini.  Ada tiga perusahaan besar di bidang pertambangan minyak dan ekspor minyak bumi. Mereka antara lain Chevron, Pertamina dan BKR (Bukit Kapur Reksa). Minyak bumi yang melimpah telah menarik minat orang-orang untuk merantau ke Dumai. Bahkan menurut pengakuan kawan saya, air sumur di Dumai kadang-kadang bercampur minyak. Wow. Tidak heran banyak anekdot tentang kota singkatan Dumai yaitu : Demi Uang Meninggalkan Anak Istri 😀

Di Dumai tidak terdapat tempat wisata yang memadai. Satu-satunya tempat wisata adalah pantai Puak. Pantai Puak sendiri sebenaranya bukan pantai, hanya sebuah tepi laut berbatu yang dipakai sebagai tempat berjualan makanan dan minuman. Pusat keramaian di Dumai yang menjadi tempat nongkrong para kawula muda adalah supermarket Ramayana dan restoran KFC.

Saya naik kapal Batam Jet dari pelabuhan Tanjung Balai Karimun. Ongkos kapal dari Tanjung Balai Karimun ke Dumai Rp 230.000,- dengan waktu tempuh lima jam. Saya naik Batam Jet beberapa hari setelah kapal Dumai Express 10 jurusan Batam-Dumai tenggelam di dekat pulau Karimun. Dari Tanjung Balai Karimun, kapal singgah di Selat Panjang, Bengkalis dan terakhir berhenti di Dumai.

Di Dumai saya tinggal sementara di kontrakan Alfin teman kuliah saya di daerah Pangkalan Sena. Di rumah Alfin terdapat satu set alat fitness karena temannya memang hobi berolahraga. Saya yang tidak terlalu hobi berolahraga hanya mencoba memakai beberapa alat kebugaran tersebut sesekali misalnya treadmill.

Kesempatan di Dumai saya pakai untuk menemui kawan-kawan kuliah dulu sekaligus reuni. Kami janji bertemu di sebuah rumah makan Sunda. Sambil makan kami saling bercengkrama dan berbincang-bincang tentang kabar masing-masing. Habis makan kami foto-foto teuteup dan berjanji akan bertemu lagi di acara resepsi Adi dan Reni.

Makan malam di RM Sari Sunda

Hari H tiba dan pagi itu kami berkumpul di KPP Pratama Bengkalis. Setelah berkumpul kami pergi bersama-sama ke tempat resepsi yaitu di rumahnya Reni sang pengantin wanita. Acara akad nikah telah dilaksanakan satu hari sebelumnya. Acara resepsi diwarnai dengan adat Melayu.

Prosesi pertama, kami diminta untuk untuk mengiringi kedatangan Adi, sang pengantin pria ke rumah pengantin wanita. Adi sudah memakai pakaian adat Melayu lengkap. Tangannya sudah dipakaikan inai (pewarna dari pacar) sebagai tanda bahwa dia sudah menikah. Inai konon  berfungsi untuk menangkal pengantin dari gangguan makhluk halus.

Adi berjalan di depan rombongan. Tangannya membawa sekapur sirih. Beberapa langkah sebelum tiba di rumah pengantin wanita. Langkah kami dihadang oleh rombongan pengantin wanita. Dengan menggunakan pantun, seorang wakil dari pihak pengantin wanita menghadang dan menanyakan maksud kedatangan. Wakil pengantin pria juga membalas pantun. Tidak lama, dari rombongan wanita dan pria masing-masing mengirimkan wakil untuk beradu pencak silat. Tentunya ini hanya bohongan. Pertandingan silat dimenangkan oleh wakil dari pengantin pria dan kami melanjutkan langkah.

Sampai di depan pintu masuk pelaminan, langkah kami kembali terhenti. Rombongan pengantin tidak bisa masuk jika tidak memberikan sekapur sirih. Setelah sekapur sirih diberikan baru pengantin pria diperbolehkan untuk masuk ke pelaminan menemui pengantin wanita.

Setelah kedua pengantin bertemu baru kami duduk di tempat resepsi. Setelah makan-makan baru kami mengucapkan selamat kepada Adi dan Reni sekaligus berpamitan. Unik ya, adat pernikahan Melayu. Mirip dengan adat pernikahan Betawi di Jakarta yang sama-sama memakai prosesi pencak silat dan palang pintu. Menurut kajian, orang Betawi memang mengadopsi sebagian budaya Melayu.

Selamat berbahagia Adi dan Reni 🙂

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s