sumuTrip (7) : Kuala Namu Mengemas Sejarah

TULISAN TERAKHIR DARI SERI SUMUT TRIP

Dari Museum Negeri Sumatera Utara, tujuan saya berikutnya adalah Stasiun Medan. Saya akan menuju bandara Kuala Namu menumpang kereta Railink ARS. Di Medan, stasiun juga diartikan sebagai loket travel atau terminal. Untuk sampai di Stasiun Medan, saya harus menyebutkan kata stasiun kereta api kepada betor agar dia paham maksud perkataan saya. Pengemudi betor yang saya tumpangi singgah sebentar di galon untuk “minum”. Galon yang dimaksud oleh orang Medan sebenarnya adalah pom bensin.

Setelah “minum”, betor dengan suara meraung-raung membawa saya melewati kota lama Medan yang dipenuhi gedung-gedung peninggalan masa kolonial : gedung Lonsum, Balai Kota Lama, Bank Indonesia Lama, kantor pos pusat dan tiba di stasiun. Sepertinya saya akan rindu dengan kota ini. Terlepas dari riuh klakson yang saya dengar hampir di setiap ruas jalan, orang-orangnya yang seperti memiliki pengeras suara di dalam tenggorokannya, kota ini tetap memiliki sejumlah alasan untuk membuat orang datang kembali ;-).

Stasiun ini dibangun tahun 1883 dengan rute perdana yaitu Medan – Banda Aceh. Saat ini Medan dihubungkan oleh kereta api ke beberapa kota seperti Pematang Siantar di selatan, Tanjung Balai dan Rantau Prapat di timur dan Binjai di utara. Sejak 2013, dibuka rute menuju ke bandara Kuala Namu di kabupaten Deli Serdang.

Jika banyak stasiun masih memiliki bangunan kolonial yang masih terawat, saat ini hanya lokomotif tua buatan tahun 1914 dan menara jam yang tersisa dari bangunan asli stasiun Medan.

Untuk menaiki kereta, saya harus naik ke lantai dua melalui lift. Lantai satu dipakai untuk perjalanan ke tujuan selain bandara. Setelah membeli tiket, saya masih harus turun ke peron yang telah ditentukan. Perjalanan 30 menit dari Medan menuju Kuala Namu sebenarnya cukup menyenangkan, seandainya filter hitam penutup jendela dilepas. Untuk melihat pemandangan, saya harus mendekatkan mata ke tepi kaca. Awalnya deretan rumah dan pertokoan, menjelang masuk Kuala Namu, hamparan kebun sawit terbentang sejauh mata melihat.

2015-09-13 10.03.15

—— jendela kereta api yang tertutup filter warna hitam ——

Kuala Namu merupakan bandara pertama yang mengoperasikan kereta api bandara, sekaligus bandara pertama yang mengadakan sistem check in terbuka. Artinya, pengantar boleh mendampingi calon penumpang ketika check in. Namun, ketika memasuki ruang tunggu, hanya penumpang yang diperbolehkan masuk. Mungkin karena di kalangan masyarakat Sumatera Utara, tali kekeluargaan masih sangat kental, sehingga diperlakukan keleluasaan ini sok tahu.

2015-09-13 10.53.34

2015-09-13 10.56.22

Sebagai bandara terbesar kedua di Indonesia, Kuala Namu memiliki 12 pintu keberangkatan. Empat pintu untuk keberangkatan internasional sedangkan delapan pintu untuk keberangkatan domestik. Ketika saya masuk ke toilet, saya terkesan karena toiletnya sangat modern dan bersih. Agak berbeda dari tulisan kawan saya tentang toilet Kuala Namu.

2015-09-13 11.07.24

Kesultanan Serdang dan Kuala Namu
Kuala Namu mungkin satu dari sedikit bandara yang mau bercerita tentang masa lalunya. Di dekat ruang tunggu dipajang panel tentang citra Istana Sultan Serdang yang aslinya terletak di Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai saat ini. Di dekatnya ditampilkan penjelasan tentang sejarah Kuala Namu.

Wilayah yang saat ini dibangun bandara Kuala Namu dulunya merupakan wilayah kekuasaan kesultanan Serdang. Kesultanan Serdang dibangun tahun 1723 oleh Tuanku Umar Kejeruan Junjungan yang bergelar Sultan Serdang I. Wilayah kekuasaannya meliputi wilayah Kabupaten Deli Serdang dan kabupaten Serdang Bedagai.

Pada tahun 1865, terjadi pertempuran antara tentara Belanda dengan tentara Serdang di hutan Kuala Namu yang saat itu merupakan basis pertahahan kesultanan Serdang. Karena kalah persenjataan, tentara Serdang mengalami kekalahan. Sultan Serdang IV yang berkuasa dimakzulkan dan wilayah kekuasaannya dirampas oleh Belanda.

2015-09-13 11.01.25

2015-09-13 11.00.39

Iklan

26 comments

  1. Sumut semakin maju sekarang. Bangga bandara2 di Indonesia terus berkembang. Bicara tentang toilet bandara saya teringat bapak menteri, Dahlan Iskan. Kalau tidak salah beliau pernah memberi contoh bagaimana membersihkan toilet bandara dengan baik dan benar kepada para petugas cleaning service di bandara Soetta. Salut deh sama pak menteri satu itu.

    Sudah sepantasnya setiap bandara menyediakan plang tentang destinasi wisata yang terdapat di daerahnya. Terutama destinasi wisata yang berhubungan dengan sejarah. Dengan demikian para wisatawan mendapatkan arah tujuan yang jelas saat berkunjung ke daerah tersebut.

  2. Saya malah baru tahu kalau di dekat papan Istana Sultan Serdang itu ada penjelasan soal bandara Kuala Namu ini *tutup mata*. Saya kira cuma hiasan ala-ala doang Mas :hehe :peace. Memang keren bangetlah bandara satu ini, serasa di luar negeri tapi rasa Sumatera Utaranya masih ada.

    Jadi cerita selanjutnya tentang apakah? :hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s