28 Jam di Lampung (3)

Update: Museum Lampung ditutup untuk direnovasi s.d. tanggal 30 Desember 2019

Lampung punya segudang tempat menarik untuk disambangi. Gunung Anak Karakatau, pulau Pahawang, habitat lumba-lumba di teluk Kiluan, surfing di Krui, sekolah gajah di Way Kambas hingga situs prasejarah di Pugung Raharjo.

Dengan waktu cuma sehari semalam di Lampung saya punya beberapa opsi destinasi untuk dikunjungi. Rencananya pagi ke museum Lampung, sore hari ke pantai Mutun. Malam sebelum meninggalkan Lampung, saya ada janji bertemu dengan kawan-kawan dari CS Lampung.

Sarapan di hotel disajikan dengan ala carte, bukan buffet. Ada empat pilihan menu yang bisa dipilih pada saat check in. Ayam teriyaki, ayam sambal matah,soto ayam atau nasi goreng. Semua sudah termasuk nasi putih, jus jeruk dan potongan buah. Untuk air mineral, teh dan kopi tambahan gratis. Sotonya enak, hanya saja agak sedikit asin.

Kelar sarapan saya memesan ojek online ke museum Lampung. Lokasinya agak di pinggiran kota, sebelum kampus Unila. Biar bisa pakai voucher gratis, saya naik ojek menuju kampus UTI, lanjut ojek lagi ke museum.

 

Halamannya luas sekali. Ada dua relief menggambarkan tarian daerah Lampung. Sebuah kantin yang tampak sepi  menyediakan seruit, masakan khas Lampung.

Saya memutuskan masuk museum dulu, baru nanti akan menjelajah bagian luar museum. Dua orang staf museum sedang memasang foto gubernur Lampung yang baru dilantik presiden. Di depan lobi terdapat gerai penjualan cenderamata. Ada miniatur siger, kaos, gantungan kunci dan celana santai!

Ruwa Jurai merupakan slogan provinsi Lampung sekaligus nama museum. Ruwa Jurai berarti dua penduduk. Bisa dimaknai sebagai dua subsuku Lampung yaitu Pepadun dan Saibatin. Sebagian lagi memandang Lampung terdiri dari dua penduduk yaitu warga asli Lampung dan warga pendatang.

Sekilas tak ada pengunjung yang datang. Sepertinya saya pengunjung pertama. Beda dengan museum daerah lain, museum Lampung ini tetap buka setiap hari, termasuk hari Senin. 

Gedung pameran tetap Museum Lampung terdiri dari dua lantai. Lantai pertama menjelaskan lingkungan alam, pahlawan Lampung dan sejarah Lampung. Lantai dua menggambarkan kebudayaan subsuku Pepadun dan Saibatin serta koleksi wastra.

Selain Radin Inten II, Lampung memiliki Mayjen TKR HR M Mangoendiprojo yang pada tahun 2014 dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Presiden Jokowi. Beliau adalah mantan Residen Lampung kelahiran Sragen.  

Ruangan lingkungan alam menampilkan flora fauna khas Lampung seperti harimau, trenggiling,dan gajah. Saya tak melihat awetan gajah melainkan anak gajah. Masuk kesini agak seram karena penerangan minim.

Lampung pada masa prasejarah meninggalkan artefak berupa batu megalitik di Pugung Raharjo dan yoni di Talang Sari. Nekara, artefak yang sangat langka (hanya 4 di Indonesia) salah satunya ditemukan di Menggala, Kab. Tulang Bawang. Nekara lainnya ditemukan di Kerinci, Selayar dan Kei.

Catatan sejarah pada masa Hindu Buddha banyak ditemukan berupa prasasti Batu Bedil, Palas Pasemah, Bungkuk, Bawang, Ulu Belu, dan Dadak. Prasasti Palas Pasemah meneguhkan fakta bahwa Lampung merupakan jajahan Sriwijaya.


Prasasati Dadak yang ditemukan di Lampung Timur ada ukiran rajah manusia dan hewan

Pugung Raharjo tak hanya merupakan hunian era prasejarah. Namun, juga pusat peribadatan umat Buddha dengan ditemukannya arca Boddhisatva. Jadi makin pengen ke Pugung Raharjo suatu saat nanti.

Jalan-jalan dan nama kantor di Lampung ditulis menggunakan aksara Latin dan Kaganga. Aksara ini mucul pada masa Islam. Saya juga melihat topeng kuno dan pedang peninggalan pasukan perang Radin Inten II yang asalnya dari Lampung Selatan.

Selain koleksi alam dan sejarah, di lantai 1 juga dipamerkan koleksi keramik. Dulu, sehari sebelum akad nikah, gadis Lampung akan menjalani prosesi siraman. Uniknya, calon pengantin dimasukkan ke dalam paseu atau tempayan besar untuk dimandikan hehe.

Beranjak ke lantai dua, yaitu ruangan pameran budaya Lampung. Mata menangkap atap plafon yang bolong menyebabkan air hujan membasahi sebagian lantai museum. Membuat sebagian koleksi terpaksa dikosongkan. Saya pernah beranggapan museum Sang Nila Utama di Pekanbaru salah satu yang kurang terawat. Kini, posisi itu digeser oleh museum Lampung.

Pakaian pengantin Pepadun didominasi warna putih. Dilihat dari dekat tampak sangat berdebu.

Mahkota siger yang banyak ditemui di penjuru Bandar Lampung adalah siger Pepadun. Ciri khasnya adalah cabangnya berjumlah 9 buah. Melambangkan jumlah marga Pepadun. Kalau siger Sai Batin jumlah cabangnya hanya 7 buah.


pengantin sunat 

Beralih ke ruangan sebelahnya yaitu pameran budaya Sai Batin. Penduduk Saibatin ini tinggal di pesisir timur, selatan dan barat Lampung. Ciri khas pakaian pengantinnya didominasi warna merah. Pelaminan dan kamar pengantin juga didominasi warna merah.

Etnis Sai Batin memiliki alat musik berupa gambang kayu yang bernama gamolan.

Sebagai suku pesisir, etnis Saibatin banyak bekerja sebagai nelayan. Namun, jangankan menarik, patung kayu nelayan di atas perahu ini agak menyeramkan. Belum lagi kain yang dipakai untuk menutup jenazah dan patung bayi dari kayu yang juga seram.

Saya tak berlama-lama di lantai dua. Segera saya keluar gedung museum ingin melihat-lihat halaman depan museum. Rumah panggung di depan museum adalah lamban pesagi, rumah adat Sai Batin dari Way Krap yang dibangun tahun 1880. Dipindahkan ke museum Lampung tahun 2001. Di samping rumah adat bisa dijumpai bilik padi (walai) juga dari Way Krap. Seperti rumah-rumah tradisional di Indonesia, lamban pesagi dan walai dibangun tanpa paku. Rumah ini dikunci sehingga saya tidak bisa masuk ke dalam.

Selain rumah bisa dijumpai meriam kuno dan roda kereta yang tidak diberi keterangan.

Berada di halaman sebelah kanan adalah bola besi raksasa yang dipakai saat pembukaan lahan transmigrasi di Raman Utara dan Purbolinggo, Lampung Utara dan di Seputih Raman dan  Seputih Banyak di Lampung Selatan pada tahun 1953-1956. Cara penggunaanya, bola diikatkan dengan ditarik traktor. Tujuannya untuk menumbangkan pohon kecil dan meratakan tanah. Selain di museum Lampung, bola besi ini bisa dijumpai di museum Transmigrasi di Gedong Tataan, Kab. Pesawaran. 

Di sebelah bola besi adalah bekas rambu laut di selat Sunda yang terdampar di Teluk Betung sebagai akibat tsunami gunung Krakatau tahun 1883. Gunung Krakatau ini secara administrasi masuk Lampung meski lebih dekat ke Banten. Sayang sekali tidak ada penjelasan di dalam museum tentang kedahsyatan letusan gunung Krakatau. 

bersambung

4 Comments Add yours

  1. alrisblog berkata:

    Dulu waktu SD jika dibawa wisata ke museum girang banget. Sekarang sepi. Sedih juga liatnya.
    Perlu lagi digalakkan wisata ke museum.

    1. Avant Garde berkata:

      museumnya perlu direnovasi, perlu juga sosialisasi ke sekolah-sekolah 🙂

  2. bersapedahan berkata:

    padahal museumnya lengkap ya … sampai ada pengantin sunat segala … sayang banget kalau sepi begini … mungkin penataannya harus mengikuti kekinian supaya ramai dikunjungi

    1. Avant Garde berkata:

      betul mas, kita tunggu saja mudah2an setelah direnovasi jadi makin bagus 🙂

Pembaca yang budiman akan meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s