Umah Kopi Muara Bungo

Setiap penikmat kopi dalam pencarian rasa akan menemukan kedai kopi favoritnya masing-masing. Sebuah jawaban yang terlontar dari mulut Herman, sahabat baru saya yang juga pemilik kedai kopi, di suatu siang tatkala Herman mampir untuk ngopi di kantor saya.

Sebelumnya, saya menanyakan pada Herman bagaimana hubungan antara penikmat kopi dan kedai kopi tercipta. Mengapa ada orang yang hanya setia pada satu kedai kopi. 

***

Muara Bungo, kota kecil dengan belasan kedai kopi. Baik yang jadul, kekinian, bersahaja di tepi jalan hingga berukuran lapang di restoran berpendingin udara.

Ada kedai kopi baru tak terlalu jauh dari rumah saya di kawasan Simpang Drum. Namanya Umah Kopi. Umah dalam bahasa Kerinci artinya rumah. Rumah untuk menikmati kopi.

Letaknya di Jalan Bachsan atau lebih sering disebut Lorong Sepakat. Masuk ke dalam Lorong Sepakat di depan Alfamart Simpang Drum, Umah Kopi berada di sebelah kiri jalan depan usaha sewa tenda Rika. Dari depan rumah dinas bupati Bungo berada di sebelah kanan sebelum simpang Jalan Merangin.

Tidak ada neon box atau banner besar di depan Umah Kopi, hanya sebuah banner kecil di halaman depan. Mural bergambar siluet atap rumah adat Jambi dan bunga kopi di dinding depan. Dinding cokelat mengingatkan  pada warna Pramuka, aha.

Jangan lupa mencuci tangan sebelum masuk. Perhatikan protokol kesehatan COVID-19 di masa normal baru.

Saya berharap pintu ruangan bisa dibuka dengan didorong menggunakan bahu/punggung. Rupanya handle pintu harus diputar menggunakan tangan. Rasanya percuma tadi sudah cuci tangan hahaha. Sama dengan di luar, di dalam ruangan dicat warna coklat Pramuka. 

 Wak Ojad dan bang Firman, empunya Umah Kopi berada di balik meja barista. Wak Ojad sang barista dengan topi ala dr. Tompie dan bang Firman sibuk menghitung nota pembayaran. Malam minggu seluruh meja penuh dengan pengunjung. Terpaksa saya duduk di meja barista. Ada kursi kosong, tetapi di luar yang berfungsi sebagai area merokok.

Saya mengenal Wak Ojad dan bang Firman tatkala saya masih menjabat sebagai bendahara kantor dan harus membuat laporan ke KPPN Muara Bungo. Mereka berdua front office di KPPN Muara Bungo. Tahun 2019, saya tak lagi menjabat bendahara. Sejak itu saya jarang bersua dengan para pegawai KPPN, termasuk Wak Ojad dan bang Firman.

Di suatu perjumpaan di bandara Muara Bungo, Wak Ojad mengabarkan akan segera membuka kedai kopi baru di depan rumah bupati. Dan kini saya tak lagi menjumpai mereka berdua sebagai partner bekerja, melainkan pemilik kedai kopi. 

Terbawa suasana di kantor, saya memanggil mereka dengan sebutan pak. Rupanya, Wak Ojad lebih suka dipanggil wak (om) dan bang Firman dengan sapaan abang atau om.


Wak Ojad meracik teh tarik

Beberapa kali saya melihat Wak Ojad membuka lapak kopi dengan bendera BCC tiap minggu pagi di CFD Muara Bungo. Selain aktif sebagai abdi negara, mereka berdua adalah pecinta kopi. Sebelum membuka Umah Kopi, Wak Ojad dan bang Firman membuka kedai kopi dengan nama Kopi Kcik di sebuah hotel. Umur Kopi Kcik tak lama karena hotel tersebut ingin merenovasi gedung dengan konsep baru, termasuk menghilangkan Kopi Kcik. Kopi Kcik kini pindah ‘rumah’ ke Umah Kopi.

Lihat Juga: Ojad Sudrajad, antara Pegawai Kantoran dan Kang Kopi

Bang Firman berdarah Karo bermarga Sebayang/Perangin-angin sedangkan Wak Ojad berdarah Sunda-Kerinci. Mural wajah mereka terpampang di dinding sebelah kiri. Di atas sofa di depan meja barista. Peta kepulauan Nusantara, dengan satu titik merah bernama Bungo. Dilihat dengan seksama, pulau Madura, Bali dan Lombok serta provinsi Kepulauan Riau hilang dari peta.


Bang Firman (kanan) mengenakan pakaian adat Karo dan Wak Ojad

Di sisi sebelah kanan terdapat mural lagi. Bergambar entah apa namanya, alat untuk membuat kopi dan slaah satunya ada daun kopi. Ah, saya suka dinding apapun yang ada muralnya. 

Btw, di Kerinci ada minuman yang dibuat dari seduhan daun kopi namanya sbuk kawo. Warisan kolonial Belanda yang tercipta dari penderitaan rakyat Kerinci yang tak sanggup menikmati secangkir kopi. 

 
meja dan kursi kayu, sangat homey

Meski namanya Umah Kopi, disini tak hanya menyediakan kopi, melainkan sarapan pagi sekaligus menu makan siang dan makan malam. Lebih pas kalau disebut resto kafe. Menunya beragam, bisa cek di Instagram: @umahkopi20

Ada sarapan pagi (lontong sayur 10k). Nasi goreng, mi goreng, sop, soto, ayam, ikan dan cumi. Yang paling murah nasi goreng/mie goreng, ayam rica, cap cay, kangkung, toge teri (15k) dan paling mahal udang (35k).

Minumnya beragam mulai dari kopi (mulai dari 7k),  lemon tea (14k), wedang uwuh khas Jogja (20k). Yang paling mahal adalah machiatto latte (28k).

Cemilan ada roti bakar aneka toping (mulai dari 10k), ubi goreng (10k), kentang (12k) dan sosis (15k).


Dalgona coffee ala Umah Kopi

Saya pesan tomyam seafood (25k), teh tarik (10k) dan ubi goreng pengganti nasi (10k). Teh tarik ini tidak ada di daftar menu, tetapi tetap bisa dipesan manual.

Rasa tomyamnya membuat de javu lidah. Mengingatkan saya pada tomyam favorit saya di Sakuna, Tanjung Batu dan di Sinar Tomyam depan kantor bupati Merangin. Isiannya tidak terlalu banyak, agak pricey. Namun, pedas, manis, asam dan gurihnya seimbang dengan sedikit dominasi pedas. Usut punya usut, koki Umah Kopi pernah bekerja di Tanjung Pinang, yang notabene masih satu provinsi dengan Tanjung Batu.

Ubi gorengnya cukup renyah dan gurih. Dihidangkan bersama sambel cabe rawit dan kecap manis.

Di hari besoknya saya datang lagi. Pesan tom yam lagi saking enaknya haha.

Menu lain yang pernah saya coba adalah tekwan (12k). Lumayan enak.

         

Kesimpulan: tempat nongkrong, sarapan, makan siang dan malam yang reccomended buat keluarga. Menu lengkap dan lezat. Next, pengen cobain kopinya.

Umah Kopi Muara Bungo
Jl. Bachsan/Lorong Sepakat (Depan Rika Tenda) Simpang Drum, Muara Bungo
Buka: Senin-Minggu jam 08.00-22.00
IG: @umahkopi20

11 Comments Add yours

  1. bara anggara berkata:

    sbuk kopi dengan kawa daun di sumbar sama ya? hanya beda nama saja??

    1. Avant Garde berkata:

      Sama Bar, beda cara penyajian aja, kalo di kerinci gak pake batok kelapa

      1. bara anggara berkata:

        Di siko juga pake batok kelapa, di nagari pariangan contohnya..

  2. ainunisnaeni berkata:

    kalau dikategorikan resto cafe bisa juga, dia juga menyediakan menu sarapan yang memang harus dibuka pagi hari, dan makananya juga cukup banyak
    itu tomyam dan minum teh tarik kok enakk banget liatnya ya.

    1. Avant Garde berkata:

      Enak banget tom yamnya emang sih hahaha… Tiap kali kesini selalu pesan tomyam jadinya…

  3. bersapedahan berkata:

    kedai kopi sekarang bermunculan dimana mana …. artinya pecinta kopi semakin banyak.
    Harganya bagi orang Jakarta sih murah bangetttt

    1. Avant Garde berkata:

      Ahahaha… betul, kata tmn yg org Jakarta masih cukup terjangkau 🙂

  4. Ikhwan berkata:

    Sbuk Kawo mengingatkan saya pada Kopi Kawa di Sumatera Barat yang punya cerita mirip, Mas. Diseduh dari daun kopi karena pada zaman penjajahan, rakyat tak bisa dan tak mampu membeli biji kopi untuk diseduh. Sepertinya Kawo di Kerinci dan Kawa di Sumbar punya arti sama ya.

    Kalau soal mural yang belum lengkap, jangan-jangan pelukisnya belum selesai menggambar petanya :))

    1. Avant Garde berkata:

      Sama persis uda, hehehe, baik bentuk hingga penyajiannya 🙂 Mungkin karena Kerinci dan Minangkabau itu dekat….

  5. Agung Pushandaka berkata:

    Kenpa oh kenapa, bali tak nampak pada mural kepulauan Indonesia.

    Cerita ini banyak menyebut bang Firman dan wak Ojad. Lha, bang Herman si pemilik kedai kopi yang ngopi di kantor abang tidak ada kelanjutan ceritanya di sini.

    1. Avant Garde berkata:

      Maaf bli hihi, saya pernah nanya ke pemiliknya dan dari vendor pelukisnya gak ada jawaban…

      Rencana soal Herman akan saya tulis di postingan terpisah mas hehe. Terimakasih

Pembaca yang budiman akan meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s