Oneshot Coffee Rimbo Bujang

Penunjuk waktu di gawai menunjukkan jam 2 pagi. Sudah berjam-jam saya merebahkan diri di ranjang. Raga sudah dalam kondisi paling syahdu ingin segera beristirahat, tetapi mata masih segar terjaga. TV sudah saya matikan sejak siaran berita malam berakhir. Kembali saya otak-atik gawai berharap bisa membuat mata lelah hingga akhirnya bisa menemukan jalan ke dunia mimpi. Sepertinya efek secangkir kopi Jangkat yang saya minum tadi siang belum hilang dari tubuh saya. Gila ini kopi!

***

Berawal dari obrolan tentang tempat makan enak dengan seorang kawan di warung  nasi goreng di depan Polsek, saat awal-awal saya menjadi penduduk kota Rimbo Bujang. Saya kemudian tergerak untuk mencoba sebuah toko kue di depan bank BNI, namanya Rumah Kue Bunda alias RKB sesuai masukan teman saya. Saya pikir toko kue di Rimbo Bujang cuma Tri Bakery saja.

Melangkah menuju toko kue, di beranda saya menjumpai sebuah meja bar dari kayu, di depannya ada meja kursi tempat duduk. Papan tulis hitam bertuliskan nama-nama minuman berbahan dasar kopi digantung di dinding bata ekspos bercat mengkilat. Ah, sepertinya ini kedai kopi deh, bukan toko kue.

Seorang gadis berkerudung menyapa saya dari dalam tirai yang memisahkan antara ruang dalam dengan ruangan berisi etalase berisi kue dan roti. Di dekat etalase terdapat lagi deretan meja dan kursi, hanya saja lebih kecil dari meja kursi di dekat kedai kopi tadi. Oh, jadi di teras ada kedai kopi, toko kuenya berada di dalam. 

Kuenya lumayan banyak. Beberapa potong kue yang telah saya pilih diletakkan dalam piring kecil, saya ingin makan kue sambil minum kopi di depan. Surprise melihat deretan bagelen tertata rapi di etalase. Ukurannya lebih kecil, tidak sebesar bagelen di Salatiga. Cobain ah, siapa tahu bagelennya enak.

Bagelennya saya minta untuk dibungkus buat dimakan di rumah. Sebagaimana tempat makan lain, pengunjung bisa membayar makanan dan minuman setelah usai bersantap, tetapi saya bayar saja dimuka. Takut kelupaan.

Namanya Ferry, pemuda berdarah Minang dari Batusangkar tetapi lahir dan besar di Rimbo Bujang. Tumbuh di lingkungan eks transmigran dari Jawa tak lantas membuat ia melupakan tanah leluhur. Logatnya kental Minangkabau meski ia mengaku bisa berbicara bahasa Jawa ngoko. Ia single fighter di Oneshoot. Seorang pemilik, barista sekaligus merangkap sebagai waiter di Oneshoot. 

Tak perlu waktu lama untuk bisa mengobrol santai dengan Ferry. Orangnya asyik dan ramah di balik kacamata tebal yang ia pakai. Saya duduk di bangku tinggi depan meja bar. Tak ada pengunjung lain selain saya. Jika kedai kopi ini dikelola Ferry, rumah kue di dalam milik kakak iparnya. Ferry hanya menjual kopi. Sedangkan kakaknya menjual kue dan roti. Sungguh simbiosis sempurna. Kedai kopi ini baru berdiri sejak setahun silam.

Jika tak masuk ke dalam, orang tak kan tahu ada kedai kopi. Papan nama yang dipasang di tepi jalan adalah toko kue, tak ada tulisan kedai kopi.

Saya memesan piccolo tanpa gula, minuman kopi panas berbasis espresso. Biji kopinya dari Jangkat, robusta. Tak sebagaimana robusta yang umumnya pahit, robusta Jangkat memiliki citarasa asam karena ditanam di ketinggian pegunungan. Slurpp.. ah, mantap. Jauh lebih enak dari kopi di dekat rumah. Siapa sangka kopi Jangkat ini pula yang membuat bencana. Saya masih terjaga hingga jam 2 pagi nanti malam.

Dari label roastery kopi Jangkat, terbaca sebuah kedai kopi dan micro roastery di Muara Bungo, Kafeinisme. Ferry tergabung dengan BCC. Klub pecinta kopi yang bermarkas di Muara Bungo.

Oneshot, kedai kopi miliknya dinamai berdasarkan nama metode ekstraksi kopi. Ferry suka ngobrol dan hobi bercerita. Mulai dari awal mula mengenal kopi, proses belajar menyajikan kopi ia pelajari di Jakarta. Pendidikannya komputer, tetapi kini ia mantap berbisnis kopi. Ia pun tak pelit ilmu ketika saya bertanya segala hal tentang kopi. 

Ferry ini rupanya masih tetangga saya. Rumah Ferry selalu saya lewati tiap saya berangkat dan pulang ke kantor. Kami tinggal di gang yang sama. Sebuah rumah dengan halaman yang luas dengan rumput hijau di Gang Pondok Ayah.

Dalam kesempatan berikutnya, saya beberapa kali datang hampir jam 10 malam. Ferry suka begadang sehingga tak masalah saya datang jam 10 malam. Dia tak mematok kapan harus menutup kedai. Sebagai pemilik tunggal, ia tak masalah pulang jam 2 pagi karena pengunjung kopinya baru beranjak pulang jam 2 pagi. Beberapa kali ia pulang di atas jam 12 malam atau jam 1 pagi. Jika beberapa menit lewat tengah malam tak ada pengunjung, ia bergegas merapikan kedai, baru pulang ke rumah.

Tempat ini juga saksi ketika saya pulang ngantor tapi belum mau pulang ke kosan. Beberapa tulisan di blog ini tercipta di kafe Ferry. Terimakasih Oneshoot, salah satu tempat yang akan saya rindukan jika sudah tak lagi tinggal di Rimbo Bujang.

10 Comments Add yours

  1. Ikhwan berkata:

    Ngeri juga efek kopi Jangkat ini, bikin ga bisa tidur sampe jam 2 pagi. Saya kayanya ga bisa dah nyoba kopi yang agak kuat. Dulu nyoba Gayo Aceh aja dag dig dug sampe ga bener-bener ga bisa tidur. :))

    Tapi tertarik juga sih nyobain kopi Jangkat ini. Btw mungkin bisa dikasi usulan ke pemiliknya buat masang papan nama kedai kopi di bagian luar, mas. Biar orang yang lewat ngeh kalo ada kedai kopi, lumayan kan bisa menarik tambahan pelanggan. Takutnya cuma tahu kalau di sana ada toko roti doang kan.

    1. Avant Garde berkata:

      Mungkin karena kopi yang saya pesan jenis espresso sehingga lebih kuat kafeinnya, sok sok an juga sih coba2 biji kopi yg belum pernah dikonsumsi sebelumnya da wkwkw…

      Kalo ke Jambi monggo dicoba, belum terlalu banyak dikenal di luar Jambi soalnya, masih kalah sama kopi Arabica Kerinci…

      Saya pernah nanya dulu pernah dipasang, tapi lepas apa gimana gitu…

      1. Ikhwan berkata:

        Iseng nyoba taunya efeknya nendang ya. Tapi di indonesia memang jenis kopi cukup banyak ya. Kalau yang suka kopi banget pasti senang nyobain jenis baru.

        Noted. Tapi kopi arabica kerinci saya juga belum pernah sih. Muter-muter Sidikalang doang haha.

        1. Avant Garde berkata:

          Saya awalnya gak suka kopi, lalu “diracuni” boss saya yang maniak kopi, lalu suka ngopi, sekarang biasa sih. Ada kopi diminum, nggak ya biasa aja hihi…

          Jangkat ini robusta, tp rasa arabica, lebih dominan asem ketimbang pahit

  2. Ira berkata:

    wah keren nge-press ekspresonya pake manual dong!!!!
    kebayang kalo kedai kopinya lagi ramai berasa olahraga

    1. Avant Garde berkata:

      Di sana nggak ada ac Ra hehe, jadi emang agak panas sih hehe…

  3. bara anggara berkata:

    wah mantap uda ferry, single fighter ya.. tapi saya kalau ke sana pesan roti aja deh, kalau pesan kopi takutnya gak bisa tidur wkwk

    1. Avant Garde berkata:

      Hihi, boleh Bar 🙂 Ditunggu yah di Rimbo Bujang 🙂

      1. bara anggara berkata:

        Pgn sekalian ke kerinci 😅

        1. Avant Garde berkata:

          Boleh Bar, Padang-Solsel-Kerinci, Kerinci ke Muara Bungo ada pesawat kok hehe… atau sekalian touring hehe…

Pembaca yang budiman akan meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s