Masjid Agung, Selepas Perhelatan Itu

Saya sering merasa eman. Ada masjid yang gede banget, megah, tapi jemaahnya sangat sepi. Ada pula masjid yang kecil. Lokasinya di tengah-tengah pemukiman padat. Kalau sholat Jumat banyak jamaah yang terpaksa sholat di halaman masjid pakai koran karena bagian dalam dan teras tidak muat menampung jamaah.

Perasaan yang sama saat mengunjungi masjid agung Baitul Makmur. Masjid agung Bangko yang baru. Lokasinya di tepi jalan lintas Sumatera arah Sarolangun. Tepatnya di bekas balai adat Sarolangun-Bangko. Meski megah dan besar, masjid ini belum semakmur namanya.

Masjid ini dibangun sebagai wahana penunjang perhelatan MTQ Tingkat Provinsi Jambi tahun 2016 yang digelar di Bangko. Selain masjid, dibangun pula gedung lembaga adat kabupaten Merangin. Menggantikan bangunan balai adat yang sekarang dibongkar menjadi pagar. Selepas MTQ berakhir, masjid ini kembali sepi. Sayang ya..

p1060489
gerbang masuk
dsc07982
pagar depan masjid agung Baitul Makmur
p1050080
mihrab
p1050090

Meski berada di jalan lintas, jamaah sholatnya belum terlalu banyak. Saya pernah beberapa kali sholat berjaamah di masjid ini. Paling banyak hanya dua saf yang memenuhi bagian depan masjid. Meski strategis, masjid ini sayangnya berada agak jauh dari pemukiman warga.

Kalau kamu singgah di Bangko, sempatkanlah sholat di masjid Baitul Makmur. Kalau bukan kita, siapa yang akan memakmurkan masjid. Selepas sholat, kamu bisa selfie di beberapa spot indah di sekitar masjid.

p1050081
lembaga adat dilihat dari lobi masjid
p1060494gedung lembaga adat dan menara

Saya sempat suuzon melihat balai adat lama yang terbuat dari kayu dibongkar dan diganti balai adat yang terbuat dari beton. Rupanya, balai adat yang lama hanya digeser atau dibangun kembali. Tepatnya di samping lembaga adat. Sayang warnanya merah. Setahu saya, rumah adat Bangko berwarna hitam.

p1060492
balai adat yang dibangun kembali
p1060490

Iklan

14 comments

  1. Bangunan balai adatnya artistik sekali ya, Kang. Lantai mesjidnya kinclong, saya kira itu kolam. Eh ternyata lantai.
    Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah itu bukannya moto orang Minang ya?

  2. Hahaha… Ini foto kapan mas? Saya barusan dari situ trus foto-foto ni masjid juga, habis bantu nyiapkan stand pameran. Btw, ikut pameran nggak mas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s