Mie Ayam di Rimbo Bujang

Pilih mie ayam apa bakso? Kalau saya lebih suka makan mie ayam daripada bakso. Mie basah warna putih, dengan toping semur ayam, bawang goreng, acar timun, rajangan sawi dan daun bawang mentah. Disiram kuah bening bercitarasa gurih dan sambal. Hm…mantap. 

Baik mie ayam dan bakso, dua jenis makanan yang banyak ditemukan di seluruh penjuru nusantara. Umumnya dijual oleh pedagang keliling memakai gerobak, atau warung-warung makan hingga disajikan di restoran.

Meski banyak pedagang mie ayam berasal dari Jawa Tengah, sejatinya mie ayam adalah masakan  Peranakan yang telah mengalami adaptasi unik dari awalnya perantau asal Tiongkok.

Semasa saya kecil, ayah saya selalu mengajak saya makan mie ayam. Dengan naik sepeda ontel, saya diboncengkan dengan kursi anak di depan sedangkan ayah saya yang mengayuh sepeda. Hampir seminggu sekali ayah saya membawa saya pergi menikmati semangkuk mie ayam di sebuah warung mie ayam yang berjarak 15 menit naik sepeda dari rumah. 

Beda daerah rupanya beda toping dan cara penyajian. Di kampung saya, termasuk Salatiga dan sekitarnya, selain sawi, mie ayam disajikan dengan acar timun dan irisan daun bawang yang disajikan terpisah. Bagi pecinta sayur macam saya, saya selalu minta sawinya diperbanyak dan mengisi penuh mie ayam dengan acar timun dan daun bawang.

Di Tanjung Balai Karimun,  mie ayam kalah populer dengan mieso. Sajian mirip soto dengan bihun dan irisan ayam goreng. Mie ayam sendiri disajikan ala masakan Peranakan. Selain toping semur ayam, diberikan semur jamur kancing dan pangsit. Kuah disajikan terpisah dalam mangkuk kecil.

Di Bangko, kuah mie ayam berwarna agak kekuningan dengan minyak ayam yang cukup melimpah. Orang Bangko suka makan mie ayam dengan tambahan ceker ayam dan pangsit.

Di Sungai Penuh, kota dengan pengaruh budaya Minang dan Kerinci, penjual mie ayam bisa dihitung jari. Kuah mie ayamnya lebih kental dengan minyak ayam yang lebih banyak dari mie ayam di manapun. Berasa mie yang disiram minyak. Baru di Sungai Penuh saya menghindar mie ayam dan beralih ke bakso yang kuahnya tidak terlalu berminyak. 

Mie ayam di Muara Bungo biasa disajikan dengan toping tambahan berupa irisan ati ampela yang suka disebut kalang. Buat saya agak aneh makan mie ayam dengan irisan ati ampela, tetapi toping ini cukup favorit bagi warga disini.

Masih di Muara Bungo, penjual mie ayam dan bakso umumnya juga menyediakan mieso. Mirip dengan di Tanjung Balai Karimun, makanan serupa sup atau soto, dengan isian bihun dan mie kuning dengan potongan ayam goreng.

Mie Ayam di Rimbo Bujang

Di Rimbo Bujang, mie ayam dan bakso ibarat jamur di musim hujan. Banyak ditemukan dimana-mana. Mulai dari dekat kantor ada dua warung mie ayam. Mie ayam Pakdhe Raos Eco 2 dan mie ayam MasTridut depan STIT Al Falah. Di dekat kosan saya ada 3 penjual mie ayam yang jaraknya saling berdekatan.


mie ayam Raos Eco (11k)

Mie ayam mas Tridut murah saja. Porsi setengah (tanggung) dijual seharga hanya Rp 5.000,- saja. Menyesuaikan dengan banyaknya anak sekolah dan mahasiswa dekat warung mie ayam ini. Sangat murah dibandingkan mie ayam di Muara Bungo yang dijual mulai Rp 10.000,- Mie ayam porsi penuh dan mie ayam bakso dijual seharga Rp 10.000,-


mie ayam Tridut seharga 5k (porsi mahasiswa)

Saya pernah menjajal mie ayam paling terkenal di Rimbo Bujang yang berada di kawasan Pasar Sarinah. Hasilnya semangkuk mie ayam penuh minyak datang ke hadapan. Trauma mie ayam di Sungai Penuh itu kembali masuk ke kepala.

Mie ayam berikutnya yang pernah saya jajal adalah yang di eks terminal bus Rimbo Bujang dan di depan warung siomay batagor Bandung. Masih berminyak.

Hingga akhirnya saya menjajal mie ayam Mutiara di jalan 8 (jalan RA Kartini) tepatnya di sebelah minimarket SM Link. Kuahnya bening, ayamnya banyak. Rasa kuahnya mengingatkan saya dengan mie ayam di kampung. Semangkuk mie ayam dipatok 11k dan mie ayam bakso 15k.

Sejak itu mie ayam ini menjadi jujugan saya di Rimbo Bujang. Dalam seminggu, saya bisa dua kali makan mie ayam di tempat ini. 

Btw, banyak tempat makan di Rimbo Bujang tutup pada hari Kamis karena setiap malam Jumat warga akan mengadakan acara yasinan, termasuk mie ayam Mutiara ini.

Kamu tim mie ayam apa bakso?


mie ayam jamur buatan sendiri (resep by Bunda Didi)

6 Comments Add yours

  1. bara anggara berkata:

    eikeu tim mie ayam.. kalau ke Padang cobain mie ayam di deket gereja dan rumah duka HBT di Pondok,, favoritku..

    1. Avant Garde berkata:

      Siap uda 🙂 Udah diagendakan sih kalo pandemi kelar pengen ke jambi apa padang

  2. Favorite ama mie ayam, paling senang kalau ada tambahan ceker. kalau bakso itu efek kekenyalan nya di aku sering nga pas. paling icip-icip nyobain dikit, nga berani banyak takut kebuang.

    1. Avant Garde berkata:

      Tosss 😀

      Aku juga gak terlalu suka bakso Del, suka neg sama bakso dan kuahnya 🙂

  3. Ikhwan berkata:

    Bukan Tim Penggemar Mie, hehe. Kalau harus memilih, kayanya saya lebih mending makan mie ayam daripada bakso. Tapi tetap aj membayangkan mie ayam yang minyaknya agak kebanyakan seperti versi Sungai Penuh agak giman gitu hahaha. Tapi balik lagi ke selera masing-masing sih ya.

    1. Avant Garde berkata:

      Sepertinya karena disana banyak warga keturunan Minang mas, jadi yang berminyak lebih diminati 🙂

Pembaca yang budiman akan meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s