Wedang Ronde yang Pernah Ada

Sore hari, saya jenuh di kosan dengan sinyal internet yang naik dan turun. Niat hati ingin pergi ke kantor untuk berselancar di dunia maya. Ponsel, pengisi daya dan netbook saya masukkan ke tas ransel lantas motor saya geber menuju ke arah kantor.

Belum jauh dari kosan, tiba di jalan 8 pandangan saya tolehkan pada deretan ruko kayu yang sepertinya memicu keriuhan sore itu. Sebuah ruko sederhana bercat putih dengan gerobak biru di depannya. Di atasnya bertenger spanduk cetak kecil dengan tulisan Wedang Ronde. Hah, wedang ronde?

Seumur-umur saya tinggal di Rimbo Bujang, saya tak pernah menemui wedang ronde dimanapun. Dari beberapa penjual minuman tradisional yang ada biasanya es tebu, es doger, sekotang (sekuteng ala Minang), bandrek dan wedang jahe. Wedang jahe pun hanya tersedia di malam hari di kedai angkringan yang bertebaran di penjuru Rimbo Bujang.

Motor saya putar balik mumpung belum terlalu jauh.

Sepertinya sore itu hari pertama warung wedang ronde itu beroperasi. Beberapa orang berkerumun di luar warung. Bau cat di dinding dan gerobak masih sangat tajam di penciuman. Wedang Ronde Temanggung, nama itu dipampang pada spanduk di atas warung. Seperti apa rasanya? Mari kita coba.

Seorang kakek tua menyapa saya dalam bahasa Jawa. Saya masuk ke dalam, duduk di bangku kecil. Setelah berbasa-basi menanyakan alamat rumah, asal daerah, saya lantas memesan seporsi wedang ronde.

Sang kakek tampak cekatan mengambil sebuah mangkuk putih, memasukkan ronde dan kacang goreng, menyiram kuah jahe lantas mengambil sejumput roti tawar danΒ  … emping. Benar, emping melinjo yang biasa dimakan itu! Hati ingin meronta nyatanya secepat kilat tangan sang kakek menyuguhkan semangkuk wedang ronde dengan toping emping melinjo itu di hadapan saya.

Dua lembar emping melinjo bertengger di atas ronde yang saya pesan. Sebagian emping yang terbenam membuat kuah ronde berminyak. Yikes!

Buru-buru saya keluarkan emping tersebut dan saya kunyah, meski saya sebenarnya tak terlalu suka dengan emping melinjo. Ibu saya pengidap asam urat dan menghindari emping melinjo. Kami anak-anaknya tak terlalu menggemari emping melinjo karena tak pernah tersedia di rumah.

Berbeda dengan ronde di Salatiga yang pakai isian agar-agar dan kolang kaling, dua isian tersebut tidak terdapat di wedang ronde ini. Pun, bola-bola ronde ini lebih kecil dari ronde di Salatiga. Rasa kuahnya hampir sama, sepertinya ditambahi susu karena ada sensasi creamy dan warna kuahnya lebih pucat.

Usai menuntaskan rasa penasaran, saya minta dibuatkan seporsi wedang ronde untuk saya santap di kantor. Saya minta tidak pakai emping. Kakek tersebut memasukkan ronde yang sudah dibungkus ke kantong plastik hitam. Usai membayar, saya lantas melanjutkan perjalanan ke kantor.

Tiba di kantor, saya kecewa menjumpai ronde yang saya pesan dibubuhi emping yang kini kondisinya sudah benyek dan mengeluarkan banyak minyak ke kuahnya. Saya cari informasi di dunia maya, wedang ronde Temanggung memakai emping yang digoreng. Hanya saja, bukan emping yang berbentuk lebar yang biasa dimakan sebagai cemilan, melainkan emping berukuran kecil.

Pulang dari kantor, saya melewati jalan 8 sebagaimana biasa. Saya tak terlalu memperhatikan tempat penjual wedang ronde tersebut. Beberapa hari kemudian, iseng saya memperhatikan warung wedang ronde tersebut yang sukses membuat saya terheran dengan toping empingnya. Spanduk di atasnya sudah ditutup kain reklame. Berminggu-minggu kemudian, belum ada tanda-tanda kehidupan dari warung wedang ronde emping tersebut.

18 Comments Add yours

  1. Agung Pushandaka berkata:

    Saya belum pernah lihat wedang ronde ada emping melinjo.
    Biasanya saya beli yang ada bola-bola yang ada isian kacang di dalamnya.
    Itu enak!

    1. Avant Garde berkata:

      Ya mas, ronde setau saya yg ada isian kacangnya, nggak pake emping melinjo πŸ™‚

  2. aku suka ketuker bedain wedang ronde, wedang uwuh dan bandrek wkwkwk isinya apa aja aku bingung hehehehe..
    intinya kalau diminum badan jadi hangat.

    kasihan juga yach kalau beroperasi cuma beberapa hari trus tutup.

    1. Avant Garde berkata:

      Hampir sama sih Adel, sama2 wedang jahe, kalo wedang ronde kalo versi di tempatku pake ronde (pentol), kacang, agar-agar, kolang kaling sama roti tawar, kalo wedang uwuh pake cengkeh, secang, kapulaga dan warnanya merah πŸ™‚

  3. bersapedahan berkata:

    sepertinya itu satu2-nya wedang ronde disana ya …
    sayang kalau sampai tutup
    nanti pasti kangen sama toping emping-nya … hahaha

    1. Avant Garde berkata:

      Wkwkwkw… kangen rondenya sih iya, empingnya kagak mas πŸ™‚

  4. febridwicahya berkata:

    Aaaaaakh, jadi pengen mencicipi ronde πŸ˜€

    1. Avant Garde berkata:

      Ditunggu kak πŸ™‚

  5. Adie Riyanto berkata:

    Aku baru tahu lho kalo dirimu masih aktif ngeblog hehehe. Habisnya gak pernah kelihatan di linimasaku πŸ™‚

    1. Avant Garde berkata:

      Masih mas πŸ™‚

  6. ainunisnaeni berkata:

    kalau di jember kayaknya wedang ronde dicampur sama kacang, ga perhatian juga. seringnya beli angsle
    terakhir kali pesen ronde waktu jalan ke jogya, itupun karena udara jogya adem jadi ya pesen ini hehehe
    untuk penghangat badan kayaknya cocok si ronde ini

    1. Avant Garde berkata:

      angsele belum pernah beli, tapi kayaknya lebih simpel ya mbak, wedang roti pake santen hehe πŸ™‚ wedang ronde lebih cocok di udara dingin memang sih πŸ™‚

  7. Ikhwan berkata:

    Wedang ronde dengan topping emping melinjo?? Nyambung ga ya rasanya hahaha. Ini isi rondenya apa ya mas? Kacang giling kaya biasa apa malah diisi emping?

    1. Avant Garde berkata:

      Seingat saya kosongan mas πŸ™‚ Buat lidah saya…. nggak nyambung blas…. hahaha

      1. Ikhwan berkata:

        Kosongan ya. Emang unik juga ya berarti, ga kaya wedang ronde kebanyakan.

        1. Avant Garde berkata:

          Betul, lebih simpel isiannya dan pake melinjo kecil πŸ™‚ Belum pernah makan wedang ronde di temanggung sih, padahal dekat rumah mertua di semarang hehe

  8. Alid Abdul berkata:

    Ronde dicampur kacang juga kan berminyak ehehe. Mungkin susah nyari emping gemprek yg kecil-kecil itu ya di sana, jadi dipake emping yg lebar itu. Aku sendiri penyuka emping garis keras, jadi pasti suka menyantap wedang ronde Temanggung.

    Fakta menarik dari Ronde adalah orang mengira minuman ini asli khas Indonesia, nyatanya dari Tiongkok ehehehe.

    1. Avant Garde berkata:

      Aha, benar… ronde asalnya dari Tiongkok, kalo ronde yg di salatiga dan semarang perpaduan masakan khas Tiongkok selatan dengan selera lidah orang Jawa πŸ™‚

Pembaca yang budiman akan meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s