Kembali ke Kerinci (4) : Kopi Pusaka Kerinci

Cerita sebelumnya: bagian 1 bagian 2 bagian3. *** Berada di lapangan Merdeka ibarat melintasi lorong waktu. Saya pertama kali kesini enam tahun lalu masih sendiri. Beberapa bulan kemudian istri menyusul saya ke Sungai Penuh. Kini saya dan istri datang menggandeng anak. Rivera, nama tengah anak saya, saya kutip dari kata Sungai Penuh. Lapangan Merdeka sebagai…

Menjadi Turis di Sungai Penuh (2)

 Saya bangga tinggal di Sungai Penuh. Keanekaragaman budaya bahkan bahasa ada bahkan di level desa atau kampung. Jangan heran karena beda desa, beda juga bahasanya meski sama-sama bahasa Kerinci. Perbedaan bahasa ini makin nampak ketika saya jalan-jalan sore di wilayah kecamatan Pondok Tinggi. Saya jalan-jalan keliling desa Permanti, Aur Duri dan Pondok Agung. rumah laheik…

Sayonara Kincai (2)

Sabtu, 11 Mei 2013 Hari-hari terakhir saya di Kerinci saya isi dengan melihat kegiatan latihan Kerinci Aero Club (KAC) di lapangan Kumun atau di depan rumah dinas Bupati Kerinci. Ada dua cabang kegiatan di KAC yaitu paralayang dan paramotor. Paramotor menggunakan angin dan mesin sedangkan paralayang murni menggunakan tenaga angin. Karina dan Sergey lebih condong ke…

Datang, Pergi, Kembali

Entah sudah berapa lama tulisan ini nangkring begitu saja di dasbor blog saya. Jika melihat di histori penulisan, sudah tiga puluh hari tulisan ini hanya berupa konsep saja. Sayangnya tulisan ini terbengkalai karena berbagai alasan. Mood yang hilang di tengah-tengah jalan. Lalu karena saya terpaksa mengubah ‘cerita’ yang mau saya tulis karena berbagai peristiwa di…

Umah Cino – Sungai Penuh

 Umah Cino adalah sebutan untuk rumah toko atau ruko di Sungai Penuh. Bentuknya umumnya dua lantai dengan lantai bawah dipakai untuk berdagang dan lantai atas sebagai tempat tinggal. Kebanyakan umah Cino di Sungai Penuh dibuat dari kayu. Perbedaan umah cino dengan umah laheik adalah umah Cino tidak mempunyai tangga luar. Tangga hanya ada di dalam….