28 Jam di Lampung (3)

Update: Museum Lampung ditutup untuk direnovasi s.d. tanggal 30 Desember 2019 Lampung punya segudang tempat menarik untuk disambangi. Gunung Anak Karakatau, pulau Pahawang, habitat lumba-lumba di teluk Kiluan, surfing di Krui, sekolah gajah di Way Kambas hingga situs prasejarah di Pugung Raharjo. Dengan waktu cuma sehari semalam di Lampung saya punya beberapa opsi destinasi untuk dikunjungi….

Berburu Nasi Jagung ke Pasar Bandungan

Sebelum pulang kampung, saya sudah menyiapkan list mau kulineran kemana saja kalau sudah tiba di kampung. Tak banyak tempat yang saya tentukan karena biasanya saat Lebaran malah banyak tempat makan enak yang tutup karena pemiliknya berlebaran di kampung. Jadi saya harus menunggu paling tidak seminggu setelah Lebaran. Saya sengaja tak menyiapkan agenda jalan-jalan. Minggu pertama…

Kepincut Bandara Baru Semarang

Maaf mau curcol dulu hehe. Mudik Lebaran tahun ini khususnya bagi yang memilih moda pesawat menuju kampung halaman tentu merasakan ujian berat berupa kenaikan tiket yang luar biasa. Misalnya rute Muara Bungo-Jakarta yang  biasanya 900 ribuan sekali jalan, naik hingga 1,7 juta sekali jalan.  Kami sekeluarga 3 orang. Nah, tinggal dikalikan saja berapa totalnya. Itu…

28 Jam di Lampung (2)

Dulu sekali, zaman saya kuliah, saya selalu naik bus jika hendak pergi ke Palembang atau pulang kampung ke Jawa. Perjalanan selama 36 jam melintasi kota-kota di pantura, naik kapal di Selat Sunda, melewati kebun sawit antara Lampung dan Palembang. Tak banyak yang saya ingat tentang Lampung. Hanya Menara Siger di dekat Pelabuhan Bakauheni, terminal Rajabasa…

28 Jam di Lampung (1)

Roda pesawat yang saya naiki beradu dengan landasan bandara. Tak sabar rasanya untuk segera keluar dari pesawat dan mewujudkan cita-cita saya menjejakkan kaki di provinsi kesepuluh di Sumatera ini. Pesawat bergerak perlahan di landasan pacu yang licin menuju apron. Langit Sumatera kelabu, disiram hujan. Padahal tadi Jakarta cerah. *** Mudik kali ini beda dengan mudik…

New Rukun Santosa, Bangkitnya Seni Tradisional Kampung Kami

Perang Jawa yang dikobarkan Pangeran Diponegoro tahun 1825 hingga 1830 Masehi memicu semangat juang rakyat melawan penjajah. Salah satu taktik pejuang dalam menggelorakan semangat melawan penjajah adalah melalui kesenian tradisional. Betul, para pejuang anggota laskar Diponegoro yang tersebar di sekitar gunung Merapi dan Merbabu melatih para pemuda berperang dengan ‘bungkus’ kesenian tradisional untuk mengelabuhi Belanda….