Ngeri-ngeri Sedap (2022)

Disclaimer: non-spoiler review, jadi aman buat yang belum nonton! šŸ™‚

278961797_489308996208999_1647854968156385227_n
Poster resmi film Ngeri-ngeri Sedap, foto pinjam dari sini.

Halo semua, sekian lama rasanya tidak menulis di blog ini (hampir enam bulan alias setengah tahun, hikz). Sampai akhirnya kemarin di-dm sama mba Ainun (ainunisnaeni.com) di instagram. Mohon maaf, lagi-lagi pekerjaan di kantor mengalahkan semuanya. Termasuk urusan tulis menulis ini.

Sedikit cerita, di kantor sekarang saya pindah seksi. Tidak lagi berhadapan langsung dengan masyarakat di front office tetapi fokus di belakang layar saja berkutat dengan data dan alket. Hikmahnya volume pekerjaan tidak sebanyak di seksi sebelumnya.

Minggu lalu saya nonton sebuah film keluarga di bioskop dekat rumah di Salatiga. Judulnya Ngeri-ngeri Sedap (NNS). Meski mengandung kata “ngeri”, ini bukan film komedi apalagi horor melainkan drama komedi.

Sudah lama sekali rasanya tidak nonton film keluarga lantas mewek di tengah film. Film keluarga terakhir yang saya tonton adalah Losmen Bu Broto (Maudy Ayunda, Maudy Koesnaedi, 2021) Ceritanya ada sedih-sedihnya, tapi tidak sampai bikin mewek.

Alasan kenapa tertarik menonton film ini adalah karena berlatar belakang Batak dan syutingnya di Balige. Balige merupakan salah satu kota di Sumatera Utara yang saya kunjungi dalam SumuTrip beberapa tahun silam dalam rangka keliling Danau Toba.

Saya menyukai film berlatar Batak seperti Toba Dreams, 3 Nafas Likas (Batak Karo sih ini) dan Demi Ucok. Film Batak terakhir yang saya tonton adalah Toba Dreams. Saya nonton bareng Ian waktu masih bekerja di Jambi. Kebetulan baik NNS dan Toba Dreams berlatar di Balige, kota kecil di tepi danau Toba.

NNS mengisahkan kehidupan keluarga Batak dengan tokoh utama pak Domu (Arswendy Nasution, Pengabdi Setan:2017), mak Domu (Tika Panggabean). Mereka memiliki 4 orang anak.

Anak ke-2 bernama Sarma (Gita Bhebita) tinggal bersama mereka dan bekerja sebagai PNS di kantor camat. Domu si anak pertama (Boris Bokir) bekerja di sebuah BUMN di Bandung dan berencana menikah dengan seorang gadis Sunda. Anak ketiga yang bernama Gabe (Lolox) menjadi komedian slapstick di acara tv swasta di Jakarta. Sahat si anak terakhir (Indra Jegel) memilih tinggal bersama pak Pomo, seorang kakek tua yang tinggal sebatang kara di Jogja.

Konflik dimulai ketika sang opung/nenek (Rita Matu Mona) berniat mengadakan sebuah acara adat. Upacara tersebut baru bisa diadakan jika seluruh anak dan cucu opung hadir, termasuk Domu dan adik-adiknya. Sementara baik Domu, Gabe dan Sahat enggan pulang kampung karena merasa pilihan hidupnya tidak direstui ayah mereka.

Pak Domu adalah biang dari permasalahan dengan anak-anaknya. Ia tak pernah merestui Domu yang merupakan anak tertua menikah dengan non-Batak karena dianggap akan melupakan adat. Gabe tak diizinkan menjadi komedian karena dianggap memalukan keluarga. Padahal pak Domu bercita-cita Gabe menjadi hakim atau jaksa, bukan pelawak. Sedangkan Sahat si anak bungsu dianggap membangkang karena dianggap lebih mementingkan orang lain (pak Pomo) ketimbang mengurus orang tuanya sendiri di kampung.

Pak Domu dan mak Domu lantas merancang sebuah strategi unik tapi ngeri-ngeri sedap agar ketiga anaknya mau pulang dan mengikuti upacara adat.

Review

Jika melihat poster film, NNS tampak seperti komedi. Seorang ayah dengan muka cemberut dengan istrinya, tetapi tangan menggenggam erat. Diapit oleh anak-anak yang dikenal sebagai komika (Boris Bokir dkk).

Seluruh bagian di trailer sengaja dimunculkan di awal film, membuat penonton bertanya setelah semua trailer dituntaskan terus apa lagi ceritanya. Ketika konflik intern keluarga muncul dan komedi tipis-tipis mulai timbul, Bene Dion Rajagukguk selaku penulis skenario dan sutradara seolah memberikan tensi drama kepada penonton perlahan-lahan dan kemudian menuangkan “bawang” ke mata penonton tanpa ampun hingga klimaks cerita. Bioskop yang tadinya riuh karena gelak tawa penonton menjadi hening karena suara sesenggukan. Air mata menggenang di ujung mata hendak menetes.

Pada saat klimaks film -yang dilakukan dengan teknik long shot- hampir seluruh pemain bermain dengan sangat total. Gita Bhebita yang biasanya tanpa ia bersuara saja sudah mau tertawa kali ini menyajikan sesuatu yang lain di luar kebiasaan. Keseluruhan akting pemain yang ciamik membuat efek dramatis yang menular dari layar ke mata penonton. Para komika yang selalu tampil ceria tiba-tiba dipaksa menjadi aktor/aktris drama dan kali ini usaha mereka berhasil!

Hingga saat ini (23 Juni) NNS telah meraup 2 juta lebih penonton. Sesuatu yang awalnya dianggap mustahil oleh Bene. Rispek ketua! Tak berlebihan jika saya setuju NNS adalah film terbaik di tahun 2022 dan berpotensi menggondol banyak penghargaan di FFI.

Dengan percakapan 99% menggunakan bahasa Indonesia, NNS bukanlah film tentang Batak. Ia adalah film tentang kita, tentang keluarga kita. NNS dengan jeli menangkap konflik internal yang acapkali muncul di tengah-tengah keluarga. Baik antar suami-istri, orang tua-anak, antar keluarga.

Lokasi Syuting

Dari wawancara dengan Bene Dion, film ini 10% mengambil gambar di Jakarta, sisanya di danau Toba. Adegan makan pagi di balerong Pasar Balige dengan atap rumah panggung khas Batak yang menjulang tinggi membuat saya berteriak di dalam hati “Saya pernah kesitu!”

Rumah ibunya mak Domu berada di samping gereja HKBP, entah gereja mana karena bolak-balik saya cari di maps belum ketemu hehe.

Selain Balige, daerah lain yang dijadikan lokasi film yakni pasar Laguboti, bandara Silangit di Siborong-borong dan bukit Holbung.

Makanan Khas Batak

Ada setidaknya 4 makanan khas Batak yang muncul di NNS. Mie gomak, mie sop, ikan tombur dan sangsang (dibaca saksang). Disamping sangsang yang nonhalal, rasanya belum pernah semua kuliner tersebut saya coba waktu berkunjung ke Toba. Yang bikin penasaran tentu mie gomak karena buat saya yang pecinta mie, melihat mie gomak muncul beberapa kali di film membuat saya menelan ludah.Ā 

Film Batak dan Lagu Batak

Setelah era film Toba Dreams yang dikomposeri oleh Viky Sianipar, satu hal penanda yang muncul dari film Batak adalah munculnya lagu-lagu berbahasa Batak sebagai pengiring cerita. Bukan kebetulan jika Viky Sianipar muncul kembali sebagai komposer. Saya akui memang lagu-lagu yang diaransemen ulang oleh Viky sangat bagus dan jadi enak didengar.

Jika Toba Dreams muncul dengan lagu Aut Boi Nian dan Dang Marnamubaho, NNS muncul dengan lagu-lagu Batak. Tak cukup satu melainkan 8 lagu dan hampir semuanya berbahasa Batak. Setiap lagu dimainkan ditambah dengan terjemahan simpel dalam bahasa Indonesia sehingga mudah dipahami bagi penonton non-Batak.

Lagu-lagu yang muncul antara lain:
1. Anakkon hi do Hamoraon (pembuka)
2. Anak Medan (entah muncul di scene mana)
3. Agak Laen (scene lapo)
4. Antar di Dongkon (scene bukit Holbung)
5. Siantar Men (instrumen)
6. Mie gomak
7. Uju Ningolukon
8. Huta Namartuai (penutup)

Huta Namartuai merupakan lagu baru yang sengaja diciptakan untuk film ini.

Trivia

Saya adalah orang yang jika menyukai sesuatu, akan terus mencari tahu tentang sebuah hal. Termasuk film NNS. Berikut beberapa hal menarik yang saya kumpulkan dari hasil wawancara sutradara dan pemain film NNS dan sumber lain:

1. NNS adalah film pertama Hahaha Corp dan Imajinari milik Ernest Prakasa
2. NNS adalah film kedua Bene Dion Rajagukguk setelah Ghost Writer
3. Ide cerita NSS muncul sejak tahun 2014
4. Bene Dion muncul sebagai cameo di film menjadi pedagang di pasar
5. Saat syuting, Boris sempat sakit anemia dan Gita hipotermia
6. Sebelum melakukan adegan puncak, Gita Bhebita berdoa secara khusus di tepi danau
7. Lolox aslinya berdarah Minang-Nias
8. Indra Jegel aslinya berdarah Melayu
9. Rona jingga keemasan saat adegan matahari terbenam muncul secara alami
10. Hari terakhir syuting dilakukan di bukit Holbung

Hormas!!!

Sititik ma sigompa, golang-golang pangarahutna
On ma na boi tarpatupa, sai godang ma pinasuna

“Inilah yang bisa kami sajikan, semoga banyak berkatnya.”


4 respons untuk ā€˜Ngeri-ngeri Sedap (2022)ā€™

  1. Wah, sama2 pecinta film batak nih. Ini film batak kedua yang bikin aku nangis setelah Toba Dream. Dan film ketiga setelah Kuch-kuch hotahai :D. Oiya aku nonton NNS ini 2X. Di Medan dan di jakata. Ternyata beda. Kalo di Medan, ketawanya ngakak semua. Di Jakarta ketawa aja tapi ngga pake ngakak, hehee

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s