Salatiga Walking Tour

Hari kemerdekaan Indonesia, 2021.

Baru beberapa menit saya duduk di bangku taman di trotoar di samping kantor polisi. Tepat di depan sebuah minimarket. Meski masih pagi, udara panas menyengat kulit. Orang-orang berlalu lalang. Saya agak cemas karena orang yang saya tunggu tak kunjung datang. Beberapa kali saya melirik gawai tak ada tanda jawaban balasan.

Ini kali pertama saya akan jalan bareng Warin Darsono, pegiat sejarah Salatiga sekaligus pendiri komunitas Salatiga Heritage. Saya pertama kali bersua saat acara diskusi di Kampoeng Percik beberapa bulan silam.

Sehari sebelumnya saya melihat status media sosial Warin. Foto makam dengan hiasan salib yang baru saja dipindahkan dari kawasan Kerkop Kutowinangun. Saya respon statusnya dan malah saya diajak jalan bareng bertepatan dengan peringatan kemerdekaan RI.

***

Seutas kalimat dari Warin terbaca di layar gawai. Saya diminta menuju ke Wisma Tamu GKJTU di seberang lapangan Pancasila. Motor saya pacu menuju wisma tamu. Rupanya Warin sudah bergerak menuju halaman samping Gedung Pakuwon. Tanah dimana berdiri gedung ini menjadi saksi terpecahnya Surakarta menjadi Kasunanan dan Mangkunegaran.

Warin tak sendiri, ia bersama mas Otun (juru pelihara Museum Prasasti Plumpungan), Kris (masyarakat transportasi Indonesia Salatiga), seorang perempuan dan seorang pemuda berbaju merah yang rupanya tamu dan pemandu dari Salatiga Walking Tour.

Kota Salatiga sudah sangat maju karena dirancang dan dibangun oleh Belanda. Listrik sudah dinikmati oleh (sebagian) masyarakat khususnya kaum Eropa dan asing yang menghuni Salatiga, tutur pemandu sambil menunjukkan gardu listrik bertampang art deco di samping GKJTU (Gereja Kristen Jawa Tengah Utara).

Kami beranjak ke halaman GKJTU yang merupakan bekas gereja zending. Selain mas Kris yang menenteng sepeda, kami semua berjalan kaki.

Jalan Sukowati dimana berdiri GKJTU dulunya dikenal sebagai Regents Laan (Gang Bupati) dimana Walikota Salatiga yang dijabat orang Belanda dan Kepatihan Salatiga yang dijabat pribumi berkantor.

Kantor Walikota (Gedung Papak) kami lewatkan begitu saja karena dipakai untuk upacara detik-detik proklamasi. Sebagai gantinya mas pemandu menunjukkan bukti majunya Salatiga tempo doeloe saat kami masuk ke Gang Kodya, sebuah gang kecil tak jauh dari kantor walikota. Sanitasi dibuat tertutup.

Kami melanjutkan menyusuri jalan Sukowati. Patok penghalang jalan yang dibuat untuk kenyamanan pejalan kaki dibuat tidak sesuai standar bahkan menggangu pejalan kaki. Sebuah patok rusak karena baut penguncinya lepas.

Hotel Slamet (kini wisma Slamet) menjadi saksi Salatiga menjadi kota transit dan kota wisata sejak dulu. Penginapan ini kini tak lagi menerima tamu dan terkunci.

Kelenteng Hok Tek Bio menjadi tengara kawasan Pecinan Salatiga. Jejak rasialisme sejak kolonial dengan memerintahkan bangsa Tionghoa untuk tinggal hanya di Regents Laan. 

Langkah kembali berhenti di persimpangan Regents Laan dan Solosche Weg (jalan Jend. Sudirman) menyaksikan bekas kantor Dekranasda Salatiga yang kini merana. Di seberangnya terdapat eks bioskop Rexa yang juga terbengkalai. Dulunya bernama Rex bioscoop.

Pemandu mengajak kami berbelok ke arah Tamansari yang menjadi pusat kota Salatiga. Warin mengeluhkan langkah kaki pemandu yang terlalu cepat sehingga membuat kami berjarak cukup jauh dengan pemandu. Tak banyak yang bisa dilihat dari jalan Sudirman ini selain keriuhan pasar dan pertokoan yang menjadi denyut perputaran uang di Salatiga.

Sebuah gereja kecil berdiri manis di antara gedung Ramayana dan BNI Salatiga: GPIB, gereja tertua di Salatiga. Saya iseng bertanya kepada pemandu lebih tua mana GPIB dengan gereja Santo Paulus, gereja terbesar di Salatiga? Tak ada jawaban yang memuaskan.

Perjalanan berhenti di bundaran Kaloka/Tamansari. Tepatnya di dekat patung Jenderal Sudirman saya berpamitan. Saya harus mengikuti upacara proklamasi secara daring di rumah sedangkan perjalanan SWT masih akan dilanjutkan menuju kolam renang Kalitaman. Terima kasih mas Warin sudah diajak jalan-jalan bareng Salatiga Walking Tours dan berkenalan dengan para pecinta sejarah Salatiga 🙂 Dirgahayu kemerdekaan RI ke-76!


Upacara virtual tahun ini saya mengenakan tenun adat Sumba – Nusa Tenggara Timur.

 
peserta tur menuju bundaran Tamansari


sudahkah kita merdeka? (lampu merah Kecandran)


Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s