Menjadi Seorang Katolik Itu?

  • Kemuliaan seseorang bukan tentang agama seseorang, melainkan tentang berkarya dengan talenta Tuhan dan bermanfaat bagi sesama.
  • Kita ini memang manusia biasa, tetapi kita sebenarnya mempunyai karya yang luar biasa
    (Alexander Arie: 2021).

Saya cukup beruntung dilahirkan di tengah lingkungan keluarga besar yang majemuk. Bapak dan ibu saya muslim, sementara sebagian anggota keluarga ada yang memeluk agama lain seperti Kristen Protestan, Katolik dan Buddha. Dari keluarga, saya belajar mengenal perbedaan.

Buah dari toleransi salah satunya bahwa pernikahan beda agama menjadi hal yang biasa di lingkungan keluarga kami. Meski berimbas ada salah satu pihak yang berpindah agama.

Pertama ada budhe, kakak dari ibu yang muslim menikah dengan seorang Buddhis. Meski awalnya pernikahan dilakukan secara Buddha, suami budhe berpindah agama menjadi muslim mengikuti agama budhe saya. Saudara ibu yang lain hijrah menjadi Katolik sesuai agama suaminya. Dari pihak ayah, ada saudara yang berpindah menjadi seorang Protestan karena istrinya seorang Protestan.

Tinggal di lingkungan dengan agama yang beragam membuat kami hafal dengan aturan dan kebiasaan masing-masing keluarga. Misal saya bisa bermain dengan sepupu setiap hari kecuali di hari Minggu karena sepupu saya harus pergi ke gereja lanjut sekolah Minggu. Ketika kami berkunjung ke rumah saudara yang Kristen, mereka paham makanan jenis apa yang harus mereka sajikan. Saat Lebaran datang, mereka datang untuk sungkeman ke rumah kami.

Waktu kecil, saya cukup dekat dengan sepupu. Saya yang doyan baca apa saja pernah melewatkan waktu senggang dengan membaca Al Kitab milik sepupu saya. Saya pernah menghadiri ibadah kebaktian di rumah sepupu sampai hafal lagunya. Orang tua saya tak melarang karena niat saya hanya bermain ke rumah sepupu tanpa ada maksud lain.

Saya dan Katolik

Saat SMA saya lumayan aktif di OSIS dan Pramuka. Saya naksir seorang kakak kelas yang sama-sama aktif di OSIS. Ia asli suku Karo dengan nama depan Margaretha dan Bernadetta. Jelas sekali kalau ia seorang penganut Katolik.

Orang tua saya sepertinya tahu anaknya sedang kasmaran. Meski tidak secara transparan, orang tua saya keberatan jika saya nanti berpacaran dengan perempuan berbeda suku atau agama. Batal deh rencana saya menggebet kakak kelas beda agama itu.

Garis tangan membawa saya bertemu dengan seseorang yang kini menjadi istri saya. Seorang muslim lulusan sebuah universitas Kristen di Salatiga.  

Toleransi beragama adalah hal lumrah di Salatiga. Di kota kecil dengan jumlah penduduk 150 ribu jiwa ini (2019, data BPS), sekitar 26% warga merupakan pemeluk Protestan dan Katholik. Jumlah gereja Protestan sebanyak 92 buah dan gereja Katholik sebanyak 2 buah. Cukup banyak untuk kota kecil ini.

Meski minoritas, gereja Katholik Santo Paulus Miki merupakan gereja terbesar di Salatiga. Lokasinya tepat di depan restoran KFC. Dulu sebelum covid saat misa diselenggarakan secara tatap muka, makan ayam goreng di saat misa berasa syahdu ditemani kidung rohani yang mengalun dari dalam gereja.


Gereja Katolik Santo Petrus Claver – Bukittinggi

Beberapa saat yang lalu saya melihat instagram mas @ariesadhar kalau ia merilis buku keduanya dengan judul Asyik dan Pelik Jadi Katolik. Buku pertamanya judulnya Oom Alfa. Saya lupa terbit tahun berapa dan apa ceritanya. Dari keterangan yang saya dapat di blognya (dan masih ada komentar saya di situ), buku pertamanya terbit tahun 2013 silam. Bercerita tentang persahabatan mas Arie dan skuter bututnya yang bernama Alfa. Dari buku itu saya mengikuti cerita hidup mas Arie dari blog lantas ke instagram.

Di buku pertama mas Arie memakai nama Ariesadhar. Awalnya saya pikir nama sadhar karena dia pernah berkuliah di kampus tersebut. Rupanya nama ini merupakan nama asli! Di buku kedua ini dia memakai nama depan yakni Alexander Arie. Nama ini tidaklah asing karena nama depan ayah saya adalah Iskandar yang sering dianggap versi Arab dari Alexander. Meski beberapa ahli menganggap dua nama ini berbeda, di Mesir Alexandria merupakan nama lain dari kota Iskandariah.

Desain Sampul

Peta Indonesia berwarna ungu muda, salib berwarna kehijauan, ilustrasi siklus kehidupan manusia menjadi gambar utama sampul buku ini. Saya sempat menanyakan kepada mas Arie mengapa salibnya berwarna hijau yang “Protestan banget” alih-alih warna ungu. Rohaniwan Katolik saat menyumpah pegawai juga jubahnya bernuansa ungu.

Bicara soal warna ungu membawa saya terbang saat pakde saya mempersiapkan acara pernikahan anaknya. Beliau berpesan setelah acara di gereja, keluarga memakai seragam berwarna ungu. Tak ada yang menyangka setelah menyampaikan pesan ini, beliau berpulang untuk selama-lamanya.

Menjadi Katolik Itu…

Buku ini terdiri dari 22 cerita dengan masing-masing cerita diberi judul. Cerita dimulai dari Bukittinggi, tempat dimana mas Arie dilahirkan, dibaptis dan menjalani kehidupan sebagai umat Katolik di kota yang mayoritas muslim hingga lulus SMP Xaverius Bukittinggi. Menarik untuk dikisahkan bahwa meski ia belajar di sekolah Katolik, karena jumlah murid Katolik sangat sedikit sehingga sebagian besar siswa justru beragama Islam. Tak cukup disitu kepala sekolah pernah dijabat seorang muslim.

Selepas SMP, ia meneruskan di SMA De Britto Yogyakarta (sekolahnya anaknya mbak Christina teman saya) dan berkuliah di kota yang sama. Usai menamatkan kuliah, ia bekerja di beberapa tempat mulai dari Palembang hingga Cikarang.

Berbagai kisah suka duka menjadi seorang Katolik hadir. Mulai dari suka cita menjadi putra altar di gereja Bukittinggi, kocaknya “misa keluarga” di Bukitinggi, kisah percintaan dan keluarga, pendekatan ke lawan jenis bermodus agama ke gereja yang berakhir nestapa, naik turunnya iman hingga perjalanan ke tempat ziarah Katolik. Seperti cerita perjalanan ke goa Maria Fatima Sawer Rahmat di Kuningan membawa ke sebuah kesimpulan akan sebuah mukjizat doa. 

Lewat buku ini mas Arie juga dengan gamblang menolak anggapan sebagian orang yang menuduh baksos sebagai sebagai kegiatan penyebaran agama. Menurutnya, jangankan mengurusi iman orang lain, mengurusi iman sendiri saja masih berjuang mati-matian!

Tulisan dan gaya bahasanya mengalir dan cukup menarik. Membuat vi+138 halaman buku ini terasa cepat habis. Kisah-kisah kehidupan mas Arie diceritakan cukup seru: kadang ngenes, bahagia, terkadang kocak silih berganti.

Salah satu cerita yang menegangkan saat harus dikejar waktu beribadah ke sebuah gereja di Cikarang dalam kondisi cuaca buruk. Cerita beribadah di gereja di Banda Aceh, kisah di balik nama anak mas Arie (Kristofer) juga menarik. 

Bahwa keimanan seseorang ibarat ombak. Kadang naik, kadang turun, persis yang dialami oleh banyak orang. Ada orang yang jahat, ada orang yang baik. Bukan agama yang mengajarkan kejahatan, tetapi orang tersebut yang jahat tak peduli ia menganut agama apa.

Tak hanya soal perjalanan rohani, di buku ini juga sedikit disinggung perbedaan antara Kristen Protestan dan Katholik Roma. Dimana dulu saya hanya tahu kulit-kulitnya saja seperti orang Katolik akan membuat tanda salib saat berdoa, nama orang Katolik diawali nama santo/santa (seperti nama gebetan saya di atas yang punya dua nama santa sekaligus). Ternyata perbedaan itu lebih kompleks daripada yang saya tahu sebelumnya. Misalnya kerumitan pernikahan ala Katolik.

Satu-satunya hal teknis yang membuat saya kurang nyaman adalah warna huruf yang berwarna abu-abu membuat mata cepat lelah. Selain itu ada beberapa istilah yang boleh jadi membuat bingung pembaca non Katolik, sehingga jika ada penjelasan lebih lanjut atau halaman daftar istilah tentu akan membantu. Kalau boleh menambah masukan untuk buku ini ya itu tadi, isinya kurang banyak sehingga cepat habis.

Asyik dan Pelik Jadi Katolik: 2021
penerbit: Buku Mojok, Juli 2021
vi+138 halaman
genre: komedi/nonfiksi


4 respons untuk ‘Menjadi Seorang Katolik Itu?

  1. wah ternyata keluarga mas sangat majemuk dan dinamis ya ….
    bukunya sangat menarik … sudah seharusnya kita hidup di negara bhinneka tunggal ika ini harus toleran dan saling menghargai

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s