Kaliwungu Tak Sekedar Semarang Coret

Saat saya menempuh pendidikan di SMA Negeri Tengaran belasan tahun silam, saya sadar bahwa sekolah saya ini sangat plural. Tak hanya soal agama, suku, tetapi juga asal daerah. Muridnya tak hanya berasal dari wilayah kecamatan Tengaran tetapi juga dari daerah sekitar seperti Salatiga, Ampel, Getasan, Pabelan, Susukan dan Kaliwungu.

Saya baru mendengar nama Kaliwungu saat SMA. Daerah ini rupanya merupakan pemekaran kecamatan Susukan pada tahun 2001. Kaliwungu merupakan daerah paling selatan Kab. Semarang. Meski masuk wilayah Kab. Semarang, akses terdekat menuju Kaliwungu adalah lewat pasar Ampel yang secara administrasi masuk wilayah Kab. Boyolali.

Saya teringat Bu Endang, nama lengkapnya Endang Setyaningsih, perawakannya tidak terlalu tinggi, agak gemuk, guru bahasa Indonesia kelas I di SMA Tengaran asalnya dari Papringan, Kaliwungu.

Kecuali Susukan, seluruh wilayah yang berbatasan dengan Kaliwungu merupakan kecamatan di wilayah Boyolali. Antara lain Ampel, Boyolali (kota), Mojosongo, Teras dan Sambi. 

Dalam hal ekonomi warga Kaliwungu lebih banyak bergantung ke Boyolali karena lebih dekat. Pun secara dialek bahasa orang Kaliwungu lebih dekat dengan dialek Solo alih-alih Semarangan. Angkudes (angkutan perdesaan) melayani rute Pasar Sunggingan dengan Kaliwungu tepatnya di desa Pager. 

Ketika budhe saya pindah rumah ke Simo, saya jadi lebih sering menyusuri daerah ini. Dari rumah orang tua di Ampel menuju Simo akses terdekat adalah lewat Kaliwungu. Selama ini Kaliwungu dalam bayangan saya adalah daerah dengan hamparan luas persawahan serta tugu bambu runcing di desa Papringan. Data statistik menulis ada 3 pasar desa di Kaliwungu, sementara sepengetahuan saya hanya ada pasar Canggal atau pasar desa Kaliwungu yang menjadi denyut ekonomi Kaliwungu. Pasar ini tak terlalu besar. Tak banyak yang saya tahu mengenai Kaliwungu hingga di tahun 2020 saya sering melewati Kaliwungu jika kantor mengadakan acara dinas ke Boyolali utara.

Dari Boyolali menuju Juwangi, rutenya adalah melewati desa Mudal kemudian Tlatar yang menjadi perbatasan antara Boyolali kota dengan Kaliwungu.


batas Kab. Semarang-Boyolali di Kaliwungu

Desa pertama di Kaliwungu adalah desa Pager. Desa yang tampak tenang ini rupanya pernah menjadi ibukota darurat kabupaten Semarang pada masa Agresi Militer Belanda II tahun 1947-1950. Sebuah tugu sederhana dibangun untuk memperingati peristiwa bersejarah itu. Sekilas tugu berwarna hitam tersebut tampak bersahaja, semoga tidak terlupakan oleh generasi muda Kaliwungu. 

1617464993679 
papan nama dan tugu agresi militer Belanda di desa Pager

1617464993675 1617464993670 

kantor desa Pager dan gapura menyerupai benteng

Kabarnya bekas kantor bupati Semarang menempati rumah seorang mantan kepala desa Kaliwungu. Semoga suatu saat bisa berkunjung ke rumah tersebut.

Danuwo adalah pesona Kaliwungu yang lain. Berupa sebuah waterboom di jalan lintas Boyolali-Kaliwungu. Tepatnya di desa Udan Wuh. Nama Danuwo boleh jadi diambil dari nama desa.

1619675629958

Suatu ketika kantor kami habis ada acara di panti asuhan desa Tlatar. Ibu kepala seksi mengajak kami mampir ke Danuwo untuk survei lokasi acara kantor. Agak menggelitik melihat display wisata ke Boyolali yang ditawarkan Danuwo di depan pintu masuk. Karena tempat wisata ini sebenarnya tutup selama pandemi, kami melenggang masuk tanpa dikenakan tiket.

Dari luar kelihatan kecil, Danuwo rupanya cukup luas. Ada kolam bermain air (pakecehan), kolam pemancingan dan wahana bebek air, kolam renang anak dan dewasa lengkap dengan seluncuran, restoran dan gazibo dan tak ketinggalan beberapa lokasi selfie. Cukup lengkap untuk ukuran kecamatan.

1619675630025 1619675629981
kolam selfie                           kolam bebek

IMG_0642
kolam renang (tutup)

1619675630008
gazibo

1619675629964
tempat selfie

Selain Danuwo, Kaliwungu punya Umbul Ngrancah, pemandian alam dengan debit air lebih kecil dari Danuwo. Lokasinya di tengah-tengah persawahan dan dimanfaatkan hanya untuk mandi anak-anak desa. Tidak dipungut biaya ke Umbul Ngrancah.


4 respons untuk ‘Kaliwungu Tak Sekedar Semarang Coret

  1. Wehhh
    Banyak juga daya tariknya

    Kawan rumahku dong sering bgt disebut Padang coret
    Tinggal 1-2 km lagi menuju perbatasan hahahhaa
    Gak ada daya tariknya selain pasar rakyat gedeee

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s