Nyekar

Ada satu kebiasaan yang rutin kami lakukan setiap lebaran tiba, tetapi tidak kami laksanakan di lebaran tahun 2021 ini: nyekar. Nyekar adalah berziarah ke makam leluhur yang biasa kami laksanakan setiap hari-hari tertentu, misalnya setiap Kamis sore (malam Jumat), sebelum puasa Ramadhan atau saat pagi hari Lebaran setelah melaksanakan salat Id.

Nyekar berakar dari kata sekar yang bermakna bunga dalam bahasa Jawa. Bisa dimaklumi karena setiap hendak berziarah orang Jawa biasanya akan membawa bunga segar untuk ditaburkan di atas makam.

Tahun lalu saya pun absen melaksanakan nyekar karena terpaksa berlebaran di Muara Bungo sehubungan dengan pembatasan bepergian akibat pandemi yang sedang parah-parahnya.

Habis Lebaran usai muncul ajakan dari ibu mertua untuk berziarah ke makam eyang dari istri saya di Tegal. Agak was-was karena selama pandemi habis pulang kampung saya belum berani bepergian jauh ke luar kota, termasuk ke Tegal. Budhe dari istri saya tinggal di Jatibarang, Brebes. Biasanya kami pergi ke Tegal naik kereta api. Naik dari stasiun Semarang, turun di stasiun Slawi atau Brebes kemudian naik angkot ke rumah budhe.

Kondisi pandemi membuat kami harus memikirkan bagaimana caranya bisa bepergian dengan aman. Kali ini kami akan naik kendaraan pribadi, tidak kemana-kemana selain berziarah serta tidak berlama-lama di perjalanan.

Sore hari usai pulang kantor saya sudah bersiap-siap hendak berangkat. Sedikit masalah timbul saat aki mobil adik saya bermasalah. Ia sebagai driver satu-satunya sekaligus mekanik harus memperbaiki dulu aki mobil hingga membuat istri saya agak senewen karena sudah agak malam

Sebelum berangkat kami menjemput pakde dulu di Bancakan, jemput mertua di Sraten baru berangkat ke Tegal. Untuk mempersingkat waktu kami lewat jalan tol Solo-Semarang via pintu tol Banyumanik disambung tol Semarang-Tegal. Tidak terdapat kendala di perjalanan, kecuali beberapa ruas tol dari Semarang arah ke Tegal yang sedikit gelap. Hanya mengandalkan penerangan dari kendaraan. Tak banyak yang bisa dilihat saat naik tol di waktu malam. Highlite dari tol Semarang-Tegal adalah jembatan konstruksi baja di Kalikuto yang berbentuk busur berwarna merah. Cantik ditimpa lampu kemerahan di waktu malam.

Sudah tengah malam kami keluar dari pintu tol Tegal. Pintu tol Tegal berada di Adiwerna, kota kecil di antara Kota Tegal dan Slawi, pusat pemerintahan Kab. Tegal.

Melewati alun-alun Slawi dengan ikon tugu Teh Poci. Minum teh poci sudah lama menjadi tradisi turun temurun di Tegal.

Tiba di rumah budhe, kami dijamu dengan gorengan tahu aci yang sudah dingin. Tahu aci adalah cemilan yang banyak dijumpai di Tegal dan termasuk Jatibarang.

Pagi hari di Jatibarang berarti makan nasi ponggol, semacam nasi uduk dengan sambal yang pedas dan telur bebek asin khas Brebes. Di sela-sela makan pagi, sedikit melenceng dari tujuan semula, terbersit keinginan jalan-jalan ke pabrik gula Jatibarang dan monumen lokomotif atau remise di Jatibarang atau eks pabrik gula Banjaratma yang kini menjadi rest area tol Brebes. Waktu yang terbatas dan kesadaran bahwa jalan-jalan kali ini bukan “jalan-jalan” membuat saya membatalkan rencana saya.

Menjelang siang kami berkunjung ke rumah saudara ibu tak jauh dari rumah budhe. Siang hari baru berziarah ke makam eyang di kawasasan Pagongan, tidak jauh dari rumah sakit tentara. Eyang adalah sebutan untuk nenek tiri dari istri saya.

Makamnya tidak jauh dari jalur kereta Tegal-Purwokerto. Tepat di samping Masjid Al Kausar yang berlokasi di Bakulan, Tegalwangi, Talang, Kab. Tegal. Makam eyang kakung atau kakek sendiri berada di Cungkup, di sebelah kampus UKSW Salatiga.

1622464148949
makam eyang di Tegal

Usai dari Tegal kami beranjak ke Ulujami, kota kecil di perbatasan Pemalang dan Pekalongan. Kali ini ke makam ibu dari ibu mertua atau nenek istri saya. Satu hal yang tidak saya ketahui sebelumnya, kakek dari istri saya dulunya adalah seorang pegawai Pegadaian. Nenek dimakamkan di Ulujami karena ia meninggal saat mendampingi kakek yang saat itu bertugas di kantor Pegadaian Ulujami. Makam nenek berada tak jauh dari Masjid Jami’ Baiturrachman yang berlokasi di belakang pasar Ulujami.

1622464148926
makam ibunda ibu mertua di Ulujami 

Seluruh pusara di makam ini hanya ditandai dengan nisan kecil tanpa kijing. Makam nenek menjadi satu-satunya makam yang diberi kijing karena saat itu belum ada aturan larangan pembuatan kijing.


Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s