Ketiban Sampur

30 April 2021, tulisan terakhir saya di blog. Artinya dua bulan lebih saya menghilang dari dunia blog. Jangankan menulis postingan, blogwalking saja rasanya hampir tak ada kesempatan. Alasan pertama -klasik- karena kesibukan pekerjaan di kantor dan kedua saya dinyatakan POSITIF Covid-19. Hikz. 

Seperti janji saya di Instagram, malam ini akan ada satu tulisan baru di blog. 

Melihat sekilas ke belakang, bulan Maret dan April adalah bulan penuh kesibukan di kantor. Meski demikian saya masih sempat menuangkan beberapa cerita di blog. Bulan Mei seksi di kantor saya bubar karena ada aturan restrukturisasi dari kantor pusat. Saya dipindahkan ke seksi lain tetapi masih satu kantor.

Di seksi baru saya ditugaskan di bagian front office alias pelayanan langsung ke masyarakat. Belasan tahun bekerja baru kali ini saya bekerja sebagai petugas loket di depan. Rasanya… menyenangkan belajar hal baru, setiap hari bertemu orang baru. Nggak enaknya, bekerja di garda terdepan membuat ritme pekerjaan terkadang membuat saya hanya memiliki sedikit waktu beristirahat jika pengunjung sedang banyak. Tapi, kalau sedang sepi ya bisa sedikit bersantai. Walau sesantai-santainya petugas front office tidak akan bisa dibandingkan dengan petugas back office.

Sekitar dua minggu bekerja di depan saya dipindahkan lagi ke back office. Dan cerita saya terpapar covid dimulai sejak saya pindah seksi.

POSITIF COVID-19

Jika boleh mengibaratkan, penyakit ini bukan semakin menjauh justru semakin mendekat ke lingkungan kita. Ia yang awalnya hanya muncul di berita tv tiba-tiba menjalar di lingkungan sekitar, menjangkiti teman-teman di kantor, lalu lama-lama hadir di lingkungan keluarga.

Di awal tahun saya sangat terkejut mendengar kabar tante saya tiba-tiba masuk RS karena Covid dan tak lama kemudian berpulang dengan cerita tentang bronkitis yang kambuh dan memperparah keadaan sehingga nyawanya tidak tertolong.

Pindah kantor ke Boyolali saya melihat sendiri teman-teman sekantor satu persatu dinyatakan positif Covid sehingga yang kontak erat wajib swab antigen untuk mengecek apakah tertular atau tidak. Hingga akhirnya akhir Juni rekan satu seksi dinyatakan positif. Masuk dalam list pegawai kontak erat, tanggal 2 Juli saya dan beberapa teman kantor mengikuti swab antigen di rumah sakit dekat kantor. Saya yakin hasil tes saya akan negatif karena badan saya sehat, tidak ada gejala apapun. Habis tes saya pulang ke rumah orang tua lanjut ke rumah mertua seolah tidak ada apa-apa.

Saya sedang di angkot hendak turun menuju rumah ketika diberitahu oleh kantor kalau hasil tes antigen saya positif. Rasanya bingung karena saya merasa baik-baik saja. Kantor menyuruh saya melaksanakan isolasi mandiri (isoman). Saya bingung mau isoman dimana. Di rumah mertua ada anak-anak yang masih kecil dan bayi. Di rumah orang tua tambah tidak mungkin karena orang tua saya sudah berusia lanjut. Ada beberapa opsi lain seperti isoman di rumah sakit, rumah nenek istri saya yang sudah lama kosong atau di kosan teman yang tidak dihuni. Di tengah kebingungan, orang tua menyuruh saya isoman di rumah. Saya kembali naik angkot dan menuju rumah orang tua. Kontak dengan orang tua dan adik saya batasi meskipun tidak bisa saya hindari sama sekali. 

Keesokan harinya puskesmas mengirimi saya vitamin dan obat herbal untuk dikonsumsi seluruh anggota keluarga selama 5 hari. Saya wajib isoman 10 hari. Jika dalam 10 hari ke depan tidak ada gejala, hari ke-11 sudah bisa menjalani kehidupan normal. Obat hanya disediakan untuk 5 hari karena harus berbagi dengan pasien lain yang juga sedang menjalankan isoman. Sebelum kasus naik drastis, biasanya obat akan diberikan secara penuh sesuai jumlah hari isoman.

Selama menjalani isoman, kondisi kesehatan saya dipantau oleh seorang bidan desa yang bertugas di puskesmas. Selain mendistribusikan obat, bidan bertugas mengecek kondisi kesehatan dan membantu saya jika ada keluhan kesehatan apapun.

Rabu 7 Juli orang tua dan adik saya swab antigen di puskesmas. Hasilnya, mereka bertiga positif covid. Rasanya… sedih dan berdosa. Adik dan ibu merasakan indera penciumannya menghilang dan bapak merasakan indera perasanya bermasalah. Makanan rasanya pahit semua katanya. Alhamdulillah saya masih baik-baik saja dan belum ada gejala covid baik flu, demam atau batuk.

Karena jatah obat dari puskesmas sudah habis saya mengkonsumsi vitamin C 1000 mg, obat penambah imun tubuh dan rebusan jahe merah. Selama isoman saya jadi rutin berjemur tiap hari untuk meningkatkan vitamin D dalam tubuh. 

Hari ke-11 isoman saya dikirimi surat dari puskesmas yang menyatakan saya selesai isoman dan dapat beraktivitas kembali. Info dari bidan, sehubungan dengan lonjakan kasus covid, pasien OTG (orang tanpa gejala tidak perlu swab PCR untuk kembali bekerja).

Untuk meyakinkan diri bahwa saya sudah sehat, saya berencana tes antigen esok hari di puskesmas. Usai mendaftar dan membayar Rp 155.000, – saya menunggu giliran. Dua kali hidung kiri kanan dicolok dengan alat tes antigen. Hasilnya saya masih positif meskipun saya tidak ada gejala apapun.

Malam hari saya merasakan hidung tersumbat dan bau-bauan yang biasa muncul di hidung perlahan menghilang. Waduh, saya anosmia alias kehilangan daya penciuman. Kabar baiknya, penciuman ibu dan adek mulai kembali. Saya meminta bidan mengirimi saya obat flu dan besoknya obat langsung dikirim ke rumah.

Momen Idul Adha terpaksa saya nikmati dengan berdiam diri di kamar. Hari-hari berikutnya saya bisa merasakan aroma minyak kayu putih meski harus dioles di dalam rongga hidung. Aroma masakan belum bisa tercium.

AKHIRNYA …. NEGATIF!

Sabtu 24 Juli, hari ke-22 isoman. Saya bangun agak kesiangan. Jadwal swab antigen di Puskesmas yakni hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Saya ambil tes di hari Sabtu agar memiliki jeda cukup lama dengan tes terakhir yakni hari ke-11 isoman yang mana hasilnya masih positif. Tak terlalu berharap hasilnya akan negatif mengingat seseorang yang divonis covid bisa saja hasil swabnya masih positif jika di tubuhnya masih ada sisa virus meskipun telah sembuh.

Saat menunggu antrian swab tak sengaja bertemu dengan Listyawan, teman lama semasa SMA yang kini bekerja di kantor camat. Ia mengikuti swab karena kontak erat dengan rekan sekantornya yang dinyatakan positif. Listyawan yang sudah mengikuti tes duluan hasilnya negatif. Saya kemudian dipanggil ke dalam bilik swab. Hidung saya kanan kiri dicolok alat tes. Detik-detik mendebarkan saya lalui menunggu hasil tes.

Sepuluh menit berlalu saya dipanggil lagi. Saya melihat satu garis di alat tes antigen. Alhamdulillah saya sudah negatif. Daya penciuman mulai meningkat meski belum balik sepenuhnya. Rasanya… tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Dunia yang sempat menghilang rasanya kembali lagi.

***

Virus corona masih ada, apalagi kini ada varian delta yang lebih menular. Tetap jaga kesehatan, jangan lelah, jangan lengah. Ikuti vaksinasi sebagai perlindungan ekstra di masa pandemi. Vaksin berguna untuk mencegah kita terhindar dari gejala berat seandainya (amit-amit deh) tertular covid.

Catatan: ketiban sampur adalah istilah dalam bahasa Jawa yang berarti mengalami sebuah peristiwa dengan tiba-tiba dan tak bisa dihindari. Sampur sendiri adalah selendang sebagai properti dalam tarian Jawa. Ungkapan ini berasal dari kegiatan tari tayub, dimana saat pementasan penari akan tiba-tiba mengalungkan selendang kepada penonton di sekitarnya sebagai ajakan untuk ikut menari.


10 respons untuk ‘Ketiban Sampur

  1. alhamdulillah mas kalo sudah sembuh.. semoga sehat selalu mas..

    temen-temen deket saya di grup WA juga satu per satu positif.. tetangga di dusun juga satu per satu mulai kena.. bahkan ada beberapa yang sampai meninggal..

    semoga wabah Covid lekas berlalu..

  2. allhamdulillan mas sudah sehat kembali,
    pandemi memang sedang “menggila” … baca grup2 WA membuat kita sedih .. isinya banyak berita duka.
    mudah2-an kita semua selalu dilindungi dan diberikan kesehatan … aamiin

  3. Setelah sepuluh hari itu sebenarnya gpp mas kalo ga tes lagi. Kemungkinan positif masih ada, tp yg penting sudah tidak menular. Sembuh atau belumnya dari covid patokannya bukan positif atau negatifnya, tapi gejalanya.
    Juni-Juli ini memang gelombangnya merata sampe ke keluarga. Sehat selalu mas.

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s