Kisah Sari Petojo

1619271403824

Saya berdiri di tepi pagar balkon hotel. Melihat kota Solo dari ketinggian lantai lima. Lampu-lampu rumah dan gedung berkilauan. Beberapa hotel di sekitar tampak menjulang di tengah kegelapan malam. Stasiun Purwosari seakan bersembunyi di balik kemegahan jalan layang Purwosari yang baru saja diresmikan sejak dibangun tahun lalu. Lampu LED di badan jalan layang berubah-ubah warna setiap beberapa detik. Pembangunan infrastruktur merubah Solo yang dulu sebuah kota kecil perlahan merangkak tak mau kalah dengan kota metropolitan.

Acara buka bersama yang diadakan kantor baru saja usai. Bisa dibilang ini acara buka bersama terakhir seksi saya karena tahun ini seksi kami berubah nama dengan personil dan tupoksi yang baru. Habis jam pulang kantor, kami langsung meluncur ke Solo.

Sedari awal rencana buka bersama di hotel ini, saya tak menaruh harapan dengan jamuan yang lezat dan komunikasi yang sangat akhrab. Saya yang masih baru di kantor ini merasa belum mengenal semua pegawai dengan cukup baik, plus acara yang digelar di dalam ruangan dengan kerumunan agak membuat was-was di tengah kondisi pandemi ini.

Kisah Sari Petojoย 

Saya lebih tertarik dengan masa lalu hotel ini yang merupakan pabrik es batu. Sebuah sumber (yang turut diamini BPCB) mengatakan pabrik ini dibangun tahun 1888. Meski sumber lain mengatakan pabrik es ini dibangun awal abad 20 secara listrik baru masuk Solo tahun 1902 oleh Solosche Electriciteit Maatschappij (SEM).

SEM, perusahaan yang berkantor di Purwosari ini berupaya melebarkan usaha dengan membangun pabrik es batu dengan nama NV Petodjo Ijs di Purwosari, tepat di depan stasiun Purwosari saat ini. Nama Petojo kemungkinan berasal dari nama pabrik serupa di kawasan Petojo, Batavia yang dibangun tahun 1870. Banyaknya warga asing terutama kulit putih di kawasan Vorstenlanden (Solo dan Jogja) membuat kebutuhan akan es batu meningkat.

Setelah masa kemerdekaan banyak perusahaan Belanda dinasionalisasi tak terkecuali Petodjo Ijs di Purwosari. Namanya berubah menjadi Sari Petojo. Sari Petojo sempat terbakar pada tahun 1953 kemudian dibangun lagi dan baru selesai pada tahun 1969. Beberapa renovasi pada tahun 1970-an membuat bangunan Sari Petojo sudah berbeda dengan bangunan aslinya.

Perseteruan Walikota dan Gubernur

Nama Sari Petojo muncul ke permukaan tatkala muncul wacana pembongkaran gedung Sari Petojo menjadi mal oleh gubernur Jawa Tengah pada tahun 2011. Rencana ini ditentang walikota Solo saat itu yang kini menjadi presiden. Sang walikota berpendapat Sari Petojo adalah bangunan cagar budaya yang patut dilestarikan dan pembangunan mal tidak sesuai perda kota Solo.

BP3 Klaten (sekarang BPCB Jawa Tengah) yang menerjunkan tim ke Solo membuat kesimpulan bahwa Sari Petojo bukanlah cagar budaya, kecuali bangunan rumah dinas pegawai pabrik di sampingnya. Alhasil dari total 13.400 meter persegi dibongkar seluas 1300 meter persegi dan 400 meter persegi sisanya kini menjadi angkringan Omah Londo. Sejak 2015, bekas pabrik es batu tersebut menjadi sebuah hotel berbintang.

Sedari awal masuk area hotel, saya berharap melihat galeri Sari Petojo tempo doeloe. Melewati lobi, masuk lift, hingga area restoran tak tampak aura masa lalu itu. Aneka masakan yang saya makan tak terlalu membuat impresi di lidah. Bisa jadi karena lidah Sumatera saya merasa hambar, ataukah saya merasa was-was berkerumun di tengah keramaian. Yang jelas saya terngiang keluarga di rumah dan ingin segera pulang.

Referensi: Solopos


13 respons untuk โ€˜Kisah Sari Petojoโ€™

  1. Jadi kangen main ke Solo.
    Terakhir ke Solo jaman sma.
    Kebetulan banyak keluarga besar disana.
    Btw aku malah baru tahu soal kasus ini.
    Duh kemana aja saya hehehe.

  2. Wah, ini tempat penuh kenangan. Soalnya dulu orangtua jualan es batu, dikirim dari pabrik es batu saripetojo. Beberapa kali diajak ke sini juga. Serasa nostalgia baca kisahnya.

  3. sayang dong kalau aura tempo doeloe Sari Petojo tidak terasa ketika memasuki hotel ini, mungkin ada yang kurang dalam menata dan mendekorasi ruangannya.

  4. lahh aku kok ga denger berita ini ya
    aku penasaran sama nama hotelnya hahahaha
    ga jadi mall tapi jadi hotel ya, ehmmm

  5. Ini yang kasus “walikota bodoh” itu ya?
    Sepertinya saya tahu hotel apa yang dibahas di tulisan ini, karena terakhir saya ke Solo juga menginap di hotel yang sama, bersama anak dan istri. Mall hasil konflik itu nampaknya tidak sukses ya karena saya perhatikan mallnya sepi.

    1. Betul sekali mas Agung hehe…
      Waktu saya kesana mallnya emang agak sepi, kalah sama mall sebelah ditambah pas di bawah flyover agak kurang menguntungkan buat mall

  6. wah iya kisah perseteruan ini dulu ram banget’
    tapi sayang kalau bekas pabrik ikonik itu jadi Mall
    solo udH lumayan banyak mall gede haha
    jadi kangen solo saya apalagi taman jurug dan kereta batara kresna

    1. Orang luar solo mulai mengenal Jokowi sejak kasus petojo ini memang mas ๐Ÿ™‚ Nggak jadi mall sih bekas pabriknya, tapi jadi hotel dan pertokoan

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s