Mblusuk di Musuk

Hari Rabu kemaren saya mendapat tugas ke Musuk, salah satu kecamatan di Boyolali. Ingatan kembali ke masa silam. Tatkala saya menyaksikan sebuah ftv di SCTV. Judulnya Sandal Butut yang merupakan salah satu judul ftv yang dikemas dalam rangkaian Sinema Wajah Indonesia, sebuah kumpulan ftv dalam rangka ulang tahun SCTV di tahun 2011.

Diperankan oleh Ringgo Agus Rahman yang menjadi seorang pemuda miskin bernama Muslim, tinggal di desa kecil di pelosok Boyolali. (Entah kenapa Boyolali dan muslim diceritakan sebagai orang miskin di sinetron tersebut). Alur lengkap cerita Sandal Butut tersebut bisa dibaca di sini.

Selain cerita yang menarik, faktor pemilihan lokasi membuat ftv ini terpatri dalam pikiran saya. Patung sapi di desa tersebut yang muncul beberapa kali menguatkan bahwa lokasi pengambilan gambar memang di Boyolali.

Saat melewati patung sapi di Cepogo beberapa kali, sempat terfikir bahwa ftv tersebut berlokasi di Cepogo. Namun, melihat patung pemerah sapi di Musuk kemarin saya berfikir ulang kalau patung itu sepertinya juga ada di ftv Sandal Butut. Apa jangan-jangan memang lokasi syutingnya di Musuk? Duh ingatan saya tiba-tiba kacau.

Dari kota Boyolali, Musuk berada di sebelah selatan. Sebuah simpang empat di dekat RSUD Boyolali diberi nama perempatan Musuk. Kondektur bus antar kota dari arah Solo dipastikan akan selalu berteriak “Musuk, Musuk” tiap kali melewati persimpangan ini. Dari kota Boyolali ke Musuk terdapat transportasi umum berupa angkot berwarna hijau. Angkot jurusan Boyolali-Musuk jauh lebih eksis ketimbang angkot dengan rute dalam kota Boyolali yang kini keberadaannya hampir punah.

Tak terlalu jelas apa arti dan asal usul nama “Musuk” ini. Musuk di selatan Boyolali terdengar hampir sama dengan Kemusu yang berlokasi di utara. Bedanya Musuk yang berada di kaki Merapi berudara dingin, Kemusu di tepi Waduk Kedung Ombo berhawa panas. Musuk sejak 2018 dimekarkan menjadi 2 kecamatan melahirkan kecamatan Tamansari. Kabarnya dari Musuk terdapat akses menuju Yogyakarta via Klaten.

Kesan pertama saya tentang Musuk adalah daerah ini adem, asri. Tidak terlalu ramai. Yang agak mengagetkan, hampir sama seperti beberapa kecamatan lain, ditemukan sepasang patung kuda peninggalan bupati sebelumnya. Selain di Musuk, patung kuda bisa ditemukan di Selo, Klego, Juwangi dan pusat kota Boyolali. Patung kuda di Musuk berada di simpang tiga tidak terlalu jauh dari kantor camat Musuk. Patung kuda berwarna putih ini dinamai “Gagak Rimang“. Ingin memotret kuda sayang mobil berjalan terlalu cepat. Waktu perjalanan  pulang rupanya kami tidak bisa balik kesini karena jalannya satu arah.

Tidak jauh dari kantor camat kami bertemu ikon Musuk lainnya yaitu patung petani pemerah sapi membawa jeriken susu sapi perah. Berada di antara SDN 1 Musuk dan Indomaret.

Hampir seluruh kantor desa memiliki bangunan megah berupa pendopo beratap joglo berukuran besar yang berfungsi sebagai tempat pertemuan. Desa Ringin Larik yang kami lalui bahkan memiliki GOR berukuran fantastis untuk sebuah desa. 

Tujuan utama kami adalah menuju pasar Drajidan. Sebuah pasar di desa Seruni. Sebuah patung sapi dengan cat yang mulai pudar berdiri tegak di bundaran dekat puskesmas. Pasar Drajidan agak sepi. Kabarnya hanya ramai di hari Jawa Kliwon dan Pahing.

Ah, saya ingin lebih jauh mengusut tentang Musuk dan benda-benda bersejarah di tempat ini di lain kesempatan.


Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s