Pengalaman Berburu Rumah Subsidi

Sejak pindah kantor ke Boyolali akhir tahun lalu, satu hal yang kepikiran adalah memiliki rumah sendiri. Sejak menikah tahun 2011, kami tinggal di rumah dinas atau rumah kontrakan dimana saya bertugas. Sempat terlintas untuk membeli rumah di Sungai Penuh, tetapi melihat ada peluang pindah ke kampung halaman rencana itu urung terjadi. 

Setelah saya pindah, ada beberapa opsi yang mampir di kepala dimana keluarga kecil kami akan tinggal. Tinggal di rumah orang tua, nebeng di rumah mertua atau membeli rumah sendiri.

Rumah orang tua saya di pinggiran Boyolali. Setengah jam kalau ke kantor. Sedangkan rumah mertua di pinggiran Salatiga. Perlu waktu satu jam menuju kantor. Atas pertimbangan itu kami memutuskan untuk mencari rumah di Salatiga atau Boyolali.

Berhubung lagi pandemi, info perumahan kami cari di grup Facebook jual beli rumah dan di maps. Ada beberapa perumahan di sekitar Salatiga yang kami incar, begitu mendapat nomor wa marketingnya langsung saya kontak. Begitu tahu harganya bikin nyali ciut karena rumah tipe 60/30 paling murah 200 jutaan. Rumah yang lebih besar sedikit mulai dari 250 hingga 400 juta.

Sudah tahu harganya lumayan, istri saya tetap ngebet mau survei sebuah townhouse dekat rumah. Berangkatlah kami ke rumah contoh perumahan tersebut. Interior, lingkungan dan fasilitas keamanannya oke. Harganya juga oke. Paling murah 300 juta! Iseng lihat-lihat perumahan lain dengan definisi sangat layak menurut kami harganya bikin nangis semalaman: setengah miliar alias 500 juta! Duh, harga rumah zaman sekarang tidak terpengaruh pandemi. Tiap tahun naiknya gila-gilaan. Tanah di bumi terbatas, sementara jumlah manusia semakin bertambah. Hitung saja ada berapa juta bayi lahir di dunia ketimbang orang yang meninggal.

Sebenarnya sedikit menyesal kenapa tidak beli rumah dari dulu-dulu. Namun, penyesalan tidak perlu diratapi, yang perlu adalah disesali wkwkw.

Agak “kapok” dengan perumahan reguler, atas info dari teman, saya tertarik untuk mencari informasi tentang rumah subsidi. Apa itu rumah subsidi?

Rumah subsidi adalah tipe rumah yang disediakan pemerintah (dalam hal ini Kementerian PUPR) bekerja sama dengan pengembang (developer) yang sudah memiliki MoU tentang pengadaan rumah bersubsidi. Disebut rumah subsidi karena rumah ini dibebaskan dari PPN, mendapat subsidi uang muka, cicilan KPR perbulan dan tarif bunganya lebih rendah dibanding rumah reguler (nonsubsidi). Simpelnya, rumah subsidi adalah rumah murah yang dibangun pemerintah untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

Batasan penghasilan rendah adalah gaji pokok maksimal 4 juta setahun. Harga rumah subsidi di Jawa Tengah (2020) di kisaran 150 jutaan. Lebih lengkap dan jelas soal serba serbi rumah subsidi bisa dibaca di sini.

Konsekuensi dari rumah berlabel murah adalah luas tanah dan bangunan terbatas (60/30 meter), material tidak sebagus perumahan reguler (sesuai ungkapan “ada harga ada mutu”), kamarnya hanya ada 2 dan kecil-kecil dan lokasinya sering tidak strategis (cukup jauh dari pusat kota). Pernah dengar anekdot RSSSS (rumah sangat sederhana sekali sampai-sampai susah segalanya)? Nah begitulah kira-kira deskripsi rumah subsidi meski sekarang sebutan RSS (rumah sangat sederhana) diubah menjadi Rumah Sederhana Sehat.

Pencarian di Google Maps dengan kata masukan “perumahan” dan “perumahan subsidi” membawa saya pada situs bernama Sikumbang, bukan nama hewan apalagi penyanyi asal Minang haha. Sikumbang adalah situs yang disediakan kementerian PU PR untuk mencari rumah subsidi di seluruh Indonesia. Tinggal memasukkan nama provinsi, kabupaten/kota, kecamatan hasilnya akan muncul daftar perumahan sesuai yang diinginkan.

IIS

Tiap perumahan bisa dicek alamat, tipe, siteplan dan denah isi rumah. Bahkan unit yang terjual dan unit yang masih tersedia pun  bisa dilihat.

Saat memasukkan kota Salatiga, muncul 3 nama perumahan: sebut saja perumahan A, B dan C. Informasi dari teman yang rumahnya dekat perumahan “A” dan dari marketing yang nomor wa-nya ada di Google, perumahan tersebut sudah habis terjual. Pengembang yang sama sedang menjual perumahan lain. Sayang lokasinya cukup jauh dari pusat kota yakni di Nyamat, Kab. Semarang. Perumahan “B” masih di Salatiga, tetapi juga cukup jauh dan sudah hampir masuk Kab. Semarang. Tante saya pernah memiliki unit di tempat tersebut lantas dijual karena jalan masuk ke perumahan melewati pemakaman. Istri saya langsung minta skip. Tinggal tersisa perumahan “C”. Info di internet minim. Di maps bahkan lokasi perumahan masih semak dan rumput liar.

Saya kemudian mencoba mencari lokasi perumahan di Tuntang, Kab. Semarang. Muncul beberapa nama perumahan. Salah satunya perumahan “D” yang baru saya tahu berlokasi tidak terlalu jauh dari rumah mertua.

Setelah mendapat brosur dan bertanya-tanya lewat wa, saya akan survei ke perumahan “C” dan “D”. Perumahan “C” sebenarnya lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota. Sayangnya meski sudah siap huni, tinggal 1 unit yang masih belum terjual, agak kurang terawat dan waktu saya survei ternyata lokasinya persis di bibir jurang. Saya langsung skip. Harapan kami tinggal perumahan “D”.

Perumahan ini masih berupa tanah kosong yang sudah dikavling. Kami tidak bisa masuk ke rumah contohnya karena baru dibangun dan sedang finishing. Tanah dimana calon perumahan berada lebih rendah dari jalan. Saya takut kalau hujan lebat bisa kebanjiran.

Agak putus harapan mencari rumah di sekitar Salatiga, sempat terbersit keinginan untuk mencari rumah di selatan Salatiga masuk wilayah Kab. Semarang. Lalu saya berfikir jika membeli rumah di tengah-tengah antara rumah mertua dan rumah orang tua sepertinya bukan solusi yang baik. Mending beli rumah di dekat tempat kerja sekalian untuk menghemat ongkos transportasi.

Kembali saya membuka Sikumbang dan mencari perumahan bersubsidi di kecamatan Boyolali dan Mojosongo. Ada beberapa perumahan di sekitar kantor saya. Atas info seorang teman kantor, ada sebuah perumahan dekat kantor yang cukup rekomen. Teman saya (suami istri) bahkan mengambil 2 unit sekaligus di kompleks tersebut. Sebut saja perumahan “E”.

Lokasi perumahan ini hanya beberapa kilometer dari kantor. Akses keluar masuk hanya 1 pintu mirip townhouse. Tanya ini itu, saya semakin yakin membeli rumah di sini. Namun, ada satu hal yang membuat saya mundur: sertifikatnya masih HBG (hak guna bangunan) alias bukan hak milik atau SHM. Kata teman saya yang sudah punya rumah subsidi, sebisa mungkin membeli rumah subsidi dengan sertifikat SHM biar nggak repot nantinya jika kredit sudah selesai. Katanya, kalau rumah subsidi status SGB kalau diubah jadi SHM agak ribet.

Kata orang, mencari rumah itu ibarat mencari jodoh karena rumah akan dihuni hingga akhir hayat. Sama seperti jodoh. Tidak perlu terburu-buru. Dari berbagai momen kegagalan dalam mencari rumah idaman ini sepertinya membuat saya akan istirahat sejenak dalam berburu rumah subsidi. Istirahat, bukan berhenti.

(bersambung)


2 respons untuk ‘Pengalaman Berburu Rumah Subsidi

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s