Obrolan Cagar Budaya Salatiga Bersama Warin Darsono

Harum dupa bermain-main di rongga hidung. Musik gamelan yang terdengar rancak dari pelantang. Tiba-tiba, dhuar!!! Bunyi ledakan bergema di seluruh pendopo. Oh, bukan bunyi bom, bahan peledak atau sejenisnya.

Saya yang sedang mengamati lukisan bertema Salatiga pada pameran dan diskusi Ngobrolke Kutha Salatiga di Kampoeng Percik seketika terperanjat. Pertunjukan barongan rupanya sudah dimulai. Bunyi dhuar tersebut berasal dari cambuk yang dipukulkan ke atas.

1615107172812 1615107172832
pameran lukisan dan pertunjukan barongan

Kata Bagus, teman sekolah saya yang juga seorang penggiat barongan, kesenian ini sejatinya berasal dari Kediri, Jawa Timur. Namun, beberapa tahun ini cukup mendapat hati di masyarakat Salatiga. Masyarakat awam menganggap barongan adalah reog, padahal barongan adalah sub cabang dari reog dimana pemain barongan semuanya memakai topeng raksasa yang disebut barongan.

Masih kata Bagus yang juga hadir saat acara, ciri khas kesenian barongan adalah para pemain yang menjunjung ukiran kayu berbentuk naga.

Barongan dan tari balet menjadi pembuka acara Ngobrolke Kutha Salatiga 2020, sebuah acara yang digelar Kampoeng Percik, sebuah lembaga pemerhati toleransi dan isu-isu terkini di Salatiga. Ada empat diskusi yang bisa diikuti oleh para peserta yang telah mendaftar sebelumnya. Saya mendaftar untuk mengikuti panel diskusi cagar budaya yang dibawakan oleh Warin Darsono, pemerhati sejarah dan cagar budaya di Salatiga.

Dikarenakan sedang pandemi, acara offline hanya bisa diikuti oleh sebagian peserta. Selebihnya hanya bisa mengikuti acara ini secara virtual melalui Google Meet. Saya cukup beruntung bisa datang langsung ke Kampoeng Percik menyaksikan acara ini secara langsung dan gratis.

Hujan deras yang mengguyur Salatiga sejak sebelum saya datang tak mengurangi antusiasme peserta untuk datang dan mengikuti acara ini. Diskusi digelar secara lesehan santai di pendopo Kampoeng Percik yang asri dan penuh pepohonan rimbun. 

Turut meramaikan acara ini yaitu mini bazar. Yang cukup menarik, ada “bank jelantah” di Salatiga dan pameran benda-benda cagar budaya. Entah kepunyaan siapa fragmen candi, bata kuno dan keramik kuno tersebut.

1615107172853 1615107172863

1615107172850

Setelah seremoni dan pembukaan oleh dua pejabat pemerintah kota Salatiga (yang cukup membosankan) tibalah acara yang ditunggu-tunggu, presentasi dan diskusi cagar budaya oleh Warin Darsono, pegiat komunitas cagar budaya Salatiga Heritage.

1615107172805 1615107172797
Warin Darsono (baju merah muda) dan sebagian peserta diskusi

Diskusi dipandu oleh Aza, seorang pegawai muda di Dinas Pariwisata Kota Salatiga. Entah kenapa, cara memandu acara masih kurang luwes dan artikulasinya tekstual sekali. Beruntung Warin Darsono sangat memahami materi yang dibawakan tentang cagar budaya Salatiga dan cara menyampaikan sejarah cukup enak sehingga menarik disimak. Menurut Maria Magdalena, pembawa keseluruhan acara, memberikan komentar bahwa membicarakan sejarah Salatiga bersama Warin Darsono tak akan habis dalam waktu semalam.

Cerita dari Warin Darsono, selain cerita prasasti Plumpungan, bundaran Tamnsari, tokoh terkenal yang pernah berdiam di Salatiga (pernah saya tulis di sini), kereta berlogo Freemasonry di Kutowinangun, ada cerita unik tentang Salatiga yang mungkin tak semua orang Salatiga tahu:

1. Prasasti Plumpungan bukanlah satu-satunya prasasti yang ditemukan di Salatiga. Selain itu ada prasasti di Tingkir dan Benoyo yang kondisinya tidak terawat.

2. Benteng Hersteeler (benteng pertama di Salatiga) dibangun dari bekas candi di Kalitaman. Artinya, pernah ada bangunan candi di Salatiga. Benteng ini lantas dibongkar karena dianggap kurang layak sebagai sebuah benteng karena posisinya di cekungan. Benteng Hersteeler akhirnya dipindahkan ke lokasi yang sekarang menjadi markas Batalyon Infanteri 4-11. Benteng Hock (sekarang markas Satlantas Salatiga) awalnya adalah sebuah rumah tinggal.

3. Perjanjian Salatiga yang membagi wilayah Kasunanan Surakarta tidak pernah ada, yang ada adalah perjanjian Kalicacing karena mengambil tempat di desa Kalicacing.

4. Ada bangunan bernama Villa Salatiga di Nijmegen dan restoran Salatiga (sudah berganti nama) di Brookland. Keduanya di Belanda. Milik warga Belanda yang pernah tinggal di Salatiga pada masa kolonial.

5. Tahun 2013 ada 144 benda cagar budaya tidak bergerak di Salatiga. Tahun 2021, jumlahnya berkurang menjadi 119 buah karena berbagai hal, seperti kerusakan alam dan alih fungsi bangunan. 

Melestarikan cagar budaya memang tak mudah. Anggapan bahwa bangunan bersejarah adalah warisan penjajah, rasa kurang peduli dan memiliki, dan biaya pelestarian bangunan kolonial yang tidak murah membuat bangunan bersejarah rentan hilang. Beruntung Salatiga masih memiliki Salatiga Heritage, sekumpulan anak-anak muda yang tak hanya mau belajar sejarah, tetapi terjun langsung merawat benda bersejarah di Salatiga dengan biaya swadaya anggotanya. Salatiga Heritage masih mempunyai asa untuk memiliki museum sejarah Salatiga sendiri.

Tak hanya Salatiga, Warin Darsono sempat menyinggung kerkhof Dezentje di Ampel. Sebuah tanya menyelinap di kepala. Adakah hubungan antara Warin dan Dezentje?

Saat sesi interaktif, saya melontarkan beberapa tanggapan. Salah satunya saran bagi pemko Salatiga membuka gedung-gedung bersejarah di Salatiga untuk wisata edukatif. Di luar dugaan, tanggapan dari seorang pegawai Dinas Lingkungan Hidup (yang juga seorang pemateri panel diskusi lain) beranggapan cagar budaya hanya cocok untuk edukasi, bukan wisata murni.

Ketika saya tanyakan kegiatan Salatiga Heritage di masa pandemi, Warin mengajak kami mengikuti bedah naskah kuno beraksara Jawi di Ampel, Boyolali. Padahal, saya lebih tertarik dengan kegiatan konservasi kereta Freemasonry di Salatiga atau walking tour hehehe.

Acara ditutup dengan lomba membuat notulis berhadiah sukulen dan buku Cagar Budaya Salatiga dan yel-yel untuk kota Salatiga dari masing-masing peserta. Tiba giliran saya, saya sedikit berteriak: Salatiga Ngangenin!


3 respons untuk ‘Obrolan Cagar Budaya Salatiga Bersama Warin Darsono

  1. hahaha aku juga menganggap sama kayak beberapa orang kalau barongan adalah reog.
    aku pikir namanya tiap daerah bisa aja beda 😀

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s