Sulawesi: Pasar Paniki, Suku Polahi, Sungai Tamborasi

Sebagai seorang bloger cerita perjalanan, konsekuensi dari pandemi yakni pembatasan bepergian. Salah satu hal yang bisa saya lakukan agar blog ini tetap ‘hidup’ yakni menulis cerita dari sebuah perjalanan yang dibukukan. Simpelnya, mereviu buku perjalanan. Kali ini cerita dari pulau yang dikenal dengan Celebes atau pulau besi.

Sulawesi  deretan pulau di Indonesia timur adalah satu dari banyak tempat yang belum pernah saya kunjungi. Rasa penasaran dan keingintahuan akan pulau satu ini membuat saya tertarik membeli buku berjudul Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi: Peduli dan Lestarikan Alam Indonesia.

Buku ini diterbitkan oleh Kopassus pada tahun 2013 sebagai dokumentasi atas ekspedisi bernama serupa. 

Awalnya saya hendak membeli buku Jelajah Musi yang pertama kali saya lihat di kosan Gara (ruangsunyi dot com). Namun, rupanya buku tersebut sudah habis terjual. Saya kemudian tertarik dengan buku Ekspedisi NKRI karena bukunya sangat tebal (426 halaman tidak termasuk pendahuluan sebanyak LIV lembar), hard cover, menggunakan kertas art paper serta full warna.

Ekspedisi NKRI melibatkan ribuan anggota gabungan dari personel TNI, Polri, kementerian/lembaga, akademisi dan mahasiswa serta jurnalis media cetak dan TV. Dilaksanakan selama 4 bulan di tahun 2013, bersamaan dengan hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei. Danjen Kopassus terjun langsung sebagai komandan ekspedisi.

Bukan jalan-jalan dan penjelajahan alam biasa, ekspedisi dengan membawa para ahli dari berbagai disiplin ilmu ini untuk memetakan keanekaragaman flora, fauna, geologi, potensi bencana, sosial budaya masyarakat Sulawesi.

Sulawesi merupakan tujuan ekspedisi TNI ke sekian setelah ekspedisi Cenderawasih tahun 1964 mendaki puncak Soekarno (Carstenz Pyramid), ekspedisi gunung Everest tahun 1996 dimana Pratu Asmujiono dari Kopassus menjadi orang Indonesia pertama Indonesia yang mencapai puncak tertinggi dunia tersebut.

Disusul ekspedisi Polygon menyusuri 9 puncak gunung di 9 pulau pada tahun 1999, ekspedisi Bukit Barisan di Sumatera tahun 2011 dan ekspedisi Khatulistiwa di Kalimantan tahun 2012.

Ada 9 kabupaten yang dijadikan sasaran ekspedisi Sulawesi tersebar di 6 provinsi yaitu: kepulauan Sangihe, Minahasa (Sulawesi Utara), Bone Bolango (Gorontalo), Sigi, Luwuk Banggai (Sulawesi Tengah), Mamuju (Sulawesi Barat) Toraja, Gowa (Sulawesi Tengah) dan Kolaka (Sulawesi Tenggara). Meskipun bahasa yang digunakan agak kaku (khas militer), karena ditunjang dengan gambar dan foto warna-warni membuat buku ini cukup menarik dibaca.

Sangihe
Cerita dimulai dari Sangihe, salah satu titik paling utara di Indonesia. Pulau Miangas, titik paling utara Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina turut dikunjungi meskipun sebenarnya masuk wilayah kabupaten Talaud.

Akulturasi budaya Indonesia dan Filipina di Miangas menghasilkan keturunan yang diberi nama Sapi (Sangihe-Filipina) jika sang ayah warga Sangihe. Jika yang ibu merupakan warga Sangihe disebut Pisang (Filipina-Sangihe).

Di Sangihe, tim mendaki gunung Awu (1.340 mdpl) yang menjadi titik tertinggi di Sangihe sekaligus tempat yang pas untuk melihat kota Tahuna (ibukota Sangihe dari ketinggian). Ada mitos di gunung Awu yaitu larangan memakai pakaian dan atribut apapun yang berwarna merah.

Minahasa

Siapa yang tak kenal dengan Pasar Paniki atau yang memiliki nama pasar Beriman di kota Tomohon. Pasar yang menjual aneka kebutuhan ini lebih dikenal karena menjual aneka hewan tidak biasa untuk dikonsumsi seperti anjing, kucing, ular, tikus, dan kelelawar. Di Minahasa, tim ekspedisi mendaki gunung Soputan (1.784 mdpl).

Bone Bolango

Di pedalaman Gorontalo, tepatnya di Bone Bolango tinggal suku Polahi. Suku ini mengasingkan diri karena tak mau hidup dikungkung penjajah. Suku ini memiliki kebiasaan yang cukup aneh yaitu menganut perkawinan sedarah dikarenakan populasi mereka yang tidak banyak. Anehnya, meski ditentang masyarakat hampir tidak pernah terdengar anggota masyarakat yang mengalami kelainan fisik atau mental.

Kopi Sulawesi tak hanya Toraja. Di sini ada kopi Pinogu kebanggan Gorontalo yang merupakan hasil komoditas unggulan dari kecamatan Pinogu. Kopi Pinogu awalnya hanya varietas liberika yang diperkenalkan oleh Belanda. Saat ini yang berkembang di Pinogu dari varietas robusta.

Sigi 

Di kawasan Taman Nasional Lore Lindu yang banyak mengandung batuan megalit era manusa purba, tim peneliti flora menemukan tumbuhan diduga spesies baru begonia yang diberi nama Begonia sp.1 dan Begonia sp.2. 


Kartu pos bergambar Megalit Oba di Bada

Luwuk Banggai

Siapa yang tak kenal dengan keberanian suku Bugis, Makassar dan Bajo dalam mengarungi samudera. Luwuk Banggai merupakan tanah kelahiran suku Bajo yang dikenal gagah berani. Suku ini banyak berdiam di kawasan pesisir dan banyak tersebar di Nusantara.

Mamuju

Jika di Sulawesi Selatan ada suku Bugis, di Sulawesi terdapat suku Mandar dengan perahu kebanggan bernama sandeq. Ada pemeo unik tentang alam Mamuju yakni maju mundur jurang untuk menggambarkan geografis kota Mamuju yang banyak dikelilingi jurang dan perbukitan. Mamuju merupakan satu-satunya ibukota provinsi di Sulawesi yang bukan berstatus kota otonom.

Tak hanya keunikan geografis, penemuan patung Buddha di Sikendheng menandakan bahwa Mamuju merupakan kawasan penyebaran Hindu Buddha di Sulawesi.

Toraja

Toraja barangkali salah satu kota paling dikenal di Sulawesi selain Makassar dan Manado. Keindahan alam, harum kopi arabika Toraja dan keunikan budaya suku Toraja terutama ritual pemakaman yang melibatkan banyak hewan kurban. Terkadang jumlah hewan yang dikorbankan berjumlah ratusan ekor. Masyarakat Toraja beranggapan bahwa semakin banyak hewan yang dikorbankan, semakin cepat arwah nenek moyang akan mencapai surga.

Gowa

Gowa dikenal karena konferensi Malino dan peristiwa Malino. Yang pertama merupakan pertemuan pada tahun 1946 untuk membentuk negara-negara bagian yang berbentuk federasi di Indonesia setelah Indonesia merdeka. Peristiwa Malino atau deklarasi Malino merupakan perjanjian damai antara pihak yang bertikai pada konflik SARA di Poso tahun 2001.

Suku Kajang merupakan suku yang tinggal di Gowa. Mereka memiliki keunikan yaitu hanya memakai pakaian hitam dan putih. Anak SD warga suku Kajang memakai atasan putih, tetapi memakai bawahan hitam. 

Kolaka

Di Kolaka, pernah berdiri kerajaan Mekongga yang bercorak Islam. Salah satu peninggalan kerajaan Mekongga yakni bendera merah putih peninggalan Raja Bokeo Ladumaa adalah bendera merah putih yang dikenal dengan nama bendera Sangia Nibandera yang diperkirakan sudah berumur 300 tahun. Bendera ini bewarna merah putih yang bermakna merah berarti berani dan putih suci sama dengan bendera nasional. Yang membedakan yaitu ukurannya memiliki panjang 200 cm dan lebar sekitar 63 cm. Selain itu pada bendera dihiasi tulisan Arab kalimat tulisan syahadat dan gambar cicak.

Bendera ini awalnya merupakan hadiah dari Kerajaan Luwu yang diserahkan oleh Datu Luwu Alimuddin Setia Raya kepada raja Mekongga karena ia ikut membantu Raja Luwu dalam perang melawan Kerajaan Suppa.

Kolaka memiliki keunikan alam yang tidak ada di tempat lain yaitu sungai Tamborasi. Sungai jernih yang sekilas menyerupai kolam di tepi pantai ini merupakan sungai terpendek di dunia yakni hanya sepanjang 20 meter saja.


9 respons untuk ‘Sulawesi: Pasar Paniki, Suku Polahi, Sungai Tamborasi

  1. baru denger ada suku Polahi, bacaanku kurang banyak hehehe
    sebutan nama keturunan di Sangihe cukup unik juga, Sapi dan Pisang. Memang begitu ya sebutannya dari lama?

  2. Dulu Miangas bernama Las Palmas, berada di bawah kekuasaan Spanyol. Tapi karena diabaikan empunya, Belanda mendarat di sana dan melakukan aktivitas di pulau tersebut selama bertahun-tahun, yang menjadi dasar bagi arbitrase internasional menetapkan bahwa Las Palmas menjadi daerah kolonialisme Belanda. Sehingga saat Indonesia merdeka, Las Palmas ikut masuk ke dlm wilayah NKRI.

    Sayangnya, kita tidak belajar dari kesalahan Spanyol. Kejadian serupa kita alami saat harus merelakan Sipadan dan Ligitan ke pelukan Malaysia.

  3. ah yang peradaban di Sigi saya jadi ingat pas baca di Nat Geo
    asyik banget ternyata peradaban kuno yang cukup tinggi juga ada di sana
    padahal cerita ini jarang sekali dituturan di pelajaran sejarah

    oh ya, mengenai Miangas juga saya amat kepo karena dekat banget sama Filipina
    pertalian dengan orang sana membuat banyak yg bisa berbahasa Tagalog
    Kalau dipikir, padahal masih ngulik sulawesi saja Indonesia rasanya gedeee banget ya mas

  4. Aiiiiiih kok jadi pengen baca jugaaaaakk. Beberapa bulan lalu nonton dokumenter tentang orang Miangas tanpa dokumen tinggal di Filipina. Mau pulang nggak bisa karena gak ada paspor. Tetapi mereka alien di Filipina. Beberapa tahun lalu juga KBRI di Filipina menerbitkan ribuan paspor untuk orang-orang tersebut supaya bisa pulang. Dahulu kan klo ke sana ke mari nggak pake dokumen dan belum ada batas teritori yang dijaga kayak sekarang. Jadi kawin sana kawin sini.

    1. Betul, stateless ya mereka dulunya… Problem perbatasan emang rumit sih Lid, soalnya dulu kadang pemerintah kayak gak terlalu peduli sama mereka karena terlalu jauh dan jumlahnya dinggap nggak banyak 🙂

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s