Taman Sejarah Salatiga

Hampir setahun kita berteman dengan pandemi. Rasa-rasanya pandemi belum akan segera berakhir. Grafik pasien yang positif tak pernah menunjukkan tanda-tanda penurunan. Sekalinya menurun langsung melesat tak terkendali. Menyedihkan orang-orang tak lagi peduli dengan kesehatan diri sendiri dan keluarga. Berbeda dengan keadaan waktu awal pandemi.

Saat hasrat jalan-jalan tak bisa dibendung, saya memilih cara paling aman. Motoran sendirian ke tempat-tempat yang cukup dekat dari rumah. Tidak berlama-lama di tempat tujuan, hanya memotret seperlunya. Masker dan sanitizer tentu tak lupa.

Sore hari saya berencana mau ke beberapa spot di sekitar Salatiga. Anak saya mau ikut jadinya kami motoran berdua. Spot pertama ke Taman Wisata Sejarah Salatiga (Taman Wisesa). Lokasinya di Nogosari, Bugel. Tepat sebelum terowongan jalan tol Salatiga arah ke Macanan belok kanan. Lokasinya di depan SDN 2 Bugel. Kalau dilihat di steet view, taman ini masih berupa sawah basah. Mulai dibangun sejak awal Januari 2020, taman ini dibangun bertahap dan akan selesai di tahun 2023.

Sejauh mata memandang hanya ada rumput, ilalang, jalan yang masih becek habis disiram hujan. Tak ada orang sama sekali.

Taman ini dibangun untuk mengenang jasa tiga pahlawan nasional dari tiga matra TNI. Brigjend Sudiarto, Yos Sudarso dan Adi Sucipto. Semuanya lahir di Salatiga.

Brigjend Sudiarto lahir di Salatiga tanggal 25 Desember 1925, calon mahasiswa akademi militer Westpoint di Amerika Serikat. Komandan dari Slamet Riyadi ini gugur di umur 25 tahun pada saat berperang melawan pemberontak RMS.

Laksamana Madya Yosafat Sudarso (Yos Sudarso) lahir di Salatiga, 25 November 1925 dan gugur 15 Januari 1962 di KRI Matjan Tutul di Laut Aru dalam operasi Trikora untuk merebut Irian Barat dari Belanda. Kini namanya diabadikan menjadi nama KRI dan nama pulau di Papua.

Marsekal Muda Agustinus Adi Sutjipto, lahir di Salatiga, 3 Juli 1916 dan gugur bersama Abdul Rahman Saleh dan Adi Soemarmo di Bantul, 29 Juli 1947 saat Agresi Militer Belanda I di Yogyakarta. Adi Sutjipto adalah Bapak penerbang Indonesia.

Menarik melihat patung Adi Sutjipto yang ditampilkan memakai seragam pilot, beda dengan kedua rekannya yang memakai pakaian dinas upacara. Ketiga patung disini dibuat lebih realistis dibandingkan patung di lapangan Pancasila. Percaya atau tidak, mata Adi Sutjipto ini bergerak mengikuti kemana gerak pengunjung dan saya sudah membuktikannya.

Selain patung tiga pahlawan, saat ini di taman Wisesa dibangun monumen alutsista yang terdiri dari sebuah pesawat Cureng AURI, panser Saladin, tank AMX 13 Canon 105/75 dan replika KRI Matjan Tutul 62.


Ketika hendak menyeberang ke arah SDN 2 Bugel dari sebelah helikopter, jalannya rupanya belum ada. Hanya sebuah jembatan bambu yang hanya bisa dilalui pejalan kaki. Terpaksa memutar balik untuk pulang.

Tujuan saya berikutnya yakni Prasasti Plumpungan, tidak jauh dari lokasi pertama tepatnya di bawah terowongan tol Salatiga arah ke Glawan. Srir Astu Swasti Prajabhyah, kata-kata dalam Prasasti Plumpungan yang akhirnya diabadikan menjadi moto kota Salatiga. 

Prasasti bertanggal 31 bulan 4 tahun 672 Saka hari Jumat tengah hari atau 24 Juli 750 Masehi ini kelak dijadikan penanda lahirnya kota Salatiga. Batu prasasti tampak aus hampir tak terbaca dan terbelah dua. Berisi penetapan desa Hampra di wilayah Trigramyama oleh raja Bhanu sebagai daerah bebas pajak.

Saat ini di dekat prasasti dibangun museum Salatiga yang menyimpan sejumlah potongan arca dan batu candi yang ditemukan di Salatiga (saya lihat di YouTube-nya Abel Jatayu). Museum yang masih tampak sangat bersahaja. Tutup. Saya tak tahu dimana rumah sang juru pelihara museum tinggal.

Di halaman museum terdapat replika dokar, dan tiba buah batu. Dua buah batu sepengetahuan saya adalah yoni dan sebuah batu berukir agak bulat saya tak paham namanya.

Hari sebentar lagi gelap. Masih ada satu spot lagi yang mau saya kunjungi sekaligus pulang. Pohon Pengantin, nama sebuah pohon yang kerap menjadi lokasi foto muda-mudi yang hendak melangsungkan penikahan. Berada di area persawahan di seberang SMP Al Azhar Salatiga.

Disebut pohon pengantin karena dulu awalnya ada dua pohon semacam beringin disini, sekarang tinggal sebuah. Bonggol pohon yang meliuk mampu diduduki dua orang sekaligus. Kapan-kapan jika cuaca cerah saya ingin hunting foto disini.

Referensi: https://tni-au.mil.id/peresmian-taman-wisata-sejarah-salatiga-sejarah-kental-tni/


4 respons untuk ‘Taman Sejarah Salatiga

  1. ternyata di Salatiga ada wisata sejarah kayak gini, dan aku baru tau. Apalagi masih di daerah kota jadi nggak perlu motoran jauh jauh banget gitu
    Lumayan buat penyegaran ingatan pelajaran sejarah kalau main ke tempat seperti ini

  2. Pengen meet up tp blm berani mas. Kangen juga rasanya ke suatu tempat dan bernafas dengan lega tanpa masker.
    Sementara memang motoran keliling untuk ngilangin bosen. Tp belum berani mampir-mampir.

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s