Bengawan Solo, Nestapa Sungai Purba

Foto pinjam dari sini. 

Di tahun 90-an, bapak sering membawa saya ke tepi Bengawan Solo jika saya berkunjung ke kampung kelahiran bapak di dukuh Bacem, desa kecil di tepi tanggul sungai Bengawan Solo. Bapak membuatkan saya perahu kertas, memberikan kepada saya perahu tersebut lantas saya melarung perahu tersebut ke sungai yang jernih. Menurut cerita bapak, beliau belajar berenang di bengawan. Pendek kata Bengawan Solo adalah halaman belakang rumah tempat bermain bapak.

Ingatan terbang ketika saya di lain kesempatan dibonceng Bajak naik motor honda bebek merah putih melihat proyek pembangunan jembatan beton yang melintasi sungai. Kelak jembatan itu dinamai jembatan Bacem. 

Suatu ketika, bapak bercerita tentang Bengawan Solo yang memerah karena mayat-mayar terduga simpatisan partai terlarang itu dibuang di sungai pada tahun 60-an. Bengawan Solo juga menjadi tempat dimana mbah putri, nenek saya kehilangan nyawa.

***

Pertama kali lihat buku ini di kosan Gara (ruangsunyi dot com) yang terletak di bilangan Salemba beberapa tahun lalu. Saya transit semalam di Jakarta untuk melanjutkan perjalanan ke Jambi keesokan harinya. Tiba di Gambir, Gara rupanya sudah tiba di parkiran. Saya langsung dibonceng Gara naik motor.

Tumpukan buku, sebagian besar bertema sejarah amat menggoda saya untuk membacanya. Asupan kalori berlebihan membuat saya terlalu kenyang. Usai bercakap-cakap dengan Gara alhasil saya mengantuk alih-alih membaca buku. Saya simpan dalam ingatan beberapa judul buku yang menurut saya menarik untuk dibeli suatu saat nanti. Salah satunya buku ini, Ekspedisi Bengawan Solo, Laporan Jurnalistik Kompas, Kehancuran Peradaban Besar.

Ada satu buku lagi yang saya incar untuk dibaca kala pandemi yaitu ekspedisi Sungai Musi. Sayang buku tersebut rupanya sedang habis stok.

Buku ini merupakan kompilasi artikel yang terbit di harian Kompas yang bertajuk Ekspedisi Bengawan Solo untuk Kehidupan, sebuah muhibah Kompas kali kesekian setelah Ekspedisi Tanah Papua tahun 2007 dan Ekspedisi 200 Tahun Anjer – Panaroekan tahun 2008.

Perjalanan dimulai dari hulu Bengawan Solo di pegunungan Seribu di Wonogiri, tepatnya di Kali Muning di dusun Ngampih dan Kali Tenggar di dusun Tenggar desa Jeblogan hingga muara di Ujung Pangkah, Gresik, Jawa Timur. Kegiatan ini berlangsung selama dua pekan.

Selama ekspedisi, turut serta para pakar termasuk ahli ekologi, mikrobiologi tanah, fisika tanah, geografi, geologi, termasuk ahli sejarah dan arkeologi UMM Dwi Cahyono yang mengikuti jalannya ekspedisi ini dari hulu hingga hilir. 

Bengawan Solo bukan hanya sungai terpanjang di pulau Jawa yang melintasi 12 kabupaten kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur, melainkan juga laboratorium sejarah, arkeologi, sosial, ekonomi dan lingkungan. Buku ini tak hanya mengupas sejarah, melainkan juga aktivitas sosial, ekonomi serta kerusakan lingkungan yang diderita sungai yang menjadi inspirasi bagi pencipta lagu legendaris dari kota Solo: Gesang (1940).

Benang Merah Peradaban

Bagian pertama buku ini adalah yang paling saya sukai. Mengambil tema tentang sejarah Bengawan Solo sejak zaman purba hingga saat buku ini ditulis (tahun 2007).

Masa prasejarah mewarnai Bengawan Solo purba dengan ditemukannya fosil manusia purba di Situs Sangiran dan Sambungmacan di Sragen, situs Trinil di Ngawi, kubur batu situs Kawengan, Bojonegoro. Sungai Bengawan Solo purba tak mengalir ke utara menuju laut Jawa melainkan ke selatan melalui Gunung Kidul dan bermuara ke Pantai Sadeng ke Samudera Hindia. Dibuktikan dengan sisa aliran sungai Bengawan Solo purba yang kini menjadi semacam ngarai panjang.

Beralih ke masa klasik Hindu Buddha, sejumlah prasasti ditemukan misalnya Prasasti Telang di desa Praon yang kini ditenggelamkan menjadi Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri dan Prasasti Canggu di Blora. Kedua prasasti tersebut bercerita tentang desa-desa sima (bebas pajak) karena berjasa menyeberangkan orang antar sisi Bengawan Solo.

Naskah Sunda kuno Bujangga Manik menyebut Sungai Ci Wulayu yang kemungkinan adalah nama kuno Bengawan Solo. Sedangkan pada masa kolonial, sungai ini dikenal dengan nama sungai Sungai Semanggi, Bengawan Beton, lantas terakhir Bengawan Solo. Berasal dari nama desa Sala yang merupakan cikal bakal keraton Surakarta.

Thomas Stamford Raffles, menyebut sungai ini pada bukunya History of Java. Bengawan Solo juga hunian bagi bangkai kapal kuno. Salah satunya situs perahu kuno di desa Padang, Bojonegoro berbentuk perahu janggolan bergaya Madura tahun 1612. 

Benteng Van den Bosch (benteng Pendem) di Ngawi merupakan saksi pertempuran antara Pangeran Diponegoro dan Belanda. Legenda mengisahkan Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya sang pendiri Kesultanan Demak naik rakit dengan bantuan buaya melintasi Bengawan Solo.

Keraton Surakarta memanfaatkan aliran Bengawan Solo sebagai sarana transportasi vital dari hulu menuju hilir. Kiai Rojomolo, salah satu kapal kebesaran kerajaan hingga kini masih bisa disaksikan sisanya di Museum Radya Pustaka, Solo.

Kembali ke masa kecil saya, di sebuah titik di tepi Bengawan Solo, terdapat bekas dermaga Langenharjo. Kata bapak, itu adalah tempat Sunan Pakubuwana melihat keindahan sungai. Buku ini menulis tempat itu adalah bekas dermaga kapal kerajaan Surakarta, satu dari beberapa dermaga selain dermaga Nusukan dan dermaga Semanggi.

Sering banjirnya Bengawan Solo waktu musim hujan dan kekeringan di masa kemarau membuat pemerintah Orde Baru membangun Bendungan Serbaguna Wonogiri atau Waduk Gajah Mungkur pada tahun 1978. Ribuan keluarga dipindahkan ke luar Jawa, termasuk ke Rimbo Bujang, Jambi. 

Nestapa Bengawan Solo

Kekeringan dan banjir akibat Bengawan Solo hanyalah satu dari sekian nestapa sungai purba ini. Mata rantai pertama disebabkan oleh erosi di bagian hulu, erosi menjadi penyebab sedimentasi. Penambangan pasir membuat sungai menjadi dangkal dan mengakibatkan banjir pada musim penghujan. Masalah berikutnya adalah polusi air (terutama di Kota Solo), air tidak layak konsumsi, memburuknya kesehatan karena pencemaran limbah industri dan rumah tangga. Di muara sungai di Gresik, vegetasi mangrove menjadi berkurang.

Bengawan Solo hanyalah satu dari sekian banyak cerita pedih tentang perusakan lingkungan di negeri ini.

Sungai Sumber Kehidupan

Meski menjadi tempat sampah raksasa dimana semua limbah dan sampah bertemu, Bengawan Solo tetaplah karunia Tuhan tempat dimana jutaan manusia menggantungkan hidup. Diantaranya para petani musiman di waduk Gajah Mungkur, pembuat cobek dan gerabah di Malo, Bojonegoro, penambang pasir di Ngrampal, Sragen, bahkan termasuk pencuri kayu ilegal, petambang emas ilegal di tepian sungai.

Profesi unik berikutnya adalah manusia perahu yang hidup berhari-hari di Kanon, Bojonegoro dan juru seberang perahu/petambang yang berstatus PNS Dinas Perhubungan di Widodaren, Ngawi.

“Manusia begitu bergantung pada Bengawan Solo, tetapi pada saat yang bersamaan mereka merusaknya,” (Kompas Gramedia)

Ekspedisi Bengawan Solo, Laporan Jurnalistik Kompas, Kehancuran Peradaban Besar
Halaman:
xiv + 274 halaman
Penerbit: Kompas (2008)
Penulis: Jurnalis Kompas
Harga: Rp 55.000,- (Bukalapak)

Iklan

8 respons untuk ‘Bengawan Solo, Nestapa Sungai Purba

  1. Bengawan Solo ini yang melewati kediri juga kayaknya ya
    jadi inget dulu waktu kecil naik perahu bambu yang ditarik manual pake tali nyebrang ke seberang. sampe sekarang inget betul, padahal memori lama banget.

  2. wah waduk gajah mungkur jadi mengingatkan saya dengan waduk di perbatasan sumbar-riau (bangkinang). Lupa nama waduknya tapi di sana juga harus memindahkan beberapa desa dulu karena akan ditenggelamkan menjadi waduk.

    bengawan solo ini dari kecil udah familiar sama namanya. ngomong-ngomong tentang sungai, saya jadi teringat sungai pemali, atau di daerah kami dinamakan cipamali, itu juga banyak menyimpan kenangan masa kecil, hehe.

  3. bengawan solo purba yang menuju sadeng memang menarik, sayangnya saya belum kesampaian eksplorasi kesana.. beberapa tahun merantau, eh pas pulang nggak selang lama ada pandemi.. yasudah tertunda lagi..

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s