Jejak Tokoh Terkenal di Salatiga

Salatiga, sebuah kota kecil tepat di tengah-tengah jalur darat Semarang menuju Solo. Salatiga, kota dengan perjalanan sejarah panjang dan memiliki banyak peninggalan kolonial.

Kota yang sering mendapat anekdot “benar tujuh” ini pun merupakan tempat kelahiran tiga pahlawan nasional dari tiga matra: Laksda Adi Sutjipto, Brigjend Sudiarto dan Marsekal Yos Sudarso.

Historia vitae magistra, sejarah adalah guru kehidupan (Marcus Tullius Cicero). Ambillah pelajaran dari masa lalu. Demikian Abel Jatayu Prakosa menuliskan kata mutiara tersebut di akhir buku yang ia tulis: Diskriminasi Rasial di Kota Kolonial: Salatiga 1917-1942 (Sinar Hidoep: 2017).

Saya memperoleh buku ini dari Gio, teman sesama pecinta sejarah yang tinggal di Tegal. Awalnya saya nitip sama Gio untuk membelikan buku ini. Rupanya Gio memberikan buku ini kepada saya sebagai hadiah.

 
Foto diambil dari bukalapak dot com

Abel adalah mahasiswa Ilmu Sejarah di Universitas Diponegoro. Buku dengan judul di atas awalnya merupakan skripsi yang membawanya meraih gelar sarjana. Kegelisahan atas minimnya buku sejarah Salatiga membuat ia menulis skripsi tentang sejarah Salatiga, khususnya pada masa kolonial.

Sejauh ini, hanya ada dua buku yang bercerita tentang Salatiga masa kolonial. Dua-duanya karya Eddy Supangkat yakni Salatiga, Sketsa Kota Lama (2012) dan Galeria Salatiga (2010).

Saya menikmati betul gaya bercerita Abel tentang sejarah Salatiga. Dengan referensi yang luar biasa banyak, baik berupa buku, manuskrip dan surat kabar lama, termasuk hasil wawancara pemerhati sejarah Salatiga Warin Darsono dengan beberapa narasumber warga Belanda yang pernah tinggal di Salatiga pada era kolonial. Buku ini ibarat nukilan sejarah Salatiga era kolonial yang lengkap dan komprehensif. Ilustrasi, lukisan dan foto membuat buku ini semakin berwarna dan menarik disimak,

Sejarah Salatiga diceritakan secara singkat dengan alur yang runtut sejak zaman klasik (era desa Hampra), sekitar tahun 750 Masehi sebagaimana terpahat pada prasasti Plumpungan yang ditemukan di desa Kauman Kidul kecamatan Salatiga Luar Kota kabupaten Semarang (kini menjadi wilayah kecamatan Sidorejo).

Salatiga tak lagi disebut hingga pada tahun 1746 VOC membangun benteng Hersteleer di pusat kota Salatiga (kemungkinan menjadi halaman depan mall Ramayana saat ini). Benteng Hock yang kini menjadi bagian dari Satlantas Polres Salatiga rupanya bukanlah benteng pertama di Salatiga karena baru dibangun pada abad ke-19.

Tahun 1757, terjadi perjanjian antara Pangeran Sambernyawa dengan VOC dan Sunan Paku Buwono III yang menandai berdirinya Pura Mangkunegaran. Perjanjian ini dilaksanakan di desa Kalicacing yang dikenal dengan nama Perjanjian Salatiga. Tempat dilaksanakannya perjanjian ini saat ini menjadi gedung Pakuwon di sebelah utara lapangan Pancasila.

Perjanjian penting lainnya yang terjadi di Salatiga yaitu Kapitulasi Tuntang pada 1811 tentang penyerahan kekuasaan Hindia Belanda kepada Inggris. Menurut Abel, sebagaimana dikutip dari Willliam Heineman (1915:488), perjanjian tersebut sebenarnya tidak terjadi di Tuntang melainkan di Salatiga, tepatnya di Korem Salatiga saat ini. Cukup beralasan karena pada masa itu, jalan Diponegoro disebut dengan Toentangscheweg atau jalan Tuntang.

Buku ini fokus pada rasialisme yang diterapkan pemerintah kolonial di Salatiga. Sejak ditetapkan sebagai kotapraja, segala fasilitas perumahan, pendidikan, transportasi dan hiburan ditujukan hanya untuk warga kulit putih. Pendidikan yang dikhususkan untuk kaum bangsawan Bumiputera sebenarnya hanya dilakukan sekedarnya untuk mempekerjakan kaum Bumiputera sebagai tenaga rendahan di kantor pemerintah atau perusahaan kolonial.

Sarekat Islam cabang Salatiga (yang kemudian berubah menjadi Sarekat Rakyat Salatiga) dibarengi dengan penerbitan surat kabar oleh para aktivis pergerakan di Salatiga berusaha mengobarkan semangat nasionalisme di Salatiga.

Ada banyak tempat peninggalan kolonial yang dibahas, tetapi akan saya bahas di postingan lain. Saya lebih tertarik tentang tokoh-tokoh terkenal yang menancapkan jejak di kota ini. Selain Hartini, salah seorang istri bung Karno dan Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, Salatiga pernah menjadi tempat tinggal beberapa tokoh terkenal, diantaranya:

1. Oei Tiong Ham, raja gula dari Semarang yang memiliki villa yang kini menjadi Puri Makutharama (rumah dinas Komandan Korem 073).
2. Kwik Djoeng Eng, pengusaha Tionghoa asal Taiwan pemilik istana Kwik Djoeng Eng (saat ini menjadi rumah khalwat Roncalli).
3. Brigjen Soeharto (mantan Presiden RI) tinggal di Puri Makutharama waktu menjabat Komandan Resimen Salatiga tahun 1961.
4. RA Kardinah, adik kandung RA Kartini yang tinggal di tahun 1930 di Toentangscheweg No. 50 (sekarang jalan Diponegoro). Kardinah merupakan Bumiputera pertama yang tinggal di kawasan elit tersebut.
5. Nitisemito, raja kretek dari Kudus
6. Arthur Rimbaud, pujangga besar Prancis ini pernah berdiam di rumah dinas walikota Salatiga tanggal 2 hingga 15 Agustus 1876.

Kolonialisme sudah berlalu, namun bangunan kolonial masih berdiri megah di Salatiga. Bukan penjajahan dan peninggalan kolonial yang harus kita benci, tetapi rasa bangga berlebihan terhadap budaya Barat dan sikap kurang percaya diri, demikian Abel menutup buku ini. 

Referensi:
https://republika.co.id/berita/koran/news-update/14/02/16/n12z9w-mengintip-kamar-peristirahatan-soeharto


6 respons untuk ‘Jejak Tokoh Terkenal di Salatiga

  1. Berkat tulisanmu aku jadi lebih mengenal salatiga mas, penyampaiannya enak, cocok dibaca pas lgi di kereta 😊

  2. ternyata “benar tujuh” memiliki sejarah yang sangat menarik …. yang belum diketahui bayuak orang,
    Beruntungnya ada Abel Sarjana Ilmu Sejarah Undip … sehingga kepingan kepingan sejarah dapat dikumpulkan dan dibukukan

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s