Baloeng Gadjah, Angkringan?

Ketika tahu saya akan pulang kampung beberapa bulan silam, ada satu tempat yang istri saya pengen banget saya bisa nongkrong kesini, Baloeng Gadjah.

Katanya sih ini angkringan, tapi berbeda dengan angkringan pada umumnya. Suasananya menyerupai kafe atau restoran dengan pemandangan sawah, Rawa Pening dan pegunungan. Makanannya banyak dan murah-murah, tambahnya. Jika angkringan biasanya buka malam hari hingga dini hari, tempat ini buka mulai pagi hari jam 7 pagi.

Letaknya tidak jauh dari rumah, kata istri saya di belakang perumahan Candi Soba. Oke deh, kalau pulang nanti saya cobain.

Dari rumah istri di Sraten, ambil jalan ke kanan ke arah Candirejo atau Tapen. Habis pasar Candirejo ada papan penunjuk Baloeng Gadjah Angkringan di kiri jalan, ikuti saja penunjuk jalan. Ada satu ruas jalan yang cukup menguji adrenalin karena menikung tajam dengan kondisi jalan menurun. Hampir tidak bernafas saya dibuatnya. Kata istri saya ada jalan yang lebih “manusiawi” yakni belok kiri setelah SPBU Candirejo, tetapi membuat perjalanan sedikit lebih panjang.

Habis melewati perkampungan, tiba di tepi sawah dengan gunung Merbabu dan gunung Ungaran di seberang sana. Sayang langit sedang berawan. Jika cerah tampak Rawa Pening, gunung Telomoyo dan gunung Gajah Mungkur. Melewati sungai yang berujung ke Rawa Pening, tampak banyak pemancing.

Tempat parkir motor berada di depan bangunan restoran. Sedangkan parkir mobil disediakan di samping gazibu. Namanya saja yang angkringan, tetapi tempat ini ada banyak pilihan tempat duduk. Di bangunan utama yang berfungsi sebagai tempat mengambil makanan dan memesan minuman, gazibu di samping jika ingin duduk lesehan dan meja kursi terbuka di samping dan depan bangunan utama.

Tepat di depan restoran adalah persawahan yang luas. Anak-anak asyik berjalan di pematang sawah.

Bagi yang tak membawa sanitizer, di tempat ini tempat cuci tangan plus wastafel disediakan. Hand sanitizer juga banyak dan ada dimana-mana.

Seperti angkringan pada umumnya, pengunjung mengambil makanan sendiri, memesan minuman, memilih tempat duduk dan langsung membayar di kasir. Pilihan makanannya cukup banyak, sangat banyak untuk sebuah angkringan berkonsep rumah makan. Pengunjung yang kesini untuk pertama kali bisa jadi akan dibuat bingung dengan deretan menu yang namanya sebagian tampak asing. Selain banyak, harganya juga cukup murah. Setiap makanan diberikan label harga.

  

Tak heran meski baru dibuka beberapa bulan, tempat ini langsung menjadi perbincangan karena harga murah, enak, tempat nyaman dengan pemandangan yang spektakuler. 

Mushola dan toilet bersih tersedia.

Oke, mari coba nasi lemak dan sup rempah yang sekilas mirip sup di rumah makan masakan Padang. Sup akan dipanaskan terlebih dulu dan akan diantar bersama minuman.

Iseng saya bertanya mengapa tempat ini dinamakan Baloeng Gadjah, tapi mbak kasir kebingungan dan tak bisa menjawab pertanyaan saya.

Seperti angkringan pada umumnya, bagi yang mau bebakaran atau memanaskan sate-satean dan nasi bakar juga disediakan alat pemanggang, lengkap dengan mayones, saus kecap, sambal dan tomat.

Nasi lemak yang saya pesan isinya nasi, kacang dan sambal tahu. Cukup beralasan jika isinya cuma itu mengingat harganya yang hanya Rp 3.500,-. Surprise sup rempahnya mirip dengan sup ala rumah makan Padang yang biasa saya santap di Jambi. Enak dan segar.

 

Reccomended!

Angkringan Baloeng Gadjah
Candirejo, Tuntang, Kab. Semarang
Buka: setiap hari jam 07.00 – 23.00


16 respons untuk ‘Baloeng Gadjah, Angkringan?

  1. di papan menu nya beneran banyak bener piihannya
    nuansanya bener bener njawani, sawah, lesehan, udara sejuk, mantappp dah

  2. Sikasiik pesona kaki Merbabu bakalan disigi Mas Isna dan keluarga. Kawasan Sraten makin banyak tempat nongkrong. Banarawa, sudah Mas? Ubud von Salatiga wkwk.
    Salam sehat

  3. si mbak kasirnya koq sampai nggak tahu kenapa dinamain Baloeng Gadjah ya ..
    btw .. tempat yang bernuansakan alam … apalagi harga murah plus toilet dan musholla bersih … cocok kalau jadi tempat yang ramai dikunjungi

  4. sepertinya bisnis angkiringan lagi marak ya..
    di tangsel, pamulang lah tepatnya.. ada beberapa lapak angkiran baru.. ya namanya angkringan, tapi gaya nya tetap model cafe gitu, tidak lagi dengan gerobak dengan tenda terpal warna biru/oranye seperti dulu di jogja… hehe

    nasi lemak ?? kok bukan ditulis nasi uduk ya… hehe

  5. Ini angkringan modern, menu angkringan tapi di dalam restoran. Hehe.

    Saya rindu sekali suasana persawahan, apalagi ditambah view gunung di ujung sana. Selain indah, sangat menyegarkan dan menyehatkan jiwa dan raga.

    Saya juga sudah lama tidak menikmati menu sederhana di angkringan. Di Jakarta, ada satu angkringan yang jadi favorit saya. Tempatnya di Setiabudi, di belakang Setiabudi One. Menunya enak dan murah, penjualnya juga ramah dan makannya juga lesehan (walaupun agak mengganggu ketertiban karena memakan badan trotoar).

    1. Kapan-kapan ke Jakarta boleh deh saya kesitu mas Agung, nama tempatnya apa ya..

      Tempat makan lesehan di jakarta cuma tahu ke lesehan malam di blok M square hihi…

      1. Siaaap, nanti kalau ke Jakarta, saya traktir makan di sana deh. Saya lupa nama angkringannya, tapi gerobaknya agak tersembunyi di dekat taman di belakang plaza Setiabudi One. Tapi saya tidak tahu, masih ada atau tidak ya, sudah lebih dari tiga tahun tidak mampir ke sana lagi karena pindah domisili ke Jakarta Timur, sementara angkringannya di Jakarta Pusat (dulu sering makan di sana karena masih kos di dekat situ juga)

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s