Pantun, Warisan Budaya Dunia yang Diakui UNESCO

kemumu di dalam semak
jatuh melayang selaranya
meskipun ilmu setinggi tegak
tidak sembahyang apa gunanya

Namanya ibu Yani, lengkapnya Sri Maryani. Beliau adalah guru kelas 5 waktu saya sekolah dasar. Puisi lama yang dikenal dengan nama pantun tersebut masih saya ingat hingga kini. Pun dengan sosok ibu guru yang mengajarkan pantun nasihat tersebut. Selain mengenal pantun, tugas sekolah yang saya ingat adalah membuat beberapa pantun dengan beragam jenis: pantun jenaka, pantun agama, pantun nasihat.

Pantun adalah puisi lama Indonesia. Utamanya dari tanah Melayu. Meskipun beberapa daerah rumpun Melayu lain seperti Minangkabau, Betawi, Manado, Banjar dan Maluku juga mengenal pantun. Pantun diperkirakan sudah berusia 500 ratus tahun. Mulai tersebar sejak masuknya Islam ke Nusantara.

Tatkala bung Karno mengunjungi Danau Maninjau di Sumatera Barat, beliau pernah berucap kagum pada danau cantik ini lewat sebuah pantun.

Jangan makan arai pinang
kalau tidak dengan sirih yang hijau.
Jangan datang ke Ranah Minang
kalau tak mampir ke Maninjau.

Tanggal 17 Desember 2020 menjadi hari yang bersejarah dimana pantun Melayu ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dunia pada sidang UNESCO ke-15 di Paris, Prancis. Pantun menjadi warisan budaya tak benda ke-11 yang diakui UNESCO. Uniknya, ini merupakan warisan budaya sastra lisan pertama Indonesia yang diakui dunia, sekaligus warisan budaya pertama yang diajukan Indonesia bersama negara serumpun kita Malaysia.

Menurut UNESCO, pantun tak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi masyarakat Melayu, melainkan juga sebagai panduan moral masyarakat. Diakuinya pantun sebagai warisan dunia ini tak lepas dari peran beberapa lembaga adat dan kesenian di Riau dan Kepulauan Riau.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pantun adalah puisi Indonesia (khususnya Melayu) yang terdiri dari empat baris dan bersajak akhiran a-b-a-b. Baris pertama dan kedua disebut tumpuan atau sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat adalah isi. Masih menurut sumber yang sama, pantun adalah puisi masyarakat Sunda  berpola oktosilabik yang berisi kisah sejarah.

Selain pantun bercorak agama yang saya singgung di awal tulisan, pantun-pantun populer yang diajarkan di bangku sekolah tentu masih terngiang di ingatan kita, seperti. Seperti pantun perpisahan yang berbunyi “Berakit-rakit ke hulu, berenangp-renang ke tepian” atau “Kalau tuan simpan jarum, jangan simpan di dalam peti”.

Tinggal lama di Tanjung Batu dan Jambi yang merupakan rumpun Melayu membuat saya akhrab dengan budaya berbalas pantun. Salah satunya waktu acara pernikahan.


Acara pernikahan di Muara Bungo, Jambi yang diisi dengan berbalas pantun.

Dalam pemerintahan di Jambi, pantun hadir dalam bentuk himbauan pemerintah untuk masyarakat. Di kantor saya, setiap sambutan selalu diawali dan diakhiri dengan pantun berbahasa daerah.

Saya pernah berkunjung ke Tanjung Pinang, sebuah kota di pesisir pulau Bintan. Kota dengan slogan Jujur Bertutur Bijak Bertindak ini berjuluk Kota Gurindam Negeri Pantun. Tak salah karena bahasa Indonesia lahir di kota ini. Tepatnya di pulau Penyengat, sebuah pulau di seberang kota Tanjung Pinang dimana disini dilahirkan pujangga kesultanan Riau yang mempopulerkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan: Raja Ali Haji. Karyanya yang melegenda adalah Gurindam 12.

Semoga pantun tak akan hilang di bumi. Selamat!

Daftar Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang Diakui UNESCO
1. keris (2008)
2. pertunjukan wayang kulit (2008)
3. batik (2009)
4. pendidikan dan pelatihan batik (2015)
5. alat musik angklung dari Jawa Barat (2010)
6. tari Saman dari dataran tinggi Gayo, Aceh (2011)
7. ras serbaguna noken, kerajinan masyarakat Papua (2012)
8. tiga genre tari tradisional Bali: tari sakral, tari semi sakral, dan tari hiburan (2015)
9. kapal Pinisi, seni membuat kapal di Sulawesi Selatan
10. tradisi pencak silat (2019)
11. pantun (2020)

Referensi:
https://ich.unesco.org/en/lists?text=&country%5B%5D=00104&multinational=3#tabs
https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/pantun
https://www.antaranews.com/infografik/1904216/pantun-jadi-warisan-budaya-takbenda-dunia

dari Bintan ke Melaka
singgah dulu di Sumatera
mari kita berbahagia
pantun kini telah mendunia


Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s