Palu Arit di Negeri Jambi

Hari ini provinsi Jambi berulang tahun ke-64. Dulu ia adalah salah satu karesidenan dari provinsi Sumatera yang beribukota di Bukittinggi. Sumatera kemudian pecah lagi menjadi beberapa provinsi termasuk Sumatera Tengah yang pecah lagi menjadi Riau, Jambi dan Sumatera Barat. Lantas, apa hubungannya dengan partai palu arit?

Benar sekali, partai terlarang yang jika disebut namanya menguarkan aroma seram itu sempat menorehkan jejak di Jambi. Jika di tanah Jawa ia identik dengan pemberontakan yang berakhir dengan pembantaian, di Jambi ia adalah salah satu anasir parpol di balik perjuangan berdirinya provinsi Jambi.

Tulisan ini bukanlah untuk menunjukkan sisi positif partai komunis tersebut atau mendukung paham komunisme di Jambi. Melainkan sebuah kisah sejarah di Jambi yang tak banyak orang tahu. Deddy Rachmawan atau saya biasa memanggil bang Deddy menuliskan tentang komunisme di Jambi dalam buku berjudul Jejak PKI di Tanah Jambi dan Jejak Sejarah Lainnya (Salim Media: 2020). Foto dipinjam dari sini.

Sebatas keberadaan partai komunis, tak dibahas lagi sepak terjang komunisme di Jambi. Semoga memang tak ada kisah tragis terkait mereka di Jambi.

Bang Deddy seorang jurnalis di harian Tribun Jambi. Saya mengenal bang Deddy sejak bergabung di grup WA Travel Blogger Jambi. Sayang belum sempat kopi darat di Jambi saya sudah pindah ke Jawa.

Buku ini berisi kumpulan kisah sejarah di Jambi. Di bagian pendahuluan, bang Deddy awalnya tidak akan menggunakan kata-kata PKI. Hanya saja, menjelang akhir penulisan, beliau menemukan fakta sejarah baru eksistensi partai ini di Jambi. Alhasil nama partai ini dibuat menjadi judul. Hasan Basri Agus, mantan gubernur Jambi memberikan testimonial buku ini sebagai kumpulan fragmen ataupun sejarah yang butuh kepingan lainnya agar saling melengkapi.

“Kita perlu menjadi bagian dari sejarah. Menjadi pelaku atau menulisnya. Selamat membaca Bang Djangki, Deddy”

Di buku setebal x (sepuluh) dan 167 halaman ini, bang Deddy bercerita banyak hal tentang sisi lain sejarah Jambi yang barangkali banyak orang belum tahu, termasuk saya. Ada beberapa fakta sejarah Jambi yang saya tahu, tetapi jauh lebih banyak yang saya belum tahu.

Beragam kisah diuntai mulai dari zaman prasejarah di Kerinci dan Merangin, masa klasik, perjuangan mempertahankan kemerdekaan hingga perkembangan dunia jurnalisme di Jambi, termasuk koran dan radio di kota Jambi. Kisah sejarah yang diceritakan dengan ringan dan menarik khas jurnalis profesional.

Berikut beberapa yang menurut saya sangat menarik.

Sesar Kolom Koto Tapus yang Dikira Candi

Kisah Jambi masa prasejarah tak bisa lepas dari Kerinci dan Merangin. Terutama peninggalan berupa megalit bernama batu larung. Peninggalan berupa batu-batuan menyerupai susuna batu raksasa di Koto Tapus, Jangkat awalnya dikira buatan manusia. Penelitian menunjukkan bahwa batuan yang diketahui bernama sesar kolom tersebut merupakan sisa letusan gunung Masurai purba tahun 33.000 tahun lalu.

Naskah Melayu Tertua di Dunia

Siapa sangka naskah berbahasa Melayu tertua ada di Kerinci, tepatnya di desa Tanjung Tanah, Danau Kerinci. Kitab Undang-undang Tanjung Tanah, naskah Melayu Tertua tersebut disimpan di kediaman Syofyan Ibrahim, ketua adat desa Tanjung Tanah. Penelitian Uli Kozok dengan bantuan laboratorium di Tokyo pada tahun 2004 menunjukkan naskah tersebut ditulis pada abad ke-14, sebelum Islam masuk Kerinci.

Arca Tanpa Kepala dari Tebo

Tak banyak yang tahu Tebo merupakan daerah dengan peninggalan era klasik yang cukup banyak. Salah satunya yaitu berupa arca Buddha yang ditemukan di Betung Bedarah, Tebo Ilir dan arca tanpa kepala di desa Teluk Kuali, Tebo Ulu. Arca tanpa kepala ini ditemukan CV Alas Kusuma sewaktu pembuatan jalan sebagai tempat pengumpulan kayu (logpond).

Keris Siginjai yang Susah Direplikasi

Keris Siginjai yang dibuat monumennya di kawasan bundaran Kota Baru (eks Monas) merupakan senjata kesultanan Jambi yang paling terkenal. Bersama dengan Senja Merjaya, kedua keris ini sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Jika Siginjei merupakan warisan Orang Kayo Hitam, Senja Merjaya adalah hadiah Sultan Palembang atas penikahan putrinya dengan Sultan Jambi.

Saat akan dibuat replika untuk koleksi Museum Siginjei, banyak ahli pembuat kerisdi Jakarta dan Jogja menyerah karena tak mampu membuat replikanya. Utamanya pada bagian hiasan keris yang bernama Anggrek Kamorangan Kinatah, motif hiasan berupa bunga anggrek dari emas dan hiasan permata 16 buah. Seorang ahli keris dari Solo akhirnya mampu membuat replika keris Siginjei.

Orang Minang di Jambi

Berkunjung ke Jambi termasuk ke pelosok daerah terpencil, akan banyak ditemukan rumah makan Padang. Tanya menyeruak sejak kapan orang Minang berada di Jambi. Kaitan tentang banyaknya orang Minang di Jambi dituliskan dengan beberapa judul.

“Daerah yang aman dan makmur,” ujar Soekarno tentang Jambi. Hal ini pula yang mendorong migrasi orang Minang ke Jambi pada tahun 1729 pada masa Sultan Astra Ingalaga. Mereka datang untuk menambang emas di Tebo.  Tak hanya menambang, mereka juga berdagang dan duduk di pemerintahan.

Bung Hatta mencatat hal ini dalam Memoir (1979) yang dicetak ulang dengan judul “Untuk Negeriku, sebuah Otobiografi (2011)” dalam perjalanan dinas dari Palembang ke Jambi. Dari 20 anggota DPR Jambi, 12 orang berdarah Minang. Saat ditanyakan kenapa pejabat pemerintah rata-rata juga orang Minang. Hal ini dikarenakan warisan kolonial Belanda dan Jepang, dan orang Jambi pun tak mempermasalahkan hal ini. Saat itu jumlah penduduk Sumbar lebih banyak dari Riau dan Jambi dan pendidikan mereka lebih maju.

Haji Karet dan Haji Singapura

Sejarah mencatat, pada tahun 1890-1925 jemaah haji dari Hindia Belanda paling banyak dari Jambi, disusul Bangka, Palembang dan Sumatera Timur. Hal ini menurut catatan Konsulat Belanda di Jeddah yang dibuka oleh pemerintah kolonial tahun 1869 khusus untuk mencatat jumlah jamaah haji dari Hindia Belanda ke Arab Saudi.

Sebutan haji karet bagi jamaah haji asal Jambi karena pulang dari ibadah haji, mereka membeli bibit karet di Singapura untuk ditanam di Jambi. Sedangkan haji Singapura merupakan ejekan bagi orang yang pura-pura beribadah haji, tetapi sebetulnya mereka hanya berdiam diri di Singapura, lantas pulang ke Jambi sambil membawa oleh-oleh haji berupa kurma dan air zam zam yang dibeli di Singapura.

Sejarah Pers di Jambi

Latar belakang bang Deddy sebagai jurnalis membuat sejarah pers di Jambi terutama surat kabar dan radio mendapat porsi cukup banyak. Tahun 1921 terbit surat kabar pertama di Jambi bernama Jambische Dagblad. Surat kabar pertama yang terbit di Jambi setelah kemerdekaan adalah Peristiwa yang terbit tahun 1958.

Pahlawan Daerah Jambi

Sultan Thaha adalah satu-satunya pahlawan nasional dari Jambi sebelum ditetapkannya Raden Mattaher pada tahun 2020 oleh presiden Jokowi. Tak banyak yang tahu dan peduli sepak terjang pahlawan daerah Jambi.

Ada R. Husin Akip, pejuang yang pada hari Rabu, tanggal 22 Agustus 1945 mengibarkan merah putih di Menara Air Benteng Jambi, bangunan tertinggi di Jambi kala itu.

Lantas Letnan Dua HA Thaib Hanafiah, lahir di Sarolangun, seorang prajurit BKR dan kepala staf KODM Kuala Tungkal yang juga sahabat Kolonel Abundjani dan menjadi wakil ketua DPR GR Jambi. Ia sempat difitnah meninggalkan pertempuran di Kuala Tungkal lantas kabur ke Labuhan Dagang.

Hoessin Saad, mantan bupati Bungo Tebo yang rumahnya masih bisa dilihat di jalan Hoessin Saad, Muara Bungo. Lahir di Lubuk Landai, 29 September 1924. Lulus dari Vervlogschool Muara Bungo dan melanjutkan pendidikan di  INS Kayu Tanam di Padang. Seorang ketua penyelidik TKR di Muara Bungo tahun 1945 dan setelah tak aktif di militer menjadi bupati Bungo Tebo tahun 1968-1975.

Dirgahayu provinsi Jambi, semoga makin Jaya!


6 respons untuk ‘Palu Arit di Negeri Jambi

  1. Menarik, nukilan sebagian isi buku karya Bang Deddy.. Sejarah Jambi sebagaimana propinsi lainnya menarik untuk dibaca. Perjuangan rakyat Jambi juga harus diapresiasi.

    Sejarah orang Minang di Jambi memang panjang. Bahkan suku anak dalam kalau ditanya mereka mengaku keturunan dari Pagaruyung.

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s