Sumatera, Saya Pamit!

Perjalanan meninggalkan Sumatera menuju Jawa dimulai
Saya tak ingin buru-buru meninggalkan Sumatera
Rute panjang Muara Bungo-Sungai Penuh-Padang saya lalui
Tak ada yang namanya membuang waktu

Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk berterimakasih atas segala kebaikan di pulau Sumatera Mungkin saja saya belum siap untuk berpisah?

Saya duduk di kursi depan di sebelah sopir. Rencana mau kirim paket terakhir ke Indah Cargo dilanjutkan dengan menunggu travel di kafe Herman sekalian pamitan buyar. Travelnya datang jam 7 malam, sejam lebih cepat dari jadwal keberangkatan semula. Saya hanya sempat berpamitan dengan budhe Is, pakdhe Heri, mba Yuni dan bang Yuli tanpa sempat bertemu Herman dan menitipkan kunci rumah dan gudang. Sedih rasanya.

Masih ada barang-barang termasuk cenderamata dari KP2KP dan KPP yang belum saya packing. Jika saya bawa semua masuk pesawat sepertinya akan membuat bagasi saya over weight. Barang-barang tersebut rencana akan saya paketkan di Sungai Penuh.

Mobil melaju kencang. Meninggalkan Muara Bungo menuju Kerinci. Terbayang kemarin saya pulang cuti ke Jawa Tengah, lalu balik lagi ke Muara Bungo. Dua hari kemudian keluar pengumuman saya pindah kantor ke Jawa. Rasanya semua berlangsung cepat tanpa saya bisa menolak. Namun, mungkin inilah firman-Nya. Tidak ada yang terlalu cepat maupun lambat. Semua akan indah pada waktunya. Oh Tuhan Yang Maha Kuasa, berilah kelancaran dalam semua perjalanan ini. Amien. 

Di Kerinci rencana saya akan menginap di rumah Fadli di Hiang. Saya kenal Fadli dari Poppy, teman jalan-jalan waktu saya tinggal di Sungai Penuh beberapa tahun silam. Selain berjumpa Fadli dan Poppy, agenda lain di Sungai Penuh yaitu berpamitan dengan teman-teman lama di KP2KP Sungai Penuh, mas Hendi dan Luke, yang juga teman jalan-jalan semasa di Kerinci. 

Beruntung dapat sopir travel yang ramah dan suka mengobrol. Rumahnya di Pulau Sangkar, di tepi sungai Batang Merangin. Si sopir bahkan masih saudara jauh dengan pak Azhar, salah seorang rekan kerja di Bangko.

Saya terlelap dalam mimpi. Satu setengah jam perjalanan saya tiba di Bangko. Melintasi gedung kantor lama di tepi jalan lintas, hati saya tak bisa bohong sedih meninggalkan Bangko tanpa sempat berpamitan dengan teman-teman lama di Bangko. Terimakasih dan selamat tinggal Bangko, kota yang pernah saya tinggali selama 5 tahun dari total 12 tahun tinggal di Sumatera.

Melewati Pasar Bawah, Pasar Atas, lewat Simpang Pulau Rengas di jalan yang meliuk-liuk saya sudah tak ingat apa-apa lagi. Tahu-tahu mobil belok dan berhenti untuk beristirahat di Muaro Imat (Muara Hemat). Ah saya tiba di Kerinci, rumah makan Pondok Bambu. Semua travel tujuan Kerinci akan singgah di Muaro Imat, desa pertama di Kerinci dari arah Bangko yang berada di tepi Taman Nasional Kerinci Seblat. Masih sejam lagi hingga tiba di rumah Fadli.

Biasanya saya biasanya melewatkan makan nasi jika istirahat naik travel, terlebih jika sudah larut malam. Tapi tidak dengan rumah makan Pondok Bambu. Makan nasi panas, ayam goreng kampung panas dan rendang di malam yang dingin. Nikmatnya.

Kekenyangan makan membuat saya tertidur di mobil. Sempat terlihat lampu-lampu di tepian danau Kerinci hingga tak sadarkan diri dan dibangunkan sopir ketika masuk wilayah Hiang, dekat rumah Fadli. Jam 2 pagi saya lihat di gawai.

Fadli menjemput saya di dekat masjid Akbar desa Hiang. Ngobrol sebentar di ruang tidur tamu dengan Fadli lalu saya minta izin tidur.

Udara pagi Kerinci terasa sangat menusuk badan. Mori istri Fadli rupanya sudah menyiapkan hidangan spesial. Jadilah kami sarapan lontong sayur, roti canai, martabak manis yang dibeli dari pasar. Hari Kamis merupakan hari balai atau hari pasaran di Hiang. Saya meminta Fadli memesankan travel ke Padang untuk besok pagi, sayang belum ada kepastian dari travel karena sejak pandemi travel yang berangkat pagi hanya akan berangkat jika penumpang cukup banyak. Penumpang lebih banyak yang berangkat malam.

Dasar masih ngantuk, saya izin tidur lagi sementara Fadli berangkat ke kantor di Puskesmas Hiang dan Mori ada acara pengajian di masjid Akbar. Saya pinjam motor Fadli untuk ke Sungai Penuh.

Tujuan pertama saya akan mengirim barang lewat Indah Cargo. Jalan baru terputus karena digenangi banjir. Jadinya saya lewat jembatan Tanah Kampung. Persawahan yang digenangi banjir disambung dengan pegunungan Bukit Barisan yang menjadi pemandangan kota Sungai Penuh. Banjir yang indah.

Lanjut ke KP2KP Sungai Penuh, kantor lama saya. Sayang tak sempat jumpa Eri yang sedang cuti ke Jogja dan mas Mujiman yang sedang ada acara keluarga ke Kebun Baru Lempur. Untung ada mbak Dewi dan Adit dan Sangab. Belum sempat berjumpa dengan kepala kantor yang baru karena sedang ada zoom.

Banyak perubahan yang terjadi di kantor, baik kantor maupun rumah dinas. Bekas kamar saya yang berada di bagian belakang rumah dinas, tepatnya di samping dapur kini menjadi dapur bersih. Bekas ruang kerja saya kini dijadikan mushola. Sebelum pamit untuk makan siang, mbak Dewi menyuruh saya kembali ke kantor untuk mengambil oleh-oleh.

Agenda selanjutnya yaitu makan siang dengan Luke di Korintji Heritage. Luke asli Pennsylvania, Amerika tapi sudah 10 tahun tinggal di Kerinci. Saking cintanya dengan Indonesia khususnya Kerinci, Luke membuat perusahaan travel yang bergerak di bidang ekowisata di Kerinci.

Luke memesan nasi goreng dan french press, saya memesan lobster air tawar goreng masak Prancis dan V60. Sedapnya. Melihat kota Sungai Penuh dari ketinggian, makan dan minum kopi. Bakalan kangen dengan tempat ini.

Luke punya seorang istri dan tiga orang anak. Sedih ketika saya mengatakan harus pindah dari Sumatera dan tak tahu kapan akan berjumpa lagi. Bersama Luke, saya dulu punya sahabat saya jalan-jalan di Sungai Penuh antara lain Poppy, Hendi dan tante Iie. Sebelum pulang, Luke memberi saya tiga bungkus kopi. Terimakasih.

Sebelum kembali ke rumah Fadli saya mutar-mutar sebentar di Sungai Penuh. Mampir ke masjid agung Pondok Tinggi, lapangan Merdeka, tugu Adipura, pasar Beringin. Mampir ke KP2KP untuk berpamitan dengan kepala KP2KP yang baru, mengambil oleh-oleh dari mbak Dewi lalu pulang ke rumah Fadli.

 

Melewati gerbang selamat jalan Kota Sungai Penuh yang menjadi batas antara Kec. Tanah Kampung (Sungai Penuh) dan Kec. Sitinjau Laut (Kerinci).

Sore saya agenda meet-up dengan Poppy di Sungai Tutung, tapi saya tak yakin Poppy bisa bertemu karena dia sibuk dengan pekerjaan kantor sejak pandemi melanda. Poppy sendiri bertugas di dinas kesehatan Sungai Penuh. Poppy akhirnya memberi kabar jika ia bisa bertemu sore ini. Saya dan Fadli motoran ke rumah Poppy. Sebelum tiba di rumah Poppy, saya melihat rumah dengan banner Lentera Muda Kerinci yang sepertinya rumah Yoni.

Rencana habis dari rumah Poppy mau mandi air panas di kolam pemandian yang baru buka. Sayang pemandian tersebut tutup. Poppy sendiri sedang di kebun jadinya kami meet up seadanya di kebun Poppy.

Perjalanan pulang ke Hiang ketika motor Fadli berbelok ke arah bukit, saya pikir Fadli akan menuju ke rumah seseorang atau ke ladang. Jalan semakin menanjak dengan aspal yang berganti menjadi jalan tanah dan tidak rata. Tak ada rumah, hanya ada kebun dan ladang yang sunyi. Saya yang dibonceng di belakang agak ketakutan melihat jurang yang berada di kiri jalan.

Puncak Penawar, tempat yang dituju Fadli. Calon wisata baru yang dirancang menjadi Bukit Khayangan kedua di Kerinci. Kami tidak menuju puncak bukit karena masih cukup jauh. Di sebuah jalan tanah yang kemerahan ditimpa matahari sore, kami turun dari motor dan terdiam melihat warna jingga di bukit Barisan. 

Tak lama kami lantas pulang. Kak Mori sedang mempersiapkan dendeng cabe hijau untuk makan malam.

Saya sedang berkemas-kemas di kamar ketika Fadli dengan agak tergopoh-gopoh memberitahu jika travel ke Padang sudah datang menjemput. Hah, cepat sekali datangnya. Sejam dari perjanjian awal. Sama seperti travel ke Kerinci kemarin. Fadli membungkus martabak manis sisa tadi pagi untuk bekal di mobil.

Dengan terburu-terburu saya naik travel. Hanya sempat berpelukan dengan Fadli tanpa sempat foto bareng.

Tak tidur siang membuat saya pulas di mobil. Usai menjemput semua penumpang, saya tertidur pulas. Terbangun di Siulak Deras, melihat deretan rumah makan yang hampir seluruhnya menjual dendeng batokok. Melintasi Kayu Aro, hanya gelap dan sedikit lampu rumah penduduk yang terlihat. Jika siang, sejauh mata memandang adalah perkebunan teh milik PTPN.

Masuk wilayah Solok Selatan, Sumatera Barat saya kembali tertidur. Tau-tau sudah tiba di sebuah rumah makan, masih di Solok Selatan. Saya mengunyah martabak, tak ingin turun dari mobil. Melihat orang-orang yang makan dan berkerumun tanpa menggunakan masker agak membuat paranoid jika mendengar informasi Sumatera Barat adalah zona merah pandemi.

Saya tidur lagi dan tahu-tahu sudah masuk kota Padang. Saya turun di kosan Aul (aulhowlerDOTcom) di Pasar Baru, dekat kampus Universitas Andalas.

Sebelum berangkat ke Bandara, Aul memberi saya kopi khas Jambi. Katanya ia beli waktu dinas ke Muara Bulian bulan lalu. Terimakasih Aul.

Saya diantar Aul ke bandara naik motor. Sarapan dulu katupek gulai paku (ketupat sayur pakis) dekat kosan. Duh, saya mellow lagi. Ini hari terakhir saya di Ranah Minang dan juga pulau Andalas. Gurihnya gulai paku tak mampu menutupi rasa mellow hati saya.

Berjalan kaki dari parkiran bandara ke terminal, saya berhenti sejenak. Ada perasaan perih di hati menatap terminal bandara. Aul yang heran bertanya mengapa saya berhenti berjalan.

…..

 

Hari ini Aul ada jadwal ngajar di kampus sehingga tidak bisa lama-lama menemani saya di bandara. Foto dulu sama Aul sebelum ia pulang ke kosan. Terimakasih Aul sudah direpoti dan atas kebaikannya selama ini.

Pesawat saya berangkat sesuai jadwal. Naik ke atas pesawat rasanya belum rela meinggalkan Sumatera. Melihat bangunan beratap runcing dari dalam pesawat membuat air mata menggenang di sudut mata.

Pulau Pandan jauah di tangah
Di baliak pulau si Anso Duo
Hancua badan dikanduang tanah
Budi baiak takana juo

Pai ka pulau di Bukik Batu
Pai baranang ka Talao
Pai marantau manuntuik ilmu
Ranah Minang takana juo

Selamat tinggal ranah Minang, selamat tinggal pulau Andalas, terimakasih.


10 respons untuk ‘Sumatera, Saya Pamit!

  1. Perjalanan haru biru meninggalkan Pulau Sumatera. Lama dinas di Jambi, tapi hampir semua propinsi di Sumatera bisa dijelajahi. Kenangan ini akan abadi.Saya ikut haru biru membacanya.

    Rumah makan yang masih di Solok Selatan itu berada di Lolo, Surian. Karena semua mobil travel dari Kerinci berhenti disana. Kenapa gak bangun waktu melewati kampung saya: Muarolabuah. Ambo rindu kampuang tacinto.

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s