Cerita dari Pasar Rimbo Bujang

Saya buka kembali album foto lama yang tersimpan di komputer jinjing. Barangkali ada kisah yang belum saya bagikan tentang Sumatera.

Di folder Dokumen saya menemukan foto-foto pasar desa di Rimbo Bujang.

Di postingan sebelumnya, saya menulis satu pasar dalam sebuah postingan blog. Foto di folder ini jumlahnya tidak banyak dan belum lengkap. Rencana mau blusukan ke pasar lagi buat melengkapi foto yang sudah ada. Apa daya, keburu pindah …

Berjalan-jalan di pasar di Rimbo Bujang tak terasa sedang di Sumatera. Orang-orangnya kebanyakan berbahasa Jawa. Orang selain suku Jawa pun rata-rata mampu berbahasa Jawa ngoko. Bagi kalangan senior mereka bahkan masih mampu berbahasa Jawa krama inggil (bahasa paling halus).

Nuansa Jawa dengan kesederhanan pasar yang umumnya bangunan semi permanen dari kayu dan lantai tanah seolah melempar kenangan pada desa di pelosok Jawa.

Perjalanan blusukan pasar saya mulai dari desa Purwoharjo atau Unit 4. Sebuah tugu menyerupai Tugu Pal Putih di kota Yogyakarta menjadi ikon desa ini. Tulisan Gemilang sebagai penanda warga transmigran disini tak hanya berasal dari Yogyakarta, melainkan juga Magelang dan daerah lain.

Pasar Unit 4 berada di tepi jalan provinsi yang menghubungkan Rimbo Bujang dan Muara Tebo. Ruas jalan utama di desa ini dinamai Jalan Pendowo / jalan Pandawa. Sedangkan nama jalan kampung dinamai menurut nama-nama kesatrian dalam dunia pewayangan seperti jalan Plongkowati, jalan Jodipati, jalan Madukoro.

Pasar ini hanya buka seminggu sekali di hari Selasa. 

 

Satu hal yang saya ingat, di samping pasar ada penjual bakso yang sangat enak. Nama baksonya lupa, yang jelas ada kata Wonogiri dan gerobak baksonya beratap joglo.

Tepat di belakang pasar merupakan lapangan sepak bola. Hiburan gratis bagi warga desa.

Pasar Unit 1 atau desa Perintis hanya buka di hari Minggu. Berada di tepi Jalan 3. Bertemu pasar ini secara tidak sengaja waktu habis dari VII Koto Ilir. 

Pasar Unit 3 atau pasar Desa Rimbo Mulyo buka di hari Sabtu. Berada di jalan 19 tidak jauh dari Mushola Nurul Iman. Yang saya suka dari pasar ini penjual jajanan tradisional cukup mudah ditemui. Gorengan, cenil, lupis, getuk lindri dan lain-lain. 

 

Berikutnya Pasar Rebo yang berada di desa Sapta Mulia atau Unit 7. Sesuai namanya pasar ini hanya buka di hari Rabu.

Favorit saya di pasar ini warung mie ayam Monggo Mampir yang berada di seberang pasar. Mie ayamnya bening dan rasanya medok. Persis dengan mie ayam di Jawa. Tehnya mantap. Terasa teh melati. Seperti umumnya di Jawa, gula dalam teh tidak diaduk untuk menyesuaikan tingkat kemanisan teh dengan selera masing-masing pengunjung.

Selanjutnya mari beranjak ke kecamatan Rimbo Ilir atau lebih dikenal dengan nama Alai Ilir. Daerah ini bersama dengan Rimbo Ulu merupakan kecamatan baru pemekaran dari Rimbo Bujang. Berbeda dengan kecamatan Rimbo Bujang atau Rimbo Ulu dimana penduduknya berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Yogyakarta, hampir seluruh warga Rimbo Ilir berasal dari Wonogiri. Mereka pindah ke Rimbo Ilir sebagai akibat pembangunan waduk Gajah Mungkur yang menenggelamkan desa mereka. Sebagian desa di kecamatan ini dinamai Giriwinangun dan Giri Purno, sebagai pengingat asal usul warga.

Rimbo Ilir merupakan kawasan di kabupaten Tebo dimana banyak dijumpai rumah beratap joglo. Saya pernah iseng menghitung. Jumlahnya lebih dari 10. Mungkin belasan atau puluhan. Mulai dari Giriwinangun (Unit 15) hingga Sumber Agung (Blok E) masih banyak ditemui rumah-rumah tradisional Jawa ini.

Ada dua pasar yang pernah saya datangi. Pertama pasar blok C yang berlokasi di jalan Anggur desa Karang Dadi. Nama jalan di desa ini mengambil nama-nama buah. Pasar blok C merupakan pasar terbesar di Rimbo Bujang Raya setelah pasar Sarinah. Pasar ini buka seminggu sekali. Jika tidak salah buka setiap hari Rabu dan Minggu.

Berbeda dengan pasar lainnya yang berupa bangunan semi permanen. Pasar Blok C sebagian besar berupa ruko permanen dengan jalan aspal yang bagus.

Terakhir adalah pasar unit 15 atau desa Giriwinangun. Pasar desa berada di tepi jalan Semarang yang merupakan jalan poros antara Rimbo Bujang dan Muara Tebo. Tidak jauh dari jalan Purwokerto atau kantor kepala desa. Nama-nama jalan desa dinamai menurut nama kota di Jawa Tengah. Ada jalan Yogyakarta (meski bukan di Jawa Tengah), jalan Semarang, jalan Magelang. Bahagia menemukan nama jalan Salatiga dan Boyolali yang merupakan kampung orang tua dan mertua di Jawa Tengah!

***

Kab. Semarang, 16 Desember 2020


2 respons untuk ‘Cerita dari Pasar Rimbo Bujang

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s